ADVERTISEMENT

Kisah Pria Difabel di Bandung Barat Sukses Bisnis Olahan Pisang

Whisnu Pradana - detikNews
Jumat, 10 Des 2021 16:24 WIB
Kisah pria difabel di Bandung Barat sukses bisnis olahan pisang
Kisah pria difabel di Bandung Barat sukses bisnis olahan pisang (Foto: Whisnu Pradana)
Bandung Barat -

Menjadi penyandang disabilitas tak serta merta membuat Uwes Kurni (38) warga Kampung, Desa Cisomang Barat, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat meratapi hidup dan berpangku tangan pada belas kasih orang lain.

Sebaliknya Uwes justru memiliki semangat layaknya orang normal. Ia melakoni berbagai profesi demi menyambung hidup supaya tak membebani orang lain. Mulai dari membuat sabun cair, berdagang kripik singkong, hingga sekarang membuat makanan olahan berbahan dasar pisang.

Tak terasa sudah hampir tiga bulan Uwes terus menekuni usaha olahan pisang miliknya. Usaha itu dijalaninya bersama dua orang temannya yaitu Iik dan Tajudin yang juga sama-sama penyandang disabilitas.

"Alhamdulillah sekarang sedang proses produksi sale dan kripik, makanan olahan pisang Awalnya itu ada orang datang ke saya menawarkan modal buat usaha. Dia tanya mau usaha apa, saya bilang mau bikin sale pisang," ungkap Uwes kepada detikcom, Jumat (10/12/2021).

Permintaan sale pisang olahannya kini cukup menjanjikan, padahal usahanya baru seumur jagung. Untuk pemasaran, ia memanfaatkan koneksi personal dengan menitipkan produknya di warung-warung di dekat rumahnya. Bahkan sudah ada juga produknya yang mejeng di warung di daerah Banjaran, Sukabumi, hingga Bekasi.

"Alhamdulillah terus ditekuni saja. Mungkin memang sudah rezekinya di usaha sale pisang. Jadi saya titip ke warung tetangga, tapi mulai ke luar daerah juga," terang Uwes.

Uwes, Iik, dan Tajudin saling berbagi peran dalam memproduksi sale pisang. Ada yang bertugas memilah bahan, mengupas kulit pisang, membelah pisang menjadi dua bagian, menjemur, hingga menggorengnya di atas loyang.

"Tapi kami dibantu juga tetangga yang seorang ustad, kebetulan beliau sempat bikin sale juga. Kita produksinya juga menggunakan rumah beliau yang kosong. Kalau pemasaran sama Kang Iik, karena dia sudah terbiasa pulang pergi ke pasar, saya urusan produksi," jelas Uwes.

Motivasinya bekerja keras sampai sekarang sambil menekuni berbagai usaha karena tidak ingin merepotkan orang lain dan memilih hidup mandiri. Terlebih lagi Uwes memiliki keponakan yang sudah tidak mempunyai ibu.

"Saya ingin mandiri dan tidak merepotkan orang lain, punya penghasilan sendiri. Bahkan kalau bisa saya bisa berguna untuk orang lain," jelas Uwes.

Uwes sedikit bercerita masa lalunya, kala fisiknya masih normal tanpa kekurangan apapun. Ia sempat bekerja di sebuah proyek bangunan di Jakarta. Namun kecelakaan menimpanya tatkala kakinya terhimpit crane saat ia berumur 24 tahun. Setahun kemudian Uwes harus rela kakinya diamputasi karena mengalami pembusukan.

Setelah dioperasi Uwes hanya berdiam diri di rumahnya karena trauma. Ia bahkan tidak mau bertemu orang lain selama setahun hingga puncaknya gagal menikah. Untuk menghilangkan kejenuhan ia kemudian mencari penghasilan dengan membuka usaha jualan pulsa meski akhirnya bangkrut.

"Setelah itu, ada teman dari Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) yang mendorong dan mengajak saya bangkit hingga bisa melupakan kejadian itu," tutur Uwes.

Uwes berharap pemerintah bisa membantu dalam hal pemberdayaan ekonomi bagi penyandang disabilitas. Banyak potensi yang bisa dikembangkan agar mereka mandiri dan tidak selalu tergantung orang lain.

"Banyak teman-teman yang menjalankan usaha, makanya kami minta tolong pemerintah bisa melihat langsung kondisi di sini. Minimal dibantu pemasaran," pungkas Uwes.

(mud/mud)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT