Kisah Wisnu yang Sukses Jadi Petani Paprika di Usia Muda

ADVERTISEMENT

Hari Sumpah Pemuda

Kisah Wisnu yang Sukses Jadi Petani Paprika di Usia Muda

Wisnu Pradana - detikNews
Jumat, 29 Okt 2021 08:50 WIB
Wisnu petani muda asal Bandung Barat.
Wisnu petani muda asal Bandung Barat (Foto: Whisnu Pradana/detikcom).
Bandung Barat -

Wisnu Saepudin (28), pemuda asal Kampung Baru Nyatu, RW 12, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) memilih langkah ekstrem untuk menekuni profesi sebagai petani paprika.

Pilihan Wisnu menjadi petani paprika di usianya yang tergolong masih sangat muda dibilang ekstrem lantaran kebanyakan anak muda seusianya memilih bekerja kantoran, tak mau terkena panas matahari, hingga enggan kotor-kotoran.

Namun apa yang diyakini Wisnu berbuah manis. Kini ia sukses menjalani profesi yang tak lagi banyak dilirik generasi muda. Hal itu juga berhasil membalikkan stigma jika anak muda tak bisa berhasil tanpa sebagai petani.

Wisnu mulai menjatuhkan pilihannya untuk menekuni bidang pertanian sejak tahun 2012 silam. Kala itu usianya baru menginjak 22 tahun. Saat kebanyakan anak muda masih senang bermain dengan uang bekal dari orang tua, Wisnu sudah bersusah payah merintis ladang pertaniannya.

Lahan seluas 1.200 meter persegi pemberian orang tuanya disulap jadi green house yang kelak ditanami paprika. Wisnu tak malu terjun langsung mulai dari menanam, memupuk, merawat tanaman supaya tak diserang hama, memanen, hingga memasarkan.

"Akhirnya ikut bertani meneruskan orang tua, karena saya lihat ternyata ada hasilnya. Saya mulai itu tahun 2012, dikasih lahan sama orang tua dengan 4.000 pohon. Tapi itu juga enggak langsung berhasil," ungkap Wisnu saat berbincang dengan detikcom belum lama ini.

Tak mau patah arang, Wisnu terus belajar demi bisa sukses menjadi petani paprika. Usaha tak mengkhianati hasil. Jalan kesuksesannya menjadi seorang petani milenial terbuka saat seorang temannya semasa sekolah dulu bekerja di Pasar Caringin, Bandung. Temannya membutuhkan pasokan paprika yang kebetulan saat itu ketersediannya sedang kurang.

"Terbantu market itu dari teman sekolah yang punya kios di pasar (Caringin). Saya coba suplai dengan tambahan barang beli dari petani, ya akhirnya terbuka peluangnya dari situ sampai sekarang. Sekarang kirim juga ke Pasar Kramat Djati, supermarket, kadang ke Malang sama Bali," ucap Wisnu.

Ayah satu orang anak itu kini mulai menikmati hasil positif dari kerja kerasnya selama bertahun-tahun dan modal yang tak sedikit juga. Kini ia sudah memiliki beberapa lahan paprika yang ditanam di dalam green house.

"Akhirnya berhasil dan tanamannya terus bertambah. Sekarang untuk saya pribadi sudah punya 25 ribu pohon paprika. Lahan totalnya kira-kira 500 tumbak (hampir 1 hektare)," kata Wisnu.

Naik turun dalam menggeluti profesi sebagai petani paprika tentunya mewarnai hari-hari Wisnu. Kala harga paprika sedang bagus tentunya ia tersenyum lebar lantaran bisa mengantongi omzet puluhan juta. Namun pikirannya bakal berubah kalut ketika harga jual merosot tajam.

"Sekarang per hari bisa kirim sampai 1,5 ton. Terus harga juga lagi bagus, tapi kalau stok lagi banyak terus harga turun ya omzet juga turun. Biasanya perbulan bisa dapat Rp 20 juta," terang Wisnu.

Wisnu berangan-angan bisa terus melebarkan sayap usahanya hingga ke luar negeri. Ia menyasar potensi ekspor paprika namun tak tahu mesti bagaimana.

"Inginnya bisa ekspos, jadi pemerintah memfasilitasi apa saja yang diperlukan. Kalau sekarang kan saya bingung mau bagaimana untuk bisa ekspor, jadi masih mengandalkan pasar dalam negeri," pungkas Wisnu.

Simak juga 'Keren! Aplikasi Ini Bisa Bantu Petani Pantau Tanaman dari Jauh':

[Gambas:Video 20detik]



Bina Petani Konvensional hingga Milenial

Petani menjadi profesi yang sama sekali tak dilirik oleh generasi muda. Hanya petani-petani konvensional dengan usia yang sudah tak lagi muda bertahan demi bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Anggapan pertanian tak keren dan tak menjanjikan, membuat petani juga minim regenerasi.

Nampaknya hal itu coba dipatahkan oleh Wisnu. Ketika banyak orangtua menginginkan anaknya bekerja kantoran hingga menjadi seorang polisi, Wisnu yang sukses bergelut dalam dunia usaha pertanian paprika coba 'meracuni' generasi muda di lingkungan tempat tinggalnya nyemplung ke dunia yang sama dengan dirinya.

Wisnu tak anti pendidikan tinggi, hanya saja menurutnya kebanyakan anak muda yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi juga tak mampu melihat peluang bisnis yang bisa menghasilkan cuan. Mereka berkutat dengan gengsi, malu melakoni pekerjaan yang tak keren dan bonafit.

"Kadang lihat yang kuliah, itu sebetulnya kerjanya gitu-gitu saja. Setiap hari rutinitasnya sama tapi penghasilannya juga enggak terlalu besar. Makanya saya sejak lulus sekolah memilih jadi petani, selain karena memang turunan dari orangtua, saya lihat juga cukup menjanjikan kalau memang diolah dan digarap dengan benar," kata Wisnu.

Wisnu saat ini membina sebanyak 25 orang petani, baik itu yang sudah berumur maupun mereka yang masih muda. Namun mayoritas, petani yang dibinanya sekaligus yang bekerja di lahan miliknya masih berusia muda, kisaran 22 sampai 28 tahun.

"Sekarang saya punya 25 petani binaan. Ada yang memang sudah lama bertani, ada juga yang baru. Kita sama-sama belajar biar bisa sama-sama sukses. Anak muda yang ingin jadi petani itu enggak perlu malu sebetulnya, jangan gengsian yang penting mau belajar pasti akan sukses," jelas Wisnu.

Tak cuma soal stigma petani itu tak keren dan tak menjanjikan, Wisnu juga ingin mengubah pola pikir petani konvensional yang menggeluti sektor pertanian namun berpikir sempit dan tak inovatif.

"Petani di sini itu masih berpikir yang penting ada untuk makan besok. Nah saya ingin mengubah pola pikir itu. Inginnya tuh mereka berpikir panjang, bisa sukses, ingin panen itu harga selalu mahal. Jadi jangan lagi berpikir bagaimana nanti, tapi nanti bagaimana dan harus berhasil," tutur Wisnu.

Apa yang disampaikan Wisnu nampaknya bukan pepesan kosong. Sejak menggeluti profesi sebagai petani, tak sedikit mahasiswa hingga dosen pertanian yang justru menyerap ilmu pertanian yang dimilikinya.

"Lumayan sering yang kunjungan ke sini. Bertanya gimana caranya bisa sampai seperti ini. Bahkan ada yang ingin beli lahan, bertani juga, tapi orangnya hanya kasih modal. Tapi saya tolak, karena saya bilang bertani itu atau pekerjaan apapun, harus dengan jiwanya, jangan cuma berpikiran untung," ujar Wisnu.

(mso/mso)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT