Round-Up

Heboh Jembatan 'Siluman' di Cianjur, Buntung Tanpa Akses Jalan

Ismet Selamet - detikNews
Selasa, 19 Okt 2021 08:40 WIB
Jembatan Leuwi Dahu di Kampung Cibitung, Kabupaten Cianjur, bikin warga bingung karena tidak punya jalan penghubung. Warga pun menjulukinya jembatan siluman.
Foto: Jembatan 'Siluman' di Cianjur (Ismet Selamet/detikcom).
Cianjur -

Warga Desa Cibokor, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur mengeluhkan pembangunan jembatan 'siluman' yang buntung. Pasalnya jembatan dengan nama Leuwi Dahu tersebut dibangun tanpa akses jalan.

Akibatnya jembatan yang memakan biaya hingga Rp 198 juta itu kini hanya bisa dipandangi tanpa bisa dilalui meski pembangunannya sudah rampung 3 pekan lalu.

"Selesai tiga pekan lalu, dan sampai sekarang belum bisa digunakan, karena tidak ada akses jalan. Kata warga mah jembatan siluman, karena cuma siluman yang bisa lewat situ," ujar Kepala Desa Cibokor, Elian Syahudin.

Selain tak ada akses jalan, jembatan tersebut posisinya juga cukup tinggi, yakni sekitar 3 meter dari permukaan tanah di sekitarnya. "Jadi kalaupun mau ke atas jembatan tersebut harus manjat dulu," tuturnya.

Elian menjelaskan jembatan sepanjang 11 meter dengan lebar sekitar 3 meter itu dibangun oleh Pemkab Cianjur, tepatnya melalui dinas PUPR. Anggaran pembangunan jembatan bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) dengan nilai Rp 198 juta.

"Dibangunnya oleh pihak ketiga. Kalau desa hanya penerima manfaat," ucapnya.

Saat ini ungkap Elian, warga masih mempergunakan jembatan lama terbuat dari bambu yang berada di sampingnya. Meskipun berbahaya karena tak ada pembatas, tapi warga tak punya pilihan lain.

"Ketika pembangunan jembatan baru, sengaja jembatan lama tidak dibongkar, karena kan kalau dibongkar nanti warga mau lewat mana, sekarang saja kan jembatannya belum bisa dimanfaatkan," tuturnya.

Elian berharap Pemkab Cianjur membantu pembangunan jalan menuju jembatan. Pasalnya, meskipun desa akan menganggarkan pembangunan dari anggaran dana desa, tidak akan cukup untuk membangun jalan di kedua sisi.

"Anggarannya cukup besar, karena harus dibangun di dua sisi jembatan. Ditambah harus dibangun juga TPT agar jalan tidak cepat rusak jika air sungai meluap. Kalau dari dana desa akan lama, makanya saya mendorong Pemkab juga membantu membangun jalan dan TPT-nya agar segera bisa digunakan warga," tuturnya.

Adam Syahidan (27), warga Ciboko mengaku bingung dengan adanya jembatan tersebut. Menurutnya masyarakat membutuhkan akses jembatan untuk beraktivitas, namun dengan kondisi tersebut masyarakat tetap tak bisa menggunakannya.

"Selama ini Warga berharap ada jembatan permanen, karena selama ini harus melalui jembatan bambu yang kadang membuat pengendara sepeda motor jatuh. Tapi sudah ada jadi bingung, karena tidak ada akses jalan ke jembatan," kata dia.

Dia mendesak pemerintah segera membangun jalan, sehingga jembatan tersebut bisa dimanfaatkan. "Ya kami hanya berharap sekalian dibangun jalannya, supaya cepat bisa digunakan. Jadi warga mengirim hasil bumi juga mudah," ujarnya.

Sementara itu, Bupati Cianjur Herman Suherman mengaku terpaksa meneruskan dan menyelesaikan pembangunan jembatan 'siluman' meski tidak ada akses jalan. Herman berdalih jika hal itu dilakukan untuk menyelamatkan anggaran.

Menurutnya pada perencanaan awal, jembatan tersebut berada di jalur awal, dimana jembatan bambu dibangun. Namun lantaran ketinggian jembatan masih cukup rendah dan khawatir terhantam luapan air sungai, jembatan pun ditinggikan dan arahnya dialihkan.

"Jadinya ditinggikan, terus arahnya digeser untuk mempermudah akses jalan yang nantinya akan dibangun," ujar Herman.

Herman mengatakan perubahan tersebut membuat anggaran yang ada hanya cukup untuk pembangunan jembatan utama. Akibatnya tidak ada akses menuju jembatan tersebut.

"Daripada jembatannya tetap rendah, terus dihantam air hingga rusak. Makanya diubah. Untuk menyelamatkan anggaran, supaya tidak sia-sia membangun jembatan," tuturnya.

Ia mengaku akan berkomunikasi dengan Dinas PUPR terkait jalan menuju jembatan, sehingga jembatan tersebut bisa segera digunakan.

"Iya nanti coba dikomunikasikan dengan Dinas PUPR, untuk jalannya seperti apa. Apakah oleh Pemkab atau desa, supaya secepatnya dibangun dan bisa digunakan jembatannya," ucap dia.

(mso/mso)