Cerita Warga soal Batu Lava Gunung Krakatau, Terbengkalai-Jadi Geopark

Rifat Alhamidi - detikNews
Rabu, 01 Des 2021 13:19 WIB
Batu lava sisa letusan Krakatau jadi ganjalan pagar beton
Foto:Batu lava sisa letusan Gunung Krakatau jadi ganjal pagar beton (Rifat Alhamidi/detikcom).
Pandeglang -

Bongkahan batu lava sisa letusan Gunung Krakatau di Pantai Karangsari, Carita, tiba-tiba menjadi perbincangan hangat di lingkungan warga sekitar. Bagaimana tidak, batu yang merupakan situs memorial atau memory site yang menjadi saksi bisu letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 silam kini malah jadi tempat untuk mengganjal pagar beton yang berdiri kokoh di kawasan objek wisata di Kabupaten Pandeglang, Banten tersebut.

Warga setempat pun meyakini bongkahan batu tersebut sudah ada sejak puluhan tahun silam. Hal itu dibuktikan dengan hasil penelitian Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Banten mengenai jejak-jejak letusan Gunung Krakatau tahun 1883.

Dikutip dalam laman Dinas ESDM telah membuktikan batu lava di Pantai Karangsari memiliki campuran batuan dan gas bersuhu tinggi hingga lebih dari 400 celcius. Temuan itu menjadi bukti adanya proses geologi letusan Krakatau berupa tsunami dan aliran piroklastik atau awan panas.

"Karena memang warga di sini meyakini batu itu jadi saksi pada saat Gunung Krakatau meletus. Batu itu bagian sejarah yang tidak bisa dipisahkan dengan warga Carita," kata EA Supriadi, warga setempat saat berbincang dengan detikcom di Pandeglang, Banten, Rabu (1/12/2021).

Meski sudah dibuktikan melalui penelitian jika batu lava itu merupakan warisan geologi nasional, namun warga menyebut keberadaannya tak pernah diperhatikan oleh pemda setempat. Bahkan sejak kawasan pariwisata di Carita dibuka, batu tersebut tetap dibiarkan begitu saja hingga terbengkalai.

"Batu itu kan lokasinya ada di pantai yang asetnya punya Pemkab Pandeglang. Tapi sejak saya kecil, enggak pernah diurus. Boro-boro dipelihara, mau ada sampah atau benda-benda lain juga tetap aja enggak pernah batu itu dirawat sama sekali," ungkap pria yang akrab disapa Franky ini.

Karena tak pernah ada pemeliharaan, Franky yang juga menjadi Ketua Komunitas Peduli Pariwisata Carita (KPPC) bersama rekan-rekannya di kawasan itu akhirnya berinsiatif untuk menjaga batu tersebut agar tak rusak dimakan usia. Terhitung sudah delapan kali dalam setiap tahunnya, ia bersama warga Carita yang lain kerap mengadakan event untuk mengenang terjadinya lesutan Gunung Krakatau tersebut.

"Sudah delapan kali eventnya digelar, kami lakukan sekalian sebagai bentuk instropeksi warga di sini dalam mengingat bagaimana kuasa Tuhan. Kegiatannya macem-macem, tapi yang jelas salah satunya melakukan bersih-bersih di area batu lava itu supaya enggak cepet rusak," tuturnya.

Seiring berjalannya waktu, Franky merasa aneh dengan keputusan dari Pemkab Pandeglang. Tiba-tiba, Bupati Pandeglang Irna Narulita menetapkan warisan geologi itu masuk dalam Geopark Ujung Kulon pada tahun 2020 lalu.

Batu lava di Pantai Karangsari, Carita diketahui ditetapkan Bupati sebagai geopark bersama 29 geosite yang lain. Tentu, keputusan itu sempat menjadi perdebatan di kalangan warga lantaran selama ini pemerintah daerah dinilai hampir tak pernah ada untuk merawat salah satu warisa geologi tersebut.

"Kan begini, kalau mau itu jadi geopark, selama ini peran pemerintah daerahnya kok enggak ada untuk perawatan dan pemeliharaan. Jadinya kan terkesan hanya formalitas saja buat ngejar jadi geopark, sementara buat merawatnya aja supaya jangan sampai rusak itu enggak ada," ucapnya.

Karena masalah ini, Franky berharap Pemkab Pandeglang bisa turun tangan untuk menyelesaikan polemik batu lava yang kini jadi ganjal pager beton di Pantai Karangsari, Carita. Jika tak mampu mengembalikan lagi ke posisi semula, ia bersama warga di sana pun sudah siap memindahkan lokasi batu ke tempat yang lebih aman.

"Kalau semisalnya Pemkab enggak sanggup buat membongkar pager beton, mending batunya dipindahkan aja supaya enggak rusak. Warga di sini sudah siap kok, soalnya (batu) itu jadi saksi sejarah buat warga Carita," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Pantai Karangsari, Carita di Kabupaten Pandeglang, Banten memiliki sebuah situs memorial atau memory site berupa bongkahan batu lava sisa letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 silam. Namun mirisnya, bongkahan batu tersebut kini malah digunakan untuk mengganjal pager beton yang dibangun di lokasi tersebut.

Pantauan detikcom di lokasi, batu dengan diameter sekira tiga meter itu kini sudah diapit oleh pager beton yang terpasang di belakang pos pengelola hingga ke ujung lahan Pantai Karangsari. Karena batu tersebut tak bisa dipindahkan, sang pemasang pagar rupanya malah terus melanjutkan pekerjaannya dengan menyisakan ruang yang hanya cukup untuk batu tersebut tanpa menghilangkan bagian atas dari pager beton itu. Jika dilihat lebih dekat, batu lava sisa letusan Gunung Krakatau ini malah nampak seperti menyangga dan jadi ganjalan dari kokohnya pager beton.

Di batu tersebut, juga terdapat tulisan prasasti untuk mengenang letusan Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883. Tulisan itu berbunyi 'Monumen Gunung Krakatau, Semoga Gemuruh Gunturmu, Semoga Kobaran Api Kawahmu, Semoga Gulung Gelombangmu Selalu Mengingatkan Kami Kepada Kebesaran Nya'. Tulisan itu juga dilengkapi nama Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat dan Menteri Pariwisata pada saat itu.

(mso/mso)