Unak Anik Jabar

Melihat Komplek Pemakaman Leluhur Sumedang di Gunung Puyuh

Nur Azis - detikNews
Senin, 15 Nov 2021 14:42 WIB
Pemakaman leluhur Sumedang
Pemakaman leluhur Sumedang (Foto: Nur Azis/detikcom).
Sumedang -

Sejumlah makam berdiri di sebuah bukit di salah satu desa Kabupaten Sumedang. Makam-makam itu bukanlah tempat pemakaman umum biasa.

Sebuah gerbang dengan dibubuhi tulisan menjelaskan bahwa makam-makam itu adalah sebuah pemakaman khusus. Ada tiga gerbang di pemakaman tersebut yang menerangkan siapa-siapa saja yang jasadnya dibaringkan di sana.

Gerbang pertama bertuliskan Makam Pengeran Soeria Koesoemah Adinata (Pengeran Sugih) dan Makam Keluarga. Gerbang Kedua yang berada di dalam, hanya bertuliskan Makam Pengeran Soeria Koesoemah Adinata tanpa disertai tulisan makam keluarga.

Gerbang kedua menjadi tempat pemakaman khusus bagi orang-orang yang telah berjasa membangun Sumedang di masa lampau. Sementara gerbang ketiga adalah tempat dibaringkannya jasad pahlawan Nasional asal Aceh, yakni Cut Nyak Dien.

Pemakaman tersebut dikenal sebagai Komplek pemakaman Gunung Puyuh. Pemakaman ini berada di pinggir jalan atau tepatnya di Jalan Cut Nyak Dien, Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan.

Komplek pemakaman Gunung Puyuh merupakan salah satu pemakaman para leluhur sekaligus makam keluarga dari keturunan Sumedang.

Tempat itu pun kini menjadi salah satu cagar budaya setelah dipatenkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten. Sebuah pemakaman yang dilindungi oleh Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Ada sejumlah nama yang dimakamkan disana, diantaranya Raden Somanagara atau nama lain dari Pangeran Soeria Koesoemah Adinata, Ni Raden Ayu Rajapomerat binti Wiranatakusumah III Dalem Karanganyar Bupati Bandung, Ki Bagus Weruh atau Pangeran Rangga Gempol II atau Pangeran Koesoemahdinata IV.

Kemudian, Pangeran Panembahan Pangeran Rangga Gempol Gempol III atau Pangeran Koesoemahdinata V, Dalem Adipati Tanoemadja, Ni Raden Ayu Jogjanagara, Raden Haji Mustofa dan RAA Martanagara.

Makam dari nama - nama diatas berada dibagian dalam dari komplek pemakaman Gunung Puyuh. Makam - makam tersebut memiliki gerbang khusus dengan kelilingi oleh sejumlah makam dari keturunannya.

Sementara untuk makam Cut Nyak Dien, berada di dalam paling ujung dari komplek pemakaman tersebut. Cut Nyak Dien yang kala itu diasingkan oleh Belanda ke Sumedang sekitar tahun 1901, ia pun kemudian menghembuskan nafas terakhir di Sumedang pada 6 November 1908.

Awalnya, makam Cut Nyak Dien tidak dikenali oleh masyarakat lantaran identitas dan makamnya memang dirahasiakan oleh penjajah Belanda kala itu.

Makamnya sendiri baru diketahui tahun 1959 setelah dilakukan pencarian saat Gubernur Aceh dijabat oleh Ali Hasan. Makam tersebut diketahui berdasarkan data-data di Belanda.

Raden Lily Djamhur Soemawilaga yang merupakan keturunan Karaton Sumedanglarang menjelaskan makam keluarga Gunung Puyuh awalnya merupakan tempat kabuyutan.

"Berdasarkan foklor, makam Gunung Puyuh merupakan tempat semedi Prabu Tadjimalela," ungkap Lily kepada detikcom, Senin (15/11/2021).

Lily menyebutkan makam terdahulu yang berada disana adalah makam Raden Bagus Weruh atau Pangeran Rangga Gempol II. Namun tempat itu pun berangsur-angsur menjadi tempat pemakaman bagi keturunan Sumedang.

"Khususnya makam bagi keturunan dari Pangeran Sugih atau Pangeran Soeria Koesoemahadinata," ujarnya.

Pemakaman Gunung Puyuh pun menjadi pemakaman bagi keturunan Sumedang selain pemakaman Pasarean Gede atau dikenal juga dengan nama Gunung Ciung.

Makam Pangeran Sugih ataupun makam Cut Nyak Dien hingga kini kerap dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah. Mereka mendoakan atas jasa-jasa yang telah dilakukannya.

(mso/mso)