Unak Anik Jabar

Pusaka Berwujud Perempuan di Balik Pesona Curug Cigentis

Yuda Febrian Silitonga - detikNews
Senin, 18 Okt 2021 11:29 WIB
Curug Cigentis Karawang
Curug Cigentis Karawang (Foto: Yuda Febrian Silitonga/detikcom)
Karawang -

Di balik pesona air terjun Curug Cigentis Karawang, ada sebuah kisah yang melegenda soal sosok perempuan bernama Nyi Gentis Sari. Bagi mayoritas masyarakat Karawang, cerita Nyi Gentis Sari mungkin masih asing terdengar di telinga.

Kisah tersebut diungkapkan Abah Konong (56), pengelola dari Curug Cigentis Karawang yang juga tokoh masyarakat setempat. Abah Konong menuturkan asal-usul Curug Cigentis tidak lepas dari legenda Nyi Gentis Sari.

Konon diceritakan, Nyi Gentis Sari merupakan perwujudan pusaka milik Eyang Resi Tajimalela yang dibuang ke laut oleh para wali. "Jadi pusaka Eyang Resi Tajimalela itu sempat dibuang ke laut oleh para wali. Namun setelahnya, sosok perempuan cantik tiba-tiba datang secara misterius ke para wali saat musyarawah penyebaran syiar Islam," kata Abah Konong saat ditemui di Curug Cigentis Karawang, Senin (18/10/2021).

Dibuangnya pusaka Eyang Resi Tajimalela ke laut, karena para wali beranggapan pusaka itu akan memecah belah para wali untuk misi penyebaran dakwah islam. "Jadi dibuang ke laut karena pusaka itu sempat menjadi rebutan oleh para wali sendiri. Oleh karena itu, godaan pusaka yang begitu kuat membuat para wali memutuskan untuk membuangnya," tutur Abah Konong.

Cerita turun temurun ini menyebutkan saat para wali bermusyawarah di Panca Tengah Buana atau saat ini Gunung Sanggabuana, tiba-tiba sosok perempuan misterius menghampiri para wali. Kemudian perempuan itu mengungkapkan asal-usulnya.

"Saat ditanya siapa nama dan dari mana, perempuan yang menghampiri para wali menjawab dari pusaka yang dibuang ke laut," kata Abah Konong.

Setelah itu, para wali kemudian menyuruh perempuan misterius itu untuk bersuci. Namun karena tidak ada air untuk wudu, para wali memanjatkan doa.

"Setelah para wali berdoa meminta air, setelah itu tiba-tiba air mengalir di sela bebatuan dan perempuan itu lalu bersuci," ucapnya.

Usai bersuci, perempuan itu diberikan nama oleh para wali dengan nama Nyi Gentis yang bermakna penyangga atau penjaga. "Jadi nama Nyi Gentis Sari diberikan oleh para wali yang artinya penyangga panca tengah buana yang kemudian dikenal Curug Cigentis," tutur Abah Konong.

(bbn/bbn)