Manfaatkan Lalat 'Tentara Hitam', Peneliti ITB Ubah Limbah Kopi Jadi Pupuk

ADVERTISEMENT

Manfaatkan Lalat 'Tentara Hitam', Peneliti ITB Ubah Limbah Kopi Jadi Pupuk

Yudha Maulana - detikNews
Jumat, 03 Des 2021 10:00 WIB
Pupuk organik hasil biokonversi BSF
Foto: Pupuk organik hasil biokonversi BSF (Istimewa).
Bandung -

Semerbak kopi dari Indonesia yang telah tercium hingga ke dunia internasional, hal itu membuat komoditas pangan ini sangat menjanjikan dari segi ekonomi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada 2020 nilai ekspor kopi Indonesia mencapai USD 809,2 juta.

Namun berbicara mengenai industri kopi dari hulu ke hilir, tentunya tak lepas dari permasalahan limbah kopi. Seperti diketahui, proses pemisahan ceri kopi dan bijinya menyisakan limbah yang cukup banyak. Perbandingannya, dari satu kilogram ceri kopi, 70 persennya berupa kulit kopi yang berakhir jadi limbah.

Permasalahan itu rupanya juga ditemukan di perkebunan kopi yang terletak di Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Ceri kopi yang telah disosoh, kulitnya dibiarkan menumpuk lalu dibuang begitu saja. Alhasil menimbulkan bau yang tak sedap.

Limbah kulit kopi yang masih segar juga tak bisa serta merta dijadikan pupuk, karena memiliki C/N organik yang tinggi, alih-alih tumbuh bagus yang ada malah membuat tanaman menjadi layu dan mati.

Melihat ada keresahan dari petani, dua orang peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Pathmi Noerhatini dan Yeyet Setiawati tergerak untuk mencarikan solusi. Salah satunya adalah dengan menghadirkan konsep agrosilvopastura, yang ramah lingkungan sekaligus menguntungkan bagi petani.

"Bayangkan di tingkat petani kecil saja yang masih sederhana, banyak limbahnya. Jadi perlu ada upaya alternatif dengan biokonversi yang zero waste," ujar Pathmi saat berbincang dengan detikcom, Jumat (3/12/2021).

Lewat konsep agrosilvopastura, petani bisa mendapatkan pupuk cair atau padat dari limbah kulit kopi yang telah diolah. Cara memprosesnya pun mudah, limbah kulit kopi yang telah difermentasi selama satu hari dicampurkan dengan limbah sayuran. Campuran itu kemudian difermentasikan lagi selama dua pekan.

Usai difermentasi, saatnya larva dari lalat tentara hitam (BSF) bekerja. Larva-larva akan melahap hasil fermentasi limbah kulit kopi dan sayuran, di sinilah proses biokonversi 'pemisahan' limbah organik oleh BSF dilakukan. Hasil pemakanan larva BSF, akan menjadi pupuk organik yang bisa dicampur dengan tanah atau media lain untuk pembibitan sayuran.

"Kita ingin ada beberapa sisi keuntungan bagi petani, limbah tereliminasi dan bisa memberikan manfaat setelah kita lakukan biokonversi dengan BSF. Itu bisa jadi pupuk padat dan pupuk cair, pupuk organik yang bisa kembali digunakan oleh petani kopi," katanya.

Berdasarkan hasil penelitian dari Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung, ditemukan bahwa kandungan tanah yang diberi pupuk organik dari hasil biokonversi BSF terbukti lebih subur. Ia optimistis cara ini bisa mengurangi pengeluaran petani dari membeli pupuk pabrikan.

"Sebetulnya di kulitnya itu ada antioksidan, vitamin dan nutrisi lainnya. Jadi nanti pupuk limbah kopi ini akan kembali ke kawasan hutan, kita juga telah membuatdemplot (demonstrasi plot) di daerahBebera," ujarPathmi.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT