Sejarah Sebelum Jembatan Gantung Pandeglang Dibangun dan Kini Ambruk

Rifat Alhamidi - detikNews
Senin, 18 Okt 2021 10:51 WIB
Jembatan gantung penghubung dua kecamatan di Pandeglang, Banten ambruk pada Jumat (15/10/2021). Pemicunya, diduga terjadi lantaran umur jembatan yang sudah tua.
Foto: Jembatan gantung di Pandeglang ambruk (Rifat Alhamidi/detikcom).
Pandeglang -

Jembatan gantung yang menghubungkan dua kecamatan di Pandeglang, Banten ambruk pada Jumat (15/10). Ternyata sebelum dibangun, selama puluhan tahun warga tak punya akses jembatan dan hanya bisa mengandalkan sarana perahu eretan untuk melintasi Sungai Ciliman, Pandeglang.

Kisah tersebut dituturkan oleh Sarmain, ketua RT di perkampungan yang tepat berdekatan dengan lokasi jembatan. Pria berusia sekira 60 tahunan itu mengaku, sudah menekuni pekerjaan sebagai penarik eretan selama 30 tahun sebelum jembatan gantung di kampungnya akhirnya dibangun pada tahun 2015 lalu.

"Satacan eta jembatan aya, abdi tos 30 tahun narik eretan di dinya. Warga di dieu mun rek nyebrang makena eretan parahu bae soalna teu aya jambatan (Sebelum ada jembatan, saya udah 30 tahun narik eretan. Warga di sini kalau mau nyebrang pakainya eretan perahu soalnya enggak ada jembatannya)," katanya saat berbincang dengan detikcom ketika ditemui di kediamannya, Sindangresmi, Pandeglang, Banten, Senin (18/10/2021).

Dalam sehari, Sarmain mengaku bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah dari pekerjaan sebagai penarik eretan perahu mulai dari Rp 70 ribu sampai Rp 100 ribu. Tapi masalahnya, pekerjaan itu tidak datang setiap hari lantaran perahu yang ia gunakan merupakan milik orang lain.

"Seminggu paling geh tiga kali paling banyak empat kali narik eretan, itu juga untungnya dibagi sama yang punya perahu. Misalkan kalau sehari saya dapat Rp 400 ribu, itu buat saya cuma Rp 70 ribu doang," ungkapnya.

Biasanya kata Sarmain, warga yang mengandalkan perahu eretan untuk menyebrang merupakan pedagang yang berbelanja bahan pokok ke desa seberang. Pasalnya, di kampung Sarmain tak ada toko-toko grosir besar yang bisa dimanfaatkan warga untuk membeli kebutuhan isi warung dagangan mereka.

Bukan hanya itu, anak-anak di kampung Sarmain pun kerap menyebrang Sungai Ciliman untuk berangkat ke sekolah menggunakan perahu eretan. Pemandangan itu biasa Sarmain lihat setiap hari sebelum bangunan jembatan gantung itu berdiri.

"Kalau anak-anak sekolah yang nyebrang, biasanya enggak saya patok (tarif penyeberangannya). Seadanya aja, kalau ada seribu ya enggak apa-apa, dua ribu juga enggak apa-apa. Ke yang lain juga sama, tapi kadang kalau yang ngerti mah dia suka ngasih Rp 5 ribu sampe Rp 10 ribu. Alhamdulillah, itu saya terima aja," tuturnya.

Menjadi seorang penarik perahu eretan, Sarmain pun sudah memiliki segudang kisah yang diceritakan kepada wartawan. Salah satunya, kisah pilu ketika banjir besar menerjang Sungai Ciliman hingga membuatnya kesulitan menjalankan pekerjaannya tersebut.

"Yang susah itu kalau air udah naik, berat soalnya narik eretannya. Apalagi kadang kalau tengah malem, itu suka ada warga yang mau pulang ngebel (nelpon) saya minta dianterin pake eretan. Mau enggak mau harus diturutin kalau udah gitu," terangnya.

Hingga pada 2015 lalu, Pemkab Pandeglang menggelontorkan dana dari APBD untuk membangun jembatan gantung di desa Sarmain. Dikutip dari laman LPSE Pandeglang, saat itu pemkab menyiapkan pagu anggaran untuk proyek pembangunan jembatan gantung ini sebesar Rp 761 juta.

Sarmain masih ingat, sebulan sebelum proyek itu dimulai, ia didatangi oleh seorang pegawai di Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (kini Dinas PUPR) Pandeglang. Pegawai dinas itu memintanya supaya berhenti menarik perahu eretan lantaran sudah mulai berusia senja, dan memastikan pembangunan jembatan gantung akan segera dilaksanakan untuk memudahkan konektivitas warga ke desa seberang.

"Dia (pegawai Dinas Bina Marga) bilang gini ke saya waktu itu, bapak udah mending berhenti narik eretan lagi yah, ini bentar lagi mau ada jembatan. Kasihan bapaknya udah tua, mending cari kerjaan lain aja yang enggak terlalu cape. Eh bener, sebulan pas dia udah ngomong kayak gitu, itu jembatannya beres," ujar Sarmain sembari menirukan percakapannya waktu itu dengan pegawai Dinas Bina Marga Pandeglang.

Namun kini, jembatan yang menjadi akses terdekat warga ke desa seberang itu ambruk dan tak bisa digunakan lagi sejak Jumat (15/10) lalu. Sarmain pun berharap pemerintah segera memperbaiki jembatan gantung itu karena merupakan satu-satunya sarana penyebrangan paling dekat dibanding harus melalui jalan yang lain.

"Kalau muter kejauhan, belum lagi jalannya yang banyak batu. Kan kasihan kalau anak-anak sekolah harus muter ke sana, bisa kesiangan terus tiap hari. Jadi, kami pengennya jembatan itu cepet diperbaiki lagi, biar aktivitas kami jadi normal, perekonomian kita juga enggak kehambat," pungkasnya.

(mso/mso)