Melihat Tradisi Penyucian Kayu Keramat Peninggalan Pangeran Walangsungsang

Sudirman Wamad - detikNews
Selasa, 26 Okt 2021 17:04 WIB
Tradisi memandikan kayu keramat di Cirebon
Foto: Tradisi memandikan kayu keramat di Cirebon (Sudirman Wawad/detikcom).
Cirebon -

Warga Desa Kertawinangun, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, memiliki tradisi unik dalam merayakan maulid Nabi Muhammad. Masyarakat Kertawinangun mengangkat dan memandikan sebatang kayu keramat.

Proses menyucikan kayu keramat itu dilakukan di Situs Balong Keramat Pangeran Mancur Jaya. Batang kayu berukuran sekitar dua meter itu bernama Buyut Kayu Perbatang. Masyarakat mengeramatkan kayu tersebut lantaran diyakini merupakan peninggalan Pangeran Walangsungsang, putra dari Prabu Siliwangi.

Juru kunci Situs Balong Keramat Pangeran Mancur Jaya, Raden Suparja menyebut tradisi penyucian benda pusaka Buyut Kayu Perbatang itu dilakukan setiap tanggal 19 Rabiulawal, atau sepekan setelah tradisi maulid di Keraton Kanoman dan Kasepuhan. Suparja mengatakan tanggal 19 Rabiulawal berkaitan dengan sejarah dari Buyut Kayu Perbatang.

"Pangeran Mancur Jaya menemukan kayu perbatang sekitar pukul 09.00 WIB tanggal 19 Rabiulawal. Kayu ini bekas tempat duduk Pangeran Walangsungsang ketika bertapa," kata Suparja disela-sela tradisi, Selasa (26/10/2021).

Suparja mengatakan Pangeran Mancur Jaya saat itu mendapat amanah dari keraton untuk mencari sumber air. Kondisi saat itu Cirebon dilanda kekeringan. Hingga akhirnya, Pangeran Mancur Jaya menemukan kayu keramat.

"Ketika Pangeran Mancur Jaya menghentakkan kayu tersebut ke tanah, kemudian muncullah air dari tanah," kata Suparja.

Suparja tak hanya menceritakan soal awal mula sejarah Buyut Kayu Perbatang. Bunyi benturan kayu keramat yang dientakan ke tanah terdengar bunyi 'tuk'.

"Bunyi itu kemudian dijadikan nama desa, yakni Desa Tuk," kata Suparja.

Tradisi mualidan di Kecamatan Kedawung ini selalu menyedot perhatian masyarakat Cirebon dan sekitarnya. Bahkan, sebagia masyarakat meyakini air balong Keramat Pangeran Mancur Jaya itu mujarab untuk menghalau bala atau sial. Banyak masyarakat yang berebut air saat tradisi penyucian Buyut Kayu Perbatang.

Proses ritual penyucian Buyut Kayu Perbatang di balong keramat itu diawali dengan pembacaan selawat. Kemudian azan dikumandangkan oleh tujuh muazin. Kemudian, tujuh muazin itu turun ke balong dan mengangkat kayu keramat.

Proses ritual dilanjut dengan memandikan kayu keramat menggunakan air kembang dan kemenyan. Usai dimandikan, kayu tersebut dikafani dan diletakkan kembali ke balong keramat.

"Nanti malamnya kita akan lakukan arak-arakan benda pusaka. Ini merupakan tradisi leluhur," kata Suparja.

"Saya berharap, masyarakat terutama pemuda meneruskan tradisi. Tetap menjaga cagar budaya. Jangan sampai adat istiadat ini tidak terawat dan punah. Jadi untuk muda-mudi mari bersama-sama untuk merawat benda cagar budaya," ucap Suparja menambahkan.

(mso/mso)