ADVERTISEMENT

Menengok Bangunan Tua Eks Stasiun Kereta Tanjungsari-Sumedang

Nur Azis - detikNews
Minggu, 19 Des 2021 21:14 WIB
Bangunan Tua Eks Stasiun Kereta di Sumedang
Bangunan eks Stasiun Kereta di Sumedang. (Foto: Nur Azis/detikcom)
Sumedang -

Sebuah papan seng bertuliskan 'TANDJOENGSARI 885' tampak samar di sisi tembok sebuah bangunan tua di Jalan Staat Spoors, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Bangunan tersebut kini difungsikan sebagai Gedung Juang 45 Tanjungsari.

Informasi dihimpun detikcom, gedung itu dulunya merupakan bekas stasiun kereta api pada masa pendudukan Belanda di akhir abad 19. Bangunan itu terletak tidak jauh dari Alun-alun Tanjungsari di ketinggian +855 meter.

Stasiun Tanjungsari dulunya bagian dari proyek jalur perlintasan kereta api Belanda yang menghubungkan wilayah Rancaekek, Jatinangor, Tanjungsari, Citali hingga ke Sumedang. "Iya kalau kata orang tua sih, Gedung Juang 45, katanya bekas stasiun kereta api," ucap Doni, warga setempat kepada detikcom, Minggu (19/12/2021).

Bangunan Tua Eks Stasiun Kereta di SumedangSeng bertuliskan 'TANDJOENGSARI 885' tampak samar di sisi tembok sebuah bangunan di Jalan Staat Spoors, Sumedang. (Foto: Nur Azis/detikcom)

Kata orang tuanya, lanjut Doni, kereta yang melintas ke Tanjungsari diperuntukkan untuk membawa hasil bumi. "Konon kereta itu buat mengangkut hasil perkebunan mulai dari Rancaekek, Jatinangor sampai Tanjungsari," ujarnya.

Dalam buku Indische Spoorweg Politiek atau Politik Perkeretaapian Hindia (S.A Reitsma,1925), disebutkan jalur Rancaekek, Jatinangor, Tanjungsari, Citali hingga ke Sumedang merupakan jalur yang dibangun untuk memperkuat pertahanan Belanda di Pulau Jawa.

Pada tahun 1917/1918, Jalur Rancaekek hingga Jatinangor sudah dioperasikan. Sementara untuk jalur Jatinangor hingga Citali hampir selesai pengerjaannya.

Jalur kereta api yang direncanakan sampai hingga Sumedang nyata mengalami kendala. Pasalnya, jalur dari Citali ke Sumedang memiliki medan yang cukup menantang lantaran banyaknya jurang dan pegunungan. Pemerintah Hindia Belanda pun kala itu mengalami krisis keuangan.

Menurut buku itu, dalam membangun jalur Citali-Sumedang, diperlukan anggaran sebesar 4,5 juta gulden. Anggaran itu belum termasuk anggaran persiapannya sebesar 500 ribu gulden.

Padahal, jika jalur Sumedang selesai dibangun, akan dilanjutkan untuk pembukaan jalur Sumedang - Kadipaten, Majalengka. Lalu, jalur penghubung antara Bandung dan Cirebon.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT