Gunung Semeru Masih Berstatus Waspada Usai Erupsi, Ini Penjelasan PVMBG

Wisma Putra - detikNews
Minggu, 05 Des 2021 19:40 WIB
Aktivitas Gunung Semeru masih terus dipantau usai erupsi pada Sabtu (4/12) lalu. Warga pun diminta waspada potensi awan panas-lahar dingin dari aktivitas Semeru
Foto: Sehari usai erupsi Gunung Semeru (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto).
Bandung -

Level kewaspadaan Gunung Semeru masih berada dalam level II atau Level waspada usai mengalami erupsi pada Sabtu (4/12/2021). Lalu mengapa, level kewaspadaan belum ditingkatkan?

Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Andiani mengatakan level kewaspadaan ditingkatkan atau diturunkan berdasarkan pemantauan.

"Status tetap sama, masih waspada, karena kami menganggap bahwa peningkatan status ini harus berdasarkan pemantauan kami baik secara visual atau pun secara peralatan kami," kata Andiani dalam konferensi pers yang digelar secara daring, Minggu (5/12/2021).

Dari pemantauan terakhir, dia menyebut, hanya terjadi guguran awan panas di Gunung Semeru. "Dari gempa yang ditunjukkan memang tidak adanya satu gempa-gempa tektonik dalam, sebagai contoh menunjukkan adanya pergerakan magma ke permukaan, jadi yang terjadi seperti awan panas guguran, kemudian hembusan dan juga gempa letusan," ungkapnya.

"Kemudian secara visual memang terjadi selain awan panas guguran juga terjadi letusan dengan ketinggian volume tidak lebih dari 500 meter, ini berdasarkan hasil pemantauan kami, sehingga menurut kami karena memang kondisinya, tanda-tanda fisiknya kami catat tidak menunjukkan intensitas peningkatan, tentunya akan kami evaluasi dalam beberapa hari ke depan apakah perlu ditingkatkan atau tidak," jelasnya.

Menurutnya, jika memakan banyak korban jiwa, erupsinya Gunung Semeru bisa dikatakan lebih besar daripada Gunung Merapi. "Kemudian apakah ini bencana terbesar? Kalau kita lihat, kalau dibandingkan korban jiwanya lebih besar tentunya ini merupakan bencana besar sesudah Merapi," tuturnya.

Sementara itu, jika dilihat dari sisi erupsinya, pihaknya juga sudah melaporkan hasil monitoringnya, sehingga berdasarkan kondisi tersebut jika kita lihat Semeru di tahun 2020 pada Bulan Desember, menurut catatan menunjukkan awan panas guguran hingga 11 kilometer dan puncak.

"Dan awan panas guguran kemarin belum sampai 11 kilometer, paling tidak masih di angka 4 kilometer, kami masih perlu melakukan verifikasi apakah 4 kilometer nya lebih berapa, ini juga kami masih lakukan monitoring," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyebut korban akibat erupsi/awan panas guguran Gunung Semeru kembali bertambah. Hingga pukul 15.30 WIB, ada 14 korban meninggal dunia.

"Sampai saat ini ada 14 orang meninggal dunia, tambah satu dari sejam tadi. Berapa-berapanya kira-kira masih kita cari terus, kita kerahkan kemampuan yang ada," kata Suharyanto dalam Konferensi Pers bersama Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa di Stadion Pasirian, Lumajang, Minggu (5/12/2021).

Suharyanto mengatakan, jumlah warga yang mengungsi sampai pukul 15.30 WIB sebanyak 1.300-an orang. Untuk lokasi pengungsi tersebar di beberapa titik.

(wip/mso)