ADVERTISEMENT

Unak Anik Jabar

Kisah Meriam Tua di Museum Kasepuhan Cirebon, Saksi Romantisme Cinta Raja

Sudirman Wamad - detikNews
Jumat, 08 Okt 2021 08:03 WIB
Meriam koleksi Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon.
Foto: Meriam koleksi Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon (Sudirman Wawad/detikcom).
Cirebon -

Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, menyimpan ribuan benda pusaka peninggalan era Cirebon awal hingga kolonial. Salah satunya kumpulan meriam tua yang menjadi saksi kedekatan hubungan antara Cirebon dan Cina, serta pembebasan Jayakarta dari tangan Portugis.

Benda bersejarah itu tersimpan di ruang tengah Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon, tepatnya di belakang kereta Singa Barong. Meriam-meriam terbagi menjadi tiga jenis, yakni meriam Mongolia, India dan Portugis. Masing-masing memiliki kisah.

Meriam koleksi Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon.Meriam koleksi Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon. Foto: Sudirman Wamad

Meriam Mongolia merupakan saksi romantisme hubungan antara kerajaan Cirebon dan Cina era Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah. Kedatangan meriam Mongolia itu bersama dengan pertemuan antara Putri Ong Tien dan Sunan Gunung Jati di tanah Cirebon.

"Meriam Mongolia itu hadiah dari Cina, ya era Putri Ong Tien. Selain membawa pernak-pernik keramik, Putri Ong Tien juga membawa pasukan beserta kelengkapan perangnya, salah satunya meriam," kata pemerhati sejarah dan budayawan Cirebon Jajat Sudrajat saat berbincang dengan detikcom, Kamis (7/10/2021).

Sunan Gunung Jati menikahi Putri Ong Tien pada awal abad 15. Usia pernikahan terbilang pendek sekitar empat tahun karena Putri Ong Tien wafat.

Meriam koleksi Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon.Meriam koleksi Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon. Foto: Sudirman Wamad

Jajat mengatakan meriam Mongolia atau yang lebih dikenal meriam naga itu tak pernah digunakan kerajaan Cirebon dalam melawan penjajah. Masyarakat dan pasukan kerajaan memilih menggunakan senjata tradisional dalam melawan penjajah.

"Tidak ada catatan sejarah atau pitutur tentang digunakannya meriam naga untuk melawan kolonial," ucap Jajat.

Pembebasan Batavia

Meriam-meriam tua di Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon tak hanya mengisahkan hubungan romantis dua kerajaan. Meriam tua peninggalan Portugis mengisahkan sejarah penuh darah perjuangan pasukan kerajaan Cirebon dan Demak. Meriam Portugis bukanlah hadiah, melainkan rampasan perang.

Meriam Portugis merupakan saksi kehebatan pasukan kerajaan dari Cirebon dan Demak saat melawan penjajah di Jayakarta. Dalam catatan sejarah singkat di Museum Pusaka Cirebon, Raden Fatahillah atau Feletehan juga dikenal sebagai Ki Padhilah. Saat itu Fatahillah mendapat perintah dari Sultan Demak untuk bergabung dengan Cirebon. Fatahillah ditugaskan untuk menyerang Sunda Kelapa dan Banten.

Sultan Demak telah mengendus adanya perjanjian kerja sama antara Portugis dan Sunda Kelapa. Fatahillah bersama para pembesar dari kerjaan Cirebon bertolak menuju kerjaan Banten dan Sunda Kelapa dengan dikawal 1967 pasukan.

Banten berhasil ditaklukkan pada 1526. Setahun setelahnya Sunda Kelapa berhasil ditaklukkan. Fatahillah pun memimpin kerajaan tersebut. Bersamaan dengan itu, pasukan Fatahillah ini berhasil mengusir Portugis dari dua Sunda Kelapa. Setelah berhasil menaklukkan Sunda Kelapa, Fatahillah kemudian mengubah namanya menjadi Jayakarta.

"Meriam Portugis ini rampasan perang. Saksi sejarah penaklukan yang dilakukan pasukan Cirebon dan Demak untuk membebaskan Jayakarta dari tangan Portugis," kata Jajat.

(mso/mso)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT