ADVERTISEMENT

Kaleidoskop 2021

Pilu Ayah Digugat Anak Rp 3 M dan Kasus Valencya Gegerkan Publik

Yuda Febrian Silitonga - detikNews
Kamis, 16 Des 2021 08:14 WIB
Kasus Anak Gugat Ayah Berdamai dan Valencya Bebas
Foto: dok.detikcom

Valencya Dituntut Gegara Omeli Suami

Pada Kamis (11/11/2021) lalu, publik dihebohkan dengan perkara Valencya yang dituntut 1 tahun penjara gegara omeli suami mabuk oleh Jaksa Penutut Umum (JPU). Dalam sidang pembacaan tuntutan, Valencya terbukti bersalah oleh JPU terhadap suaminya Chan Yu Ching asal Taiwan.

"Jadi kasus ini masuk dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) bahwa diperoleh diperoleh fakta-fakta melalui keterangan saksi dan alat bukti bahwa Valencya terbukti jadi terdakwa dengan dijerat Pasal 45 ayat 1 Junto pasal 5 huruf b," ungkap JPU Glendy Rivano usai persidangan pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri (PN) Karawang.

Valencya merasa dikriminalisasi dalam pembacaan nota pembelaanValencya merasa dikriminalisasi dalam pembacaan nota pembelaan. (Foto: Yuda Febrian Silitonga/detikcom)

Glendy mengatakan suami mengaku diusir dan juga dimarahi dengan kata-kata kasar hingga terganggu psikisnya. "Jadi suamimya ini diusir dan dimarahi dengan kata-kata kasar," katanya.

Usai sidang pembacaan tuntutan tersebut. Perkara Valencya disoroti berbagai kalangan. Dari mulai selebritis, pengamat hukum, politisi dan wakil rakyat. Belum sepekan berlalu, pada Senin (15/11/2021) malam, Kejagung akhirnya merespon perkara Valencya.

"Penanganan perkara terdakwa Valencya dan juga terdakwa Chan Yu Ching akan dikendalikan langsung oleh Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum, karena hal ini telah menarik perhatian masyarakat dan pimpinan Kejaksaan Agung," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak melalui siaran langsung di kanal YouTube Kejaksaan RI.

Eksaminasi Jaksa

Jaksa Agung ST Burhanuddin juga melakukan eksaminasi khusus terhadap para jaksa yang menangani perkara Valencya.

"Bapak Jaksa Agung Muda tindak pidana umum bergerak cepat sebagai bentuk program quick wins dengan mengeluarkan surat perintah jaksa agung muda tindak pidana umum untuk melakukan eksaminasi khusus terhadap penanganan perkara atas nama terdakwa Valencya alias Nancy Lim yang hari ini dilaksanakan di Gedung Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Kejagung sejak pagi hari hingga sore hari tadi," tutur Leonard.

Leonard menyebut eksaminasi khusus itu dilakukan dengan mewawancarai sembilan jaksa dari Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Kejaksaan Negeri Karawang, dan tim jaksa penuntut umum yang masuk P16a.

"Pelaksanaan eksaminasi khusus yang dilakukan Jaksa Agung Tindak Pidana Umum telah dilakukan dengan mewawancarai sebanyak 9 orang, baik dari Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Kejari Karawang, serta JPU yang masuk dalam P16a," ungkapnya.

Valencya Bebas

Setelah diambil alih Kejagung, dalam sidang replik perkara Valencya di PN Karawang, pada Selasa (23/11/2021). JPU kejaksaan Agung membatalkan tuntutan satu tahun penjara terhadap Valencya. Dan meminta Valencya bebas. Jaksa menilai Valencya tidak terbukti bersalah dalam perkara dugaan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

"Berdasarkan pertimbangan. Jaksa Agung selaku penuntut umum tertinggi menarik tuntutan jaksa penuntut umum yang dibacakan terhadap diri terdakwa Valencya," ucap JPU saat membacakan replik.

Jaksa lantas membacakan rincian tuntutan yang diubah. Jaksa menilai Valencya tidak terbukti secara sah melakukan tindak pidana psikis sesuai dengan Pasal 45 KUHP tentang penghapusan KDRT.

"Membebaskan terdakwa Valencya alias Nengsy Lim dari segala jenis tuntutan," kata dia.

Valencya menangis saat divonis bebas majelis hakimValencya menangis saat divonis bebas majelis hakim. (Foto: Yuda Febrian Silitonga/detikcom)

Setelah itu, Valencya divonis bebas oleh hakim. Dalam sidang putusan, majelis hakim yang dipimpin oleh hakim ketua, Ismail Gunawan, dengan susunan anggota majelis hakim, Selo Tantular dan Arif Nahumbang Harahap, menilai Valencya tidak terbukti secara sah bersalah melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) secara psikis sebagaimana dalam dakwaan jaksa.

"Terdakwa Valencya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan penuntut umum. Membebaskan terdakwa dari dakwaan penuntut umum. Memulihkan hak hak terdakwa dalam kedudukan harkat martabatnya," ucap Ismail, selaku ketua majelis hakim, saat membacakan putusan, Kamis (2/12/2021) di PN Karawang.

Tuntutan ulang yang dilakukan jaksa terhadap Valencya ternyata hal pertama dalam sejarah di Indonesia. Memang diketahui hampir tidak pernah bila jaksa penuntut umum sampai membatalkan tuntutannya dalam suatu sidang.

"Ya ini baru pertama," kata Kapuspenkum Leonard Eben Ezer Simanjuntak usai sidang putusan vonis bebas Valencya.


(bbn/bbn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT