Hari Sumpah Pemuda

Kisah Perjuangan 4 Pemuda Pemberi Kabar Proklamasi Kemerdekaan di Banten

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Kamis, 28 Okt 2021 10:32 WIB
Museum Sumpah Pemuda menyimpan berbagai foto-foto dan benda-benda yang berhubugan dengan pergerakan nasional pemuda Indonesia.
Melihat rekam jejak pergerakan nasional di Museum Sumpah Pemuda (Foto: Pradita Utama/detikcom).
Serang -

Usai proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno didampingi Mohammad Hatta pada 17 Agustus 1945, pejuang dari kelompok pemuda berusaha menyebarkan informasi ini ke penjuru daerah termasuk luar negeri. Ada empat pemuda yang ditugaskan pergi ke keresidenan Banten di Serang untuk menyebarkan informasi ini ke tokoh di sana.

Utusan ini diperintah oleh Chaerul Saleh sebagai pejuang dari kelompok pemuda di balik peristiwa Rengasdengklok. Perintah ini diberikan olehnya ke Pandu Kartawiguna, Ibnu Parna, Abdul Muluk, dan Ajiz.

Chaerul meminta keempatnya menyampaikan kabar kemerdekaan langsung ke telinga tokoh perjuangan Banten antara lain KH Ahmad Khatib, KH Syam'un, dan Zulkarnain Surya. Termasuk ke kelompok pejuang kemerdekaan dari golongan muda seperti Ali Amangku dan Ayip Dzuhri.

Dari tokoh-tokoh ini, pesan kemerdekaan lalu minta disampaikan langsung ke telinga warga di seluruh keresidenan Banten.

Selain itu, Chaerul juga berpesan meminta pejuang pemuda di Serang untuk bisa merebut pos-pos kekuasaan yang dikuasai oleh Jepang. Dan pada 20 Agustus, informasi kemerdekaan sampai di Serang ke tokoh-tokoh di atas dan disampaikan kepada masyarakat di Banten. Informasi kemerdekaan ini juga disampaikan bahwa bukan suatu pemberian dari penjajah Jepang.

"Berita kekalahan Jepang disusul proklamasi kemerdekaan Indonesia baru dapat diterima dan disebarkan kepada penduduk di kota Serang pada 20 Agustus oleh Pandu Kartawiguna, Ibnu Parna, Abdul Muluk, dan Ajiz. Mereka pemuda dari Jakarta yang diutus untuk menyiarkan berita tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia ke daerah Banten," begitu tertulis di buku 'Catatan Masa Lalu Banten' karangan Halwany Michrob sebagaimana dikutip detikcom pada Kamis (28/10/2021).

Informasi kemerdekaan itu dilanjutkan dengan upaya pemuda di Serang untuk melucuti simbol kekuasaan Jepang. Aksi pertama dilakukan pemudi yang berani bernama Sri Sahuli yang menurunkan bendera Jepang di Hotel Vos, Serang. Aksinya lalu diikuti di berbagai tempat di kantor-kantor yang dikuasai Jepang.

Imbas gerakan pemuda-pemuda itu, warga sipil Jepang juga tulis Halwany lantas banyak yang pergi ke Jakarta dari Serang. Residen atau syucokan bernama Yuki Yoshii bahkan menyerahkan jabatannya ke wakil residen Raden Tirtasujatna yang juga lantas melarikan diri ke Bogor. Tapi, ada sebagian anggota militer Jepang yang tersisa seperti di Gorda, Sajira di Lebak, dan Anyer.

Di masa genting itu, pemuda-pemuda di Banten juga mendirikan Angkatan Pemuda Indonesia atau API. Organisasi ini di Jakarta dibentuk oleh Chaerul Saleh dan dukungan kelompok Pemuda Menteng 31. Di Serang, organisasi ini dipimpin oleh Ali Amangku dan untuk kelompok pemudinya dipimpin oleh Sri Sahuli dengan markas berlokasi di Kaujon Kalimati.

Kelompok pemuda ini lanjutnya mendesak tokoh di Serang secara umum untuk berunding menjalankan pemerintahan di Banten. Mereka mengusulkan KH Ahmad Khotib sebagai residen dan KH Syam'un bertugas untuk urusan pertahanan dan militer.

"Pada 19 September, KH Ahmad Khotib resmi diangkat menjadi Residen Banten oleh Presiden Soekarno. Untuk membantu kelancaran, KH Khotib menunjuk Zulkarnain Surya Kertalaga sebagai wakil dan jabatan bupati di Serang, Pandeglang dan Lebak, KH Khotib meminta agar bupati semenyata tetap dalam jabatannya," tulisnya.

Untuk Kh Syam'un sendiri katanya kemudian membentuk Badan Keamanan Rakyat atau BKR. Anggotanya terdiri dari bekas anggota Peta, Heiho, Hizbullah, Sabilillah, API dan kelompok laskar lain di Banten. Tidak lama, terbentuk juga BKR Laut Banten yang terdiri dari Armada Perikanan dan Pasukan Marinir.

Untuk mempersenjatai BKR, KH Syam'un lalu melakukan perundingan dengan Jepang. Perundingan dilakukan karena kebanyakan anggota bekas Peta dilucuti senjatanya pada dua hari sebelum proklamasi. KH Syam'un lalu mengajak Residen KH Khotib berunding dan disepakati pemberian senjata asal orang Jepang mendapatkan jaminan keselamatan.

"Pihak kompetai menyetujui asal BKR dan residen bersedia menjamin keselamatan seluruh orang Jepang yang masih ada di keresidenan Banten," tulisnya.

(bri/mso)