Pesan Dr Yudhi, Santri Peneliti COVID-19 di Spanyol: Terus Belajar Hal Baru

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Jumat, 22 Okt 2021 15:52 WIB
Santri asal Banten jadi peneliti COVID-19 di Madrid, Spanyol
Foto: Foto kiriman Dr Yudhi Nugraha
Serang -

Bagi Dr Yudhi Nugraha, Panca Jiwa Pondok adalah inspirasinya hingga bisa menjadi satu-satunya orang Indonesia bahkan Asia yang bergabung jadi peneliti antibodi monoklonal COVID-19 di Institute Salud Carlos III (Instituto de Salud Carlos III) di CNIO Madrid, Spanyol.

Menjadi santri, bisa menemukan jati diri dengan bekal iman dan takwa dan bisa lebih bermanfaat jika dibarengi dengan ilmu pengetahuan dan sains.

"Sebagai santri, kita sudah terbIasa dengan siklus hidup yang baik, sekeras apapun kehidupan akan terasa lebih mudah jika alumni pesantren melanjutkan pola hidup disiplin pesantren saat lulus, dalam mengatur waktu, ihtirom pada guru, serta terus belajar hal-hal baru," kata Yudhi yang saat ini menetap di Madrid, Spanyol kepada detikcom di Indonesia, Jumat (22/10/2021).

Meski sudah menjadi peneliti tingkat dunia, lulusan enam tahun pesantren Assa'adah Serang ini tetap mengagumi doktrin Panca Jiwa Pondok. Prinsip keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah dan kebebasan, melekat pada dirinya saat di pesantren dan di luar.

Ditambah lagi ia yang asli dari Banten kadang-kadang juga sering diminta jadi imam atau khotib saat salat Jumat. Bagi orang Indonesia yang studi atau bekerja di luar negeri, Banten memang dikenal religius. Ditambah lagi ia memang berlatar belakang pesantren.

"Padahal saya masih malu, tapi namanya dipaksa, ya bisa apa," ujar Yudhi sambil bergurau.

Yudhi mengaku tidak malu menceritakan ke mahasiswa atau rekan sejawatnya mengenai perjalanannya menjadi santri. Ia bangga 'nyantri' enam tahun dengan tempaan menghafal, mengaji dan belajar. Belum lagi katanya pengalaman ketika coba-coba keluar dari pondok demi melepas rindu ke orang tua.

"Terlalu banyak pengalaman menarik selama enam tahun, yang membekas salah satunya ketika saya kabur dari pondok dengan menghentikan kereta yang bukan di stasiun karena (kereta) melintasi pondok. Semua yang saya ceritakan tidak percaya padahal memang itu terjadi dan biasa pada saat itu," ujarnya.

Saat melanjutkan S3 di Jepang, nilai-nilai pesantren juga tetap ia pegang. Di sana ia menjadi Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PCI-NU) dan sempat juga menjadi Wakil Ketua Tandfidziyah PCI-NU Jepang. Kegiatan itu tetap ia lanjutkan di sela-sela menjalani penelitian COVID-19 di Spanyol.

"Di Madrid, bulan lalu baru saja disepakati untuk mengadakan pengajian bulanan bersama masyarakat muslim di Madrid. Semoga konsisten berjalan," katanya.

Karena identitas santri yang melekat, Yudhi mengatakan sering sowan ke pesantren saat pulang ke Indonesia. Selain meminta nasihat, ia selalu takjub dengan kesederhanaan dan kerendahan hati para kiai Indonesia.

"Tidak hanya tempat saya nyantri, saya juga senang sekali safari religi ke pesantren-pesantren di daerah, bertemu dengan kiai-kiai yang membuat takjub dengan kombinasi antara tingginya ilmu dan rendahnya hati mereka," pungkasnya.

(bri/ern)