Pilu Eks Pekerja Migran Sukabumi, Depresi hingga Terkurung 'Kandang'

Syahdan Alamsyah - detikNews
Senin, 27 Des 2021 13:15 WIB
Eks pekerja migran di Sukabumi depresi hingga dikurung dalam kandang
Eks pekerja migran di Sukabumi depresi hingga dikurung dalam kandang (Foto: Istimewa)
Sukabumi -

Nasib kurang baik dialami Wiwin Winarni (33), ibu satu anak eks buruh migran itu kini terpaksa hidup di ruangan kayu ukuran 2,3 x 3 meter persegi, mirip kandang. Wiwin sudah menempati ruangan kayu itu selama 3 bulan terakhir.

Nasib warga Kampung Pasirbitung, Desa/Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi itu kini menjadi sorotan setelah salah seorang kerabat yang juga relawan sosial mengunggah cerita soal Wiwin ke media sosial. Aparat pemerintahan desa, kecamatan dan Puskesmas berbondong mendatangi lokasi itu.

"Sebelumnya mereka (aparat pemerintah) sudah tahu, bahkan pernah melarang di posting entah apa alasannya. Namun kasus ini sudah sampai media sosial, dalam unggahan saya tidak menyebut atau menyudutkan siapapun hanya mengatakan bantuan pemerintah minim, bukan berarti tidak ada," kata Nurjaman, relawan sekaligus paman Wiwin kepada detikcom, Senin (27/12/2021).

Nurjaman tidak menampik, kondisi keponakannya yang kini hidup di dalam tempat kayu mirip kandang. Hal itu menurutnya terpaksa dilakukan atas pertimbangan keluarga dan lingkungan sekitar karena Wiwin sering mengamuk dan merusak.

Nurjaman juga mengisahkan, kondisi Wiwin sakit usai keberangkatan ke Timur Tengah pada 2006 silam. Dia diduga mengalami depresi dan mengalami gangguan kejiwaan, namun tidak lama setelah itu dia sembuh berangkat lagi menjadi TKW dan kemudian kembali sakit. Hal itu berulang sampai 4 kali kejadian.

"Dari kepulangan setelah Iedul Fitri 2020 sempat agak tidak terlalu bahaya, biasa adaptasi hidup normal seperti biasa ya ibu rumah tangga mengurusi anaknya ya. Nah 3 bulan terakhir karena dinilai membahayakan orang lain, akhirnya pihak keluarga dan lingkungan sekitar inisiatif mengurungnya, begitu," ujar Nurjaman.

Soal penyebab depresi, Nurjaman menyebut Wiwin pernah bercerita penganiayaan yang dialaminya saat bekerja menjadi buruh migran pertamakali di tahun 2006. Namun pengakuan itu tidak sepenuhnya ditelan bulat-bulat oleh Nurjaman.

"Untuk penyebab depresi kejadian pertama, dia pernah mengaku mengalami siksaan di sana (Timteng) tahun 2006. Penyebab dari situ, tapi kita tidak percaya 100 persen karena yang ditanya ini orangnya mengalami gangguan kejiwaan ya. Khawatir namananya orang sedang dalam gangguan kita tidak bisa mempercayai begitu, waktu itu dia mengaku kepalanya dibenturkan, pernah dikasih minum obat dan sebagainya," beber Nurjaman.

Keluarga sebenarnya dikatakan Nurjaman tidak tega mengurung Wiwin, pengobatan berulang kali hingga mendatangi orang pintar tak juga kunjung membuahkan hasil. Atas pertimbangan itulah akhirnya Wiwin terpaksa menghuni kandang kayu.

"Ukurannya 2,5 kali 3 meter, semuanya dari kayu karena kalau dari bambu pasti merusak. Kami berharap yang terbaik, penyebab kenapa seperti ini karena ketiadaan biaya, karena keterbatasan orang tua untuk pengobatan sudah habis rumah, sawah terjual. Saat ini berharap negara untuk hadir mengatasi ini," pungkasnya.

(sya/mud)