Unak Anik Jabar

Horor Suara Jerit dan Tawa Anak-anak di Eks Waterpark Pangandaran

Faizal Amiruddin - detikNews
Jumat, 15 Okt 2021 09:01 WIB
Eks waterboom di Pangandaran
Foto: Eks waterboom di Pangandaran (Faizal Amiruddin/detikcom).
Pangandaran -

Bangunan eks wisata air atau waterpark di kawasan Lembah Puteri Desa Putrapinggan, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran menyimpan cerita misteri. Area bekas tempat wisata yang berada di bawah bukit dan tepat di pinggir pantai itu, dipercaya sebagian warga dihuni makhluk tak kasat mata.

Cerita horor yang konon terjadi di tempat itu adalah suara gaduh layaknya suasana kolam renang. Tawa dan jerit anak-anak yang sedang berenang, acapkali terdengar di waktu-waktu tertentu.

"Pernah samar-samar terdengar suara seperti suasana waterboom aja. Suara anak-anak gitu, suara air tumpah," kata Samin (35), warga Desa Wonoharjo Pangandaran.

Dia mengaku mengalami itu saat sedang memancing di sekitar muara Putrapinggan. Jarak tempat Samin memancing dengan lokasi water park itu padahal cukup jauh, sekitar 500 meter.

"Wah sudah lama kejadiannya, sebelum Corona. Saya mancing sampai malam, terdengar suara seperti itu, langsung pindah. Ngeri juga, tidak kuat bertahan lama-lama," kata Samin.

Samin mengatakan kisah mistis di sekitar bangunan eks water boom itu sudah terkenal di sebagian masyarakat. "Banyak yang punya pengalaman horor di water boom itu. Dulu kan pernah dijadikan tempat acara uji nyali. Coba aja cek di YouTube, banyak yang bikin video horor, sengaja datang ke sana," kata Samin.

Eks waterboom di PangandaranEks waterboom di Pangandaran Foto: Faizal Amiruddin

detikcom mencoba menjajal mendatangi tempat itu pada Kamis (14/10/2021) petang. Akses masuk ke kawasan itu tak jauh dari Lembah Puteri Desa Putrapinggan. Putrapinggan adalah wilayah desa sebelum tiba di pantai Pangandaran, kawasan jalan lurus setelah melalui jalanan berliku hutan Emplak.

Kesan angker langsung menyergap ketika sampai di bangunan terlantar itu. Beberapa bagian tubuh merinding. Entah karena sugesti horor yang sudah melekat di kepala atau karena hembusan kuat angin laut.

Bangunan-bangunan yang rusak, kolam yang terbengkalai, rumput liar dan suara-suara binatang dari atas bukit membuat nyali ciut. Suasana sunyi dan rasa takut adanya reptil berbisa, semakin membuat suasana tak nyaman berlama-lama seorang diri di tempat itu.

"Tutupnya sekitar tahun 2010 atau 2011, sejak saat itu bangunan ini dibiarkan terlantar. Tak diurus oleh pemiliknya," kata salah seorang warga perkampungan yang jaraknya sekitar 500 meter dari lokasi.

Pria paruh baya tersebut tak berkenan ditulis namanya, hanya karena dia memiliki pengalaman dan pemikiran yang berbeda dengan asumsi kebanyakan orang mengenai kawasan eks waterpark tersebut.

"Selama saya tinggal di sini belum pernah mendengar atau melihat hal-hal mistis atau menakutkan. Bahkan suara gaduh seperti anak-anak berenang juga belum pernah, padahal rumah saya tidak jauh-jauh amat," katanya.

Dia mengakui bangunan itu pernah dijadikan tempat syuting uji nyali dan kerap didatangi para YouTuber untuk membuat konten horor.

"Sering dijadikan tempat syuting. Itu mah hak mereka mau katanya banyak hantu atau apapun. Yang jelas saya belum pernah menemukan apa yang mereka kisahkan. Warga di sini biasa aja," kata dia.

Dia juga mengatakan kawasan itu sering didatangi oleh anak-anak muda, yang sekedar main-main dan dijadikan tempat hunting foto. Jejaknya bisa terlihat dari banyak coretan atau vandal di seluruh bagian bangunan.

"Kadang-kadang ada juga yang sengaja foto-foto, membawa kamera besar-besar, perempuan cantik-cantik," katanya.

Menurut dia objek wisata ini beroperasi tak sampai 2 tahun. Padahal sebelum tutup dan sisa bangunannya dibiarkan terbengkalai, kawasan ini menjadi destinasi wisata yang cukup ramai pengunjung. Betapa tidak, water park ini sangat unik karena berada di tepi pantai. Kombinasi wisata buatan dengan wisata alam ini, memberikan pengalaman yang berbeda.

"Selama 4 bulan sejak pertama buka, wah ramai sekali. Tiket promosi cuma Rp 10 ribu. Nah setelah itu tiketnya naik menjadi Rp 25 ribu, mulai sepi sampai akhirnya bangkrut," ujarnya.

(mso/mso)