Polda Jabar Bekuk Warga Palembang yang Lakukan Phishing dan Phone Sex

Dony Indra Ramadan - detikNews
Jumat, 03 Des 2021 12:21 WIB
Ilustrasi UU ITE
Foto: Ilustrasi: iStock
Bandung -

Polisi kembali membekuk seorang warga Palembang berkaitan tindak pidana informasi dan transaksi elektronik (ITE). Pelaku melakukan kejahatan siber, mulai phishing hingga phone sex.

Kasus ini diungkap tim Subdit V Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar yang dipimpin oleh Kasubdit Kompol A Prasetya. Polisi meringkus seorang pria asal Palembang berinisial Y yang melakukan kejahatan siber.

"Kami berhasil mengungkap di mana terjadi tindak pidana ITE phishing, kemudian investasi bodong, aplikasi jual-beli palsu dan phone sex," ujar Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar Kombes Arief Rachman di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Jumat (3/12/2021).

Arief menuturkan dalam kasus ini baru Y yang ditetapkan sebagai tersangka. Dia melakukan berbagai kejahatan siber hingga meraup keuntungan miliaran rupiah. "Ini sama lintas provinsi dengan kerugian miliaran rupiah," tutur Arief.

Y melakukan berbagai modus kejahatan dunia maya, mulai phishing hingga phone sex. Untuk kasus phishing, Y mengambil alih m-banking milik korban.

Modus ini dilakukan Y dengan cara membuat website yang kemudian diarahkan agar korban mengisi nomor rekening dan PIN. "Modus pertama yaitu phishing. Mengambil alih m-banking korban dengan cara mengirimkan link. Ini harus waspada dalam proses pembelajaran masyarakat," kata dia.

Modus kedua, Y membuat investasi bodong. Di mana dia menggunakan akun palsu pada sebuah website dengan embel-embel investasi online.

"Di mana yang bersangkutan menggunakan akun palsu, kemudian melakukan breaching (melanggar) ke aplikasi tersebut di mana hal ini tentunya akan bertentangan juga dengan peraturan pemerintah dan pengawasan dari OJK," tuturnya.

Modus ketiga yang dilakukan oleh Y adalah membuat aplikasi jual-beli palsu. Pada aplikasi tersebut, Y mencantumkan call center dan kode bayar palsu.

Kemudian modus terakhir, Y melakukan phone sex dengan korban. Y dan korban awalnya berkenalan hingga berlanjut ke phone sex dan melakukan pemerasan.

"Nah, ini mungkin yang harus diwaspadai di mana tersangka berkenalan dengan korban di medsos dan membujuk korban memberikan foto dan video bermuatan pornografi. Kemudian tersangka merekam dan setelah itu meminta sejumlah uang. Jadi lebih kepada pemerasan," kata dia.

Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan. Sejauh ini baru satu pelaku yang ditangkap.

(dir/ern)