ADVERTISEMENT

Tanah di TPI Labuan Padeglang Ambles, Perahu Nelayan Susah Bersandar

Rifat Alhamidi - detikNews
Kamis, 14 Okt 2021 17:45 WIB
Tanah di TPI Labuan ambles, kapal nelayan sulit bersandar
Tanah di TPI Labuan ambles, kapal nelayan sulit bersandar (Foto: Rifat Alhamidi)
Pandeglang -

Sejumlah nelayan di Kecamatan Labuan, Pandeglang, Banten mengeluhkan amblesnya tanah di lokasi tempat pelelangan ikan (TPI). Gegara hal itu, perahu mereka jadi susah bersandar saat mengangkut ikan.

Camin, nelayan setempat mengatakan, amblesnya tanah di lokasi pelelangan sudah terjadi sejak pekan lalu. Ia dan rekan-rekannya pun mengaku kesulitan ketika mau menyandarkan kapal di lokasi pelelangan lantaran banyaknya puing-puing tembok yang berserekan gegara amblesnya tanah tersebut.

"Udah dari minggu lalu kejadiannya. Kita jadi susah mau ngangkut ikan ke TPI, itu kan ada besi sama bekas coran juga, jadi kita takut kena perahu, takut jeblok," katanya kepada wartawan saat ditemui di lokasi, Labuan, Pandeglang, Kamis (14/10/2021).

Berdasarkan pantauan, tanah amblas ini terjadi tepat di bibir tempat pelalangan ikan yang memang biasa digunakan nelayan untuk menyandarkan perahunya. Tembok sepanjang 75 meter itu mengalami retak-retak dan amblas sekira 40 meter, hingga menutup jalur perahu nelayan untuk bersandar lantaran puing-puing reruntuhannya berserakan di lokasi tersebut.

Selain itu, Camin pun menduga keberadaan proyek jembatan penyebrangan orang (JPO) di lokasi pelelangan ikut mengakibatkan kondisi tanah di sana menjadi amblas. Pasalnya, JPO ini diketahui memotong tembok pelelangan sekira hampir dua meter untuk dibuat menjadi pondasi jembatan.

"Semenjak ada jembatan, tanahnya jadi kayak gini (amblas). Sebelumnya mah enggak pernah kayak gini, ada banjir bandang geh kuat itu tembok. Tapi pas ada proyek itu, tanahnya jadi amblas," ungkapnya.

Selain tanah amblas, proyek jembatan itu dikeluhkan lantaran menghambat akses keluar masuk perahu nelayan di sekitar TPI. Pasalnya, para pekerja proyek terpantau membuat jalan yang menutup setengah jalur keluar masuk perahu untuk pengerjaan jembatan.

"Sekarang harus ngantri kalau mau keluar masuk kapal, jadi susah. Biasanya kan enak, dua kapal juga bisa masuk, ini mah harus nunggu satu-satu kalau ada yang lewat. Banyak keganggu lah pokoknya mah kang," keluhnya.

Camin pun berharap masalah tanah amblas dan puing-puing yang menganggu aktivitas nelayan di sana segera bisa diselesaikan. Camin hanya ingin aktivitasnya dalam mengangkut ikan di lokasi pelelangan bisa normal kembali dan perahunya bisa bersandar di dekat TPI.

"Ya harapannya sih maunya ini dibetulin secepatnya. Tembok yang amblas cepet dibetulin, sama puing-puingnya diangkat semua. Sebab itu ganggu ke kita, bongkar muat ikannya jadi kehambat," tandasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Camat Labuan Ace Januarji mengaku belum menerima keluhan tersebut dari warga. Namun demikian, ia memastikan akan segera mengecek permasalah itu bahkan siap memberikan teguran jika memang masalah tanah amblas di lokasi pelelangan diakibatkan oleh adanya proyek JPO.

"Saya belum dapat informasinya, ini terima kasih sudah diinformasikan. Nanti saya kroscek segera, kalau ternyata betul akibat JPO nanti saya pastikan tegur pengembangnya," pungkasnya.

Pihak pengelola pelelangan pun menyebut, tanah yang amblas salah satunya akibat usia TPI yang sudah berumur sekira 15 tahun.

"Usia TPI ini memang sudah lama, sudah tua juga karena kalau tidak salah dibangunnya itu 15 tahun yang lalu. Jadi kemungkinannya bisa (tanah amblas) gara-gara itu," kata Manajer TPI Labuan Jumadi kepada wartawan saat dikonfirmasi.

Selain faktor tersebut, Jumadi juga mengaku keberadaan proyek pembangunan JPO di sekitar lokasi pelelangan ikut mengakibatkan tanah di sana menjadi amblas. Pasalnya ia menyebut, pembangunan JPO turut memutus sebagian tembok pelelangan untuk keperluan pondasi jembatan.

"Di situ (menunjuk proyek) kan ada pembangunan JPO, dia mutusin pondasi yang ada di TPI. Maka terjadilah kehancuran kayak gini karena tembok penahannya enggak ada, amblas jadinya," ungkapnya.

Karena amblesnya tanah di pelelangan, Jumadi menyatakan aktivitas nelayan menjadi terhambat. Untuk solusi sementara, pihak pelelangan telah membuat dermaga yang terbuat dari kayu kepala supaya perahu nelayan bisa bersandar dan memudahkan saat bongkar muat tangkapan.

"Ini buat jembatan (dermaga) supaya kapal-kapal nelayan bisa nyandar. Karena kalau kami tidak berinisiatif kayak gini, kemungkinan nelayan akan kabur dari TPI," tuturnya.

Ia pun berharap pihak pihak berwenang bisa segera menyelesaikan masalah tanah amblas di pelelangan yang ia kelola. Sebab jika tak segera diperbaiki, ia makin khawatir suatu saat malah akan timbul korban jiwa akibat kejadian tersebut.

"Kalau dibiarkan lama, kami khawatir bisa timbul korban. Maka harapan kami pihak terkait bisa secepatnya menangani masalah tanah amblas di pelelangan ini," pungkasnya.

(mud/mud)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT