ADVERTISEMENT

Peneliti ITB Rancang Kolaborasi Digital untuk Petani Kopi Tenjolaya

Yudha Maulana - detikNews
Jumat, 03 Des 2021 14:00 WIB
ITB rancang kolaborasi digital pemulihan ekonomi petani kopi
ITB rancang kolaborasi digital pemulihan ekonomi petani kopi (Foto: Yudha Maulana)
Bandung -

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITB mendorong pemulihan ekonomi bagi para petani kopi di Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan merajut jaringan kolaborasi digital (digital collaborative network/DCN) di antara para petani kopi.

Dua orang peneliti, ITB Pathmi Noerhatini dan Prof Dicky R Munaf melihat buah kopi berbasis penanaman agrosilvopastura di Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Tenjolaya punya nilai lebih dari sisi organik. Tetapi, masih belum terpasarkan dengan baik.

Mereka melihat para petani yang terhimpun dalam LMDH masih mengalami hambatan komunikasi antara sesama anggota dan pengurus. Pengurus juga kurang mengetahui bagaimana kondisi pertanaman kopi di lapangan, pemanenan buah kopi, kualitas buah kopi, stok buah kopi berbentuk green bean dan kopi roasting.

"Jika dikaitkan dengan pemasaran kopi, pengurus belum bisa menentukan posisi yang kuat di rantai pasok kopi eksisting di daerah tersebut. Keterbatasan komunikasi, pengetahuan dan cara pemasaran yang lebih baik, semakin menurunkan pendapatan petani kopi pada masa pandemi COVID-19," ujar Pathmi ketika berbincang dengan detikcom, Jumat (3/12/2021).

Oleh karena itu, ia menawarkan konsep DCN untuk pemasaran kopi berbasis agrosilvopastura tersebut sebagai upaya pemulihan ekonomi petani kopi. "Kami berharap DCN yang diterapkan di LMDH Tenjolaya menghasilkan komunitas digital yang handal, yang akan diadopsi ke kelompok petani kopi lainnya di daerah lain," ujarnya.

Tujuan akhirnya, adalah agar LMDH memiliki situs atau platform yang dikelola secara mandiri. Di dalam situs tersebut akan termuat, mengenai stok hasil budidaya kopi, panen kopi, luasan perkebunan kopi, daftar pengurus LMDH, kondisi kopi dan informasi tambahan lainnya seperti pasar, pelatihan pameran dan sebagainya.

"Jadi perlu adanya dibentuk komunitas berbasis teknologi untuk saling berkomunikasi, berbagi informasi yang sesuai SOP GAP, akses ke pasar yang lebih baik, para pembeli bisa berhubungan langsung dengan LMDH tidak melalui pengepul atau bandar. Perlu binaan Dinas Pertanian khususnya dalam keseragaman kualitas kopi, baik kopi segar maupun kopi yang telah diolah," ujar Pathmi.

Pathmi menyadari, misi ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Sebab, para petani di Tenjolaya rata-rata memiliki tingkat literasi digital yang rendah. Menyuntikan digitalisasi kepada orang awam, dikatakan Pathmi tak bisa langsung dipaksakan, oleh karena itu tim dari LPPM ITB melakukan pendekatan secara perlahan.

"Ternyata kemarin saya kumpulkan tokoh dan petani kopi, tentunya pertemuan juga terbatas karena masa pandemi, ini juga yang menjadi hambatan bagi kita. Dari pertemuan itu ketahui, ternyata mereka baru pertama kali melakukan pencarian di Google. Biasanya mereka hanya memanfaatkan ponsel untuk membuka Tiktok atau Youtube. Setelah kami beritahu, wah ternyata banyak ilmu bermanfaat yang bisa didapatkan di internet," ujar Pathmi.

"Membentuk komunitas digital itu ada enam tahap, sampai dia bisa memanfaatkan teknologi. Kita perlu ngumpul offline, silaturahmi, dari situ kita tingkatkan mulai membuat Whatsapp grup. Jangan dipaksanakan langsung website, pemanfaatan website itu tahap keenam. Saat ini kita baru sampai ke tahap dua," ujarnya menambahkan.

Seraya melakukan pendekatan, tim LPPM ITB yang melibatkan asisten peneliti Amanna D. Al Hakim dan mahasiswa Refo Prindajaya Putra Akhmal Iswara Adjie dan M.H. Izzatullah ini juga tengah membuat website dengan nama kitakopi.com, rencananya website tersebut akan rampung pada awal Februari 2022 mendatang.

Diharapkan sistem digitalisasi ini menjadi role model untuk diterapkan di masing-masing LMDH penanam kopi yang berada di Jabar.

"Aplikasi teknologi DCN pada komunitas petani kopi ini, menarik untuk dilakukan karena sistem pertanaman kopi berbasis sistem agrosilvopastura menghasilkan kopi organik, bermanfaat secara ekologis (pencegah banjir dan longsor) dan ekonomis. Teknologi ini juga sangat berguna untuk peningkatan pendapatan petani kopi di masa pandemi COVID-19 karena mereka menjadi bisa berkomunikasi dan berinteraksi secara virtual. Di samping itu, petani kopi bisa meningkatkan perannya di rantai pasok kopi dengan membuat pemasaran secara daring, artinya bisa langsung berhubungan dengan pembeli," pungkas Pathmi.

(yum/mud)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT