DPR-MUI Cianjur Minta Nikah Siri Dihindari-Perangi Praktik Kawin Kontrak

Ismet Slamet - detikNews
Senin, 22 Nov 2021 20:51 WIB
Sarah semasa hidup. Wanita Cianjur ini meninggal akibat disiksa dan disiram air keras oleh suaminya.
Sarah yang tewas disiram air keras oleh suami WNA (Foto: Ismet Selamet)
Cianjur -

Anggota DPR RI Diah Pitaloka mendorong semua pihak berperan terhadap perlindungan perempuan dari tindak kekerasan rumah tangga agar kasus penyiraman air keras yang menyebabkan Sarah (21) tewas tak terulang.

Anggota DPR RI dari Dapil III Jabar ini mengaku prihatin dengan adanya kasus perempuan di Cianjur yang menjadi korban kekerasan oleh pria berkebangsaan Arab Saudi yang tidak lain suaminya sendiri.

"Tentu prihatin dengan kasus ini, perempuan kita menjadi korban bahkan meninggal dunia akibat disiram air keras oleh suaminya. Ini kasus yang harus jadi perhatian bersama," ujar Diah, Senin (22/11/2021).

Diah mengatakan pelaku harus dihukum setimpal atas perbuatannya. "Ini bukan tindak kekerasan biasa, karena sampai disiram air keras dan disiksa. Tentu harus dihukum berat, terlepas siapa dan warga mana pelakunya," kata dia.

Bukan hanya terkait kasusnya, status nikah siri antara korban dan pelaku juga harus disoroti bersama.

Menurutnya dalam praktik nikah siri, perempuan rentan menjadi korban. Hak-hak perempuan dalam rumah tangga juga terabaikan dengan status pernikahan yang tidak tercatat negara.

"Perempuan akan rentan jadi korban kekerasan, penelantaran, dan banyak dampak negatif lainnya dari nikah siri," tuturnya.

Diah juga menambahkan maraknya praktik kawin kontrak juga harus segera diselesaikan. Samahalnya dengan nikah siri, perempuan hanya sebatas menjadi objek dan rentan mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari pelaku kawin kontrak.

Oleh karena itu, lanjut dia, pemerintah dengan dibantu semua pihak harus bekerjasama dalam perlindungan dan pemenuhan hak bagi perempuan. Praktik nikah siri diharapkan bisa menurun, dan kawin kontrak benar-benar ditiadakan.

"Untuk mencegah nikah siri, jalankan program yang akan mempermudah pasangan untuk menikah secara resmi dan tercatat. Dan khusus kawin kontrak, buat aturan yang memberikan sanksi dengan efek jera supaya praktiknya benar-benar hilang. Ini semua demi perlindungan perempuan dan tindak kekerasan atau hal negatif lainnya," kata dia.

Senada, Sekretaris MUI Kabupaten Cianjur Saepul Ulum juga mengimbau masyarakat untuk menghindari nikah siri. Sebab meskipun sah secara agama, tetapi tidak tercatat negara.

Selain itu, praktik kawin kontrak juga dihadapkan bisa hilang, karena tidak sesuai dengan ketentuan pernikahan dalam agama.

"Kami mengimbau masyarakat menghindari nikah siri, sekarang serba mudah. Kalau mau nikah gratis, bisa di Kantor KUA. Dan khusus untuk kawin kontrak, kita bersama-sama menghilangkan praktiknya dari kota santri ini," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Sarah (21) perempuan asal Kampung Munjul Desa Sukamaju Cianjur Cianjur alami luka bakar serius di sekujur tubuh dan memar di bagian wajah usai disiksa serta disiram air keras oleh suaminya sendiri Abdul Latif (29).

Informasi yang dihimpun detik.com, tindak kekerasan berat tersebut terjadi pada Sabtu (20/11) dini hari sekitar pukul 01.00 Wib. Korban yang tengah terlelap tidur, dihampiri suaminya yang merupakan warga negara asing (WNA) asal Timur Tengah.

Korban yang baru dinikahi 1,5 bulan oleh pelaku ini, langsung diikat tangannya menggunakan tali. Pelaku pun membenturkan wajah korban ke tembok sambil memukulinya.

Setelah itu, korban disiram air keras yang diduga sudah disiapkan pelaku sebelumnya. Air keras itu pun membuat korban mengalami luka bakar serius di sekujur tubuh.

(mud/mud)