Pustaka Jabar

Cerita Dua Penggal Jalan Umum Beraspal Pertama di Bandung

Yudha Maulana - detikNews
Rabu, 08 Des 2021 13:12 WIB
Peta Dua Penggal Jalan Umum Beraspal Pertama di Bandung
Peta Bandung tempo dulu. (Sumber peta: Leiden University Libraries Digital Collections)
Bandung -

Jalan Kota Bandung kini mulus, pengendara nyaman melintas meski kadang masih ada lubang-lubang yang membuat perjalanan lebih menantang. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung pada 2018 lalu merilis bahwa 1.172,78 kilometer jalan di Bandung telah telah dilapisi hotmix atau beton.

Kondisi tersebut jauh dibandingkan dengan seabad yang lalu, tepatnya pada tahun 1900-an. Ketika itu jalanan di Bandung masih berupa tanah. Padahal, ketika itu pemerintah Kolonial Belanda menyiapkan Bandung sebagai pusat pemerintahan.

Konon orang-orang di Bandung ketika itu pernah mencoba melapisi permukaan jalan dengan susunan batu alam seukuran batu bata, dulu pelapisan tersebut pernah dilakukan di Jalan Aceh, tepatnya di depan Jaarbeurs atau kompleks Kologdam sekarang.

Dua Penggal Jalan Umum Beraspal Pertama di BandungPeta ini menunjukkan dua penggal jalan umum beraspal pertama di Bandung. Penulis menandai dua lokasi di peta tersebut. (Sumber Peta: Leiden University Libraries Digital Collections)

Transformasi jalan yang semula tanah menjadi aspal, pertama kali dilakukan pada tahun 1900. Ketika itu Kota Bandung yang dipimpin Asisten Residen Priangan Pieter Sijthoff dan Bupati R.A.A. Martanegara yang menjadi 'mandor besar' pembenahan besar-besaran di kota yang dijuluki Paris van Java ini.

Sejarawan Haryoto Kunto dalam bukunya Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (Granesia:1984) menulis, ada dua penggal jalan umum yang pertama kali diaspal di Kota Bandung. Dua penggal jalan itu adalah Jalan Gereja (Perintis Kemerdekaan) hingga Jalan Braga.

Namun belum ada penjelasan lebih lanjut, apakah pengaspalan sepenggal jalan ini dimulai dari Gereja Katedral Santo Petrus (depan Polrestabes Bandung di Jalan Merdeka) hingga ke Jalan Braga atau tidak.

Kemudian, penggal jalan yang kedua adalah Jalan Stasiun Timur sampai ke rumah Residen atau Gedung Pakuan sekarang. Saat ini, Jalan Stasiun Timur tak bisa lagi dilewati lalu lalang kendaraan, karena sebagian jalan Stasiun Timur telah dikelola menjadi area parkir khusus ke stasiun kereta.

"Ya, cuma segitu jalan aspal di Bandung waktu itu" tulis Haryoto seperti dilihat dalam buku yang sama, halaman 162.

Belum diketahui bagaimana ruas-ruas jalan umum lainnya Bandung diaspal ketika itu, namun yang pasti enam tahun kemudian Pemerintah Kolonial Belanda menetapkan Bandung sebagai Gemeente atau wilayah kota. Perbaikan infrastruktur juga ketika itu, didorong pula dengan pembangunannya.

Pada tahun 1906, jalur pintas rel Kereta Api Batavia-Bandung lewat Cikampek telah dibangun. Jalur ini melengkapi jalur rel kereta api dari Batavia lewat Bogor-Cianjur-Bandung yang telah rampung pada 1884.

(yum/bbn)