Babak Baru Kasus ASN Diduga Aniaya Anak Tiri di Pandeglang

Rifat Alhamidi - detikNews
Senin, 11 Okt 2021 15:25 WIB
Ilustrasi kekerasan anak Bullying
Ilustrasi kekerasan anak (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)

Psikolog Soroti Kasus ASN Aniaya Anak Tiri

Psikolog asal Pandeglang, Rika Kartikasari, ikut menyoroti kasus ini dan mendorong polisi terus mengusut laporannya hingga tuntas. "Karena begini, efek yang ditimbulkan atas dugaan penganiayaan itu pasti ada. Ini kan masuknya ke KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) ya, itu efeknya bisa sampai si anak ini dewasa," katanya saat berbincang dengan detikcom melalui sambungan telepon, Senin (11/10/2021).

Rika menyatakan, KDRT bahkan bisa memberikan efek perubahan kepribadian terhadap anak yang menjadi korbannya. Ia pun menyoroti kasus ini jika menemui jalan buntu dan akhirnya diselesaikan melalui jalur damai, sang oknum ASN itu bisa saja terulang lagi di kemudian hari.

"Kalau misalnya dia damai terus korbannya masih berinteraksi sama pelaku, ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Perilaku KDRT itu akan terulang lagi, atau korbannya yang malah menghindari pelaku karena dia merasa takut," ujarnya.

Ia lantas mendorong polisi menyelesaikan perkara ini hingga sang anak tak merasa trauma kembali. Pasalnya, menurut Rika, anak yang mengalami dugaan KDRT akan mendapat trauma berkepanjangan hingga menjadi dewasa jika tak didampingi secara serius.

"Karena kalau sampai ada perubahan kepribadian atas efek KDRT ini, waktu pemulihannya itu jangka panjang. Meskipun nanti misalnya diproses secara hukum atau tidak, tetap kepribadian si anak ini akan berbeda dengan orang yang tidak mengalami kekerasan di rumah. Maka, memang harus ada pendampingan serius untuk pemulihan rasa traumanya," tutur Rika.

Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) Pandeglang Ahmad Subhan menegaskan perlu ada pemulihan secara intensif kepada sang anak yang diduga menjadi korban penganiayaan oleh oknum ASN ini. Sang anak pun perlu mendapat pendampingan dari psikolog karena khawatir ulah ayah tirinya itu malah akan menimbulkan trauma yang berkepanjangan.

"Kami juga sudah koordinasi dengan APH yang menangani kasus ini, tentu akan kami dampingi terus pemulihannya secara intensif. Karena kami khawatir ini menimbulkan trauma, walaupun kemarin pas konsultasi si anak itu belum menunjukkan tanda-tanda (trauma) tersebut," ucap Ahmad.


(bbn/bbn)