Waspada La Nina di Pantai Selatan Jabar

Faizal Amiruddin - detikNews
Selasa, 19 Okt 2021 15:43 WIB
Perahu nelayan sandar di pantai timur Pangandaran. Cuaca buruk membuat sebagian besar nelayan tak melaut.
Pantai Pangandaran (Foto: Faizal Amiruddin/detikcom)
Pangandaran -

Nelayan di Kabupaten Pangandaran dan wilayah selatan Jawa Barat diimbau waspada. Karena dalam beberapa pekan mendatang akan datang fenomena La Nina yang bisa mengganggu aktivitas kemaritiman.

"Untuk wilayah Jawa Barat sekarang sudah masuk musim hujan, kemudian ada fenomena La Nina. Walaupun masih kategori moderat, masyarakat harus waspada," kata Kepala Balai BMKG Wilayah II Tangerang Hendro Nugroho, usai acara pembukaan sekolah lapangan cuaca nelayan (SLCN) 2021 di kampus Poltek Perikanan dan Kelautan Cikidang Pangandaran, Selasa (19/10/2021).

Puluhan nelayan di Kabupaten Pangandaran mengikuti acara yang dihelat Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap itu. Tujuannya untuk membuat nelayan bisa memanfaatkan informasi cuaca yang dikeluarkan BMKG.

"BMKG berupaya memberikan pemahaman kepada nelayan terkait iklim dan cuaca kemaritiman. Kita beri cara-cara menerjemahkan informasi-informasi yang kami keluarkan," kata Hendro.

Hal lain yang tak kalah penting, menurut Hendro, yakni upaya mengubah paradigma nelayan, yang selama ini pergi mencari ikan diubah menjadi menangkap ikan. "Kita ingin ubah dari nelayan pencari ikan menjadi penangkap ikan. Kalau mencari ikan kan random, tak jelas tujuannya. Kalau menangkap ikan nelayan sudah punya tujuan, sudah memiliki target lokasi ikan," ujarnya.

Hendro menjelaskan selain memberikan informasi seputar kondisi cuaca, dalam aplikasi yang dirilis BMKG juga terdapat fitur fish finder. Dalam aplikasi itu bisa didapat informasi keberadaan ikan, untuk memudahkan nelayan saat melaut.

"Aplikasinya bernama Inawis. Bisa diakses langsung oleh nelayan, nah sekarang kita berikan pemahaman bagaimana menginterpretasikan semua informasi di aplikasi tersebut," kata Hendro.

Dia menambahkan nelayan tradisional selama ini memang memiliki kearifan lokal yang kerap dijadikan panduan untuk melaut dan mencari ikan. Namun akibat perubahan iklim yang tak menentu, perhitungan tradisional atau kearifan lokal itu terkadang meleset. Dari segi cuaca bisa membahayakan keselamatan dan dari segi pencarian ikan, jadi tidak produktif.

"Makanya kita kombinasikan kearifan lokal dengan ilmu pengetahuan dan teknologi," ucap Hendro didampingi Taruna sebagai Kepala Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap.

Sekretaris Dinas Perikanan dan Kelautan Pangandaran Bambang Suyudono mengatakan pengetahuan nelayan mengenai kondisi cuaca sangat penting karena berkaitan dengan unsur keselamatan dan produktivitas nelayan. "Kalau mengetahui kondisi cuaca yang akurat, nelayan bisa memutuskan apakah pergi melaut atau tidak. Jika tidak dibekali informasi akurat, selain membahayakan keselamatan juga bisa merugikan nelayan. Karena pergi melaut butuh modal, jika tak dapat ikan akibat cuaca buruk, jelas rugi mereka," tutur Bambang.

(bbn/bbn)