Ikan Mati Massal, Petambak KJA Bandung Barat Diminta Beralih ke Kolam Darat

Whisnu Pradana - detikNews
Senin, 25 Okt 2021 16:30 WIB
Keramba Jaring Apung di Waduk Jatiluhur
Ilustrasi KJA (Foto: Mukhlis Dinillah)
Bandung Barat -

Petambak ikan yang memanfaatkan media Keramba Jaring Apung (KJA) di perairan Waduk Saguling dan Cirata, Kabupaten Bandung Barat (KBB) didorong untuk segera beralih ke budidaya kolam darat.

Kepala Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Jawa Barat Dedy Arief Hendriyanto mengatakan budidaya ikan di kolam darat bisa meminimalisir potensi ikan mati massal.

Seperti diketahui, beberapa hari lalu sekitar 10 ton ikan yang ada di perairan Waduk Saguling dan Cirata, mati mendadak. Kematian ikan itu disinyalir akibat cuaca ekstrem yang terjadi sejak beberapa hari belakangan.

Kebanyakan ikan yang mati merupakan jenis ikan mas dan nila, baik yang masih benih maupun yang sudah siap panen di KJA. Ikan yang mati ada di Blok Ugrem, Blok Tangan-tangan, dan Blok Balong yang masuk ke wilayah administratif Desa Bongas dan Desa Batulayang.

"Sebaiknya ya seperti itu, untuk mengantisipasi petambak KJA yang sudah terlalu banyak. Banyak yang berhasil juga dan bisa menghindari ikan mati mendadak," ungkap Dedy saat dihubungi detikcom, Senin (25/10/2021).

Peralihan budidaya ikan dari KJA menjadi kolam darat sudah sudah dilakukan di beberapa daerah dengan hasil yang cukup memuaskan juga. Hal itu bisa segera diterapkan di Bandung Barat mengingat potensi cuaca ekstrem terjadi lagi masih sangat besar.

"Di beberapa daerah sudah banyak yang beralih ke darat karena kerugian KJA itu berulang setiap tahunnya. Untuk jenis ikannya ya sama, seperti ikan seperti lele, patin, dan nila," tutur Dedy.

Budidaya kolam darat juga sebagai bagian dari dukungan untuk program Citarum Harum. Mengingat lambat laun keberadaan KJA di Saguling serta Cirata akan dikurangi untuk menjaga kualitas air dan pelestarian lingkungan waduk (bendungan).

"Perlu diketahui juga bahwa kebanyakan lokasi keramba itu di bawahnya banyak yang berlumpur jadi rentan terhadap penyakit. Di Saguling dan Cirata juga banyak ditemukan karena terjadinya pendangkalan dasar sungai," terang Dedy.

Saat ini kematian massal ikan di perairan Waduk Saguling dam Cirata seolah tak bisa dihindari. Setiap musim peralihan dari kemarau ke hujan ditandai dengan cuaca ekstrem kerap menyebabkan mati massal ikan milik petambak.

"Ini kan kejadian berulang karena gejala upwelling, seharusnya petambak sudah tahu risikonya jadi bisa diminimalisir. Kita juga minta mereka enggak menanam benih baru karena kalau memaksakan bisa menimbulkan kerugian lebih besar," pungkas Dedy.

(mud/mud)