Orang Pinggiran

Kisah Endun, Kehilangan Satu Kaki Terlindas Kereta Saat Usia 15 Tahun

Muhammad Iqbal - detikNews
Minggu, 17 Okt 2021 15:33 WIB
Kisah Endun Rukmana yang kehilangan satu kakinya gegara terlindas kereta
Kisah Endun Rukmana yang kehilangan satu kakinya gegara terlindas kereta (Foto: Muhammad Iqbal)

Menginjak usia 17 tahun, di saat anak seusianya sudah mulai bekerja dan dapat menghasilkan uang, ia mendapatkan dorongan dari sang kakak agar belajar menjahit.

Atas dasar usia dan ingin cari pengalaman, ajakan itu diterimanya dengan syarat, belajar menjahit di rumah.

Hari demi hari, tahun demi tahun, akhirnya ia kembali menemukan semangat untuk hidup. Setelah memiliki cukup modal, dirinya mencoba membuka toko menjahit milik sendiri.

Hanya dengan satu kaki, tidak membuatnya kesulitan saat menggunakan mesin jahit. Tangannya pun cukup cekatan dan hasilnya memuaskan pelanggan.

Tidak lama, tempat menjahitnya ramai pelanggan. Ia bahkan sudah punya tiga pekerja yang membantunya di toko.

Di usianya yang masih muda, ia pun mencoba pengalaman baru dengan membuka toko peternakan ayam.

"Saya bosen dan takut aja, kalau menjahit sering bikin janji baju beres besok tapi gak beres karena kebanyakan pesenan. Jadinya saya sering ingkar janji. Jadi saya ganti usaha," katanya.

Namun di tahun 1998, terjadi krisis moneter dan memaksa bisnisnya bangkrut.

Sudah terbiasa dengan guncangan hidup, ia pun tidak menyerah dan mencoba kembali bisnis peternakan ayam. Namun, kini usaha peternakan ayamnya tidak dilajutkan dan lahannya dijual.

Kini dirinya sudah tidak sanggup lagi bekerja. Ia memilih berdiam diri di rumah dan menikmati masa tuanya.

"Saya sekarang di kodim, 'kolot di imah' (tua di rumah) hahahaha," ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak.

Dirinya pun menemukan sang pujaan hati yang kini menjadi pendamping hidupnya. Wanita itu menerima dirinya apa adanya. Ia pun memutuskan untuk meminang sang kekasih di saat masih membuka toko menjahit.

Di usia tuanya, ia hidup bahagia didampingi semua penghuni rumah. Kini ia sudah memiliki 11 anak dan tujuh cucu. Mereka mendampingi Endun dengan suka cita.

Endun mengaku tidak trauma dan dapat menikmati hidup di samping rel kereta. Rel kereta memberinya manis dan pahit kehidupan.

"Alhamdulilah gak trauma sekarang, paling takut aja ngeliat anak main ke rel. Kadang saya suruh jangan main di sana," ucapanya lagi.

Kisah hidup Endun hanyalah sepenggal cerita dari mereka yang berjuang untuk hidup dan sedikitnya memberi pelajar. Seperti lanjutan dalam lirik, 'Syukuri apa yang ada. Hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini. Melakukan yang terbaik. Jangan menyerah'.


(mud/mud)