Di Tangan Emak-Emak Indramayu, Batik Paoman Berjaya

Sudirman Wamad - detikNews
Sabtu, 02 Okt 2021 14:42 WIB
Batik Paoman, batik khas Indramayu
Foto: Sudirman Wamad
Indramayu -

Kelurahan Paoman, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, dikenal sebagai salah satu sentra batik. Emak-emak di Paoman memiliki andil besar dalam melestarikan batik Paoman, batik khas Indramayu.

Motif batik Paoman Indramayu identik dengan biota laut dan aktivitas nelayan. Motif ini erat kaitannya dengan sosial budaya masyarakat Indramayu sebagai daerah pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat. Berkat kreativitas dan perjuangan emak-emak Paoman, batik khas Indramayu ini kini bisa bersaing di pasar global.

Titik kejayaan batin Paoman bisa diterima pasar bermula dari ide salah seorang perajin batik yakni Siti Ruminah Sudiono pada tahun 1970. Menurut Ruminah, rata-rata masyarakat di Paoman Indramayu bekerja sebagai nelayan. Pada era itu, emak-emak di Paoman tak hanya sibuk mengurus pekerjaan rumah saat suaminya melaut, emak-emak memiliki kesibukan lain sebagai perajin batik.

"Saat itu tidak ada yang memasarkan. Saya berpikir untuk memasarkannya. Akhirnya saya pasarkan. Harus saya pasarkan, karena batik ini punya seni yang tinggi dan sejarah juga," kata Ruminah saat berbincang dengan detikcom di galeri batik miliknya Batik Paoman Art, Sabtu (2/10/2021).

Batik Paoman, batik khas IndramayuBatik Paoman, batik khas Indramayu Foto: Sudirman Wamad

Ruminah menjadi pengepul batik-batik yang dibuat emak-emak Paoman. Ruminah tergerak untuk melestarikan Batik Paoman. Kerja keras Ruminah memasarkan batik Poaman pun berbuah manis. Kini batik Paoman berhasil mendunia. Ruminah juga dikenal sebagai ibu angkat atau tokoh penggerak batik di Indramayu.

Dikutip dari indramayukab.go.id, saat ini jumlah unit usaha perajin batik di Paoman Indramayu mencapai 85 perajin. Industri batik di Paoman ini mampu menyerap tenaga kerja hingga 599 orang. Kapasitas produksinya mencapai 185.825.00 per tahun.

Ruminah mengatakan mayoritas motif batik Paoman berkaitan dengan aktivitas nelayan, seperti motif kapal kandas, etong dan udang. Ruminah mengatakan motif kapal kandas menggambar alat yang digunakan nelayan Paoman dalam memperjuangkan hidup keluarganya. Sementara, etong dan udang menggambarkan hasil tangkapan melaut yang mampu menghidupi keluarga.

"Sekarang sudah banyak pengembangan dan inovasi motif batik, ya kontemporer. Yang paling legendaris itu motif kapal kandas, etong dan udang," kata Ruminah.

Ruminah menyebutkan saat ini sebanyak 50 motif batik Paoman yang telah dipatenkan melalui Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). "Kalau ditotal bisa mencapai 164 motif batik," ucap Ruminah.

Sekadar diketahui, harga batik Paoman bervariasi. Per potongnya ada yang Rp 100 ribu hingga Rp 2 juta. Ia berharap batik Indramayu bisa terus berkembang dan tetap dilestarikan.

Sementara itu, Mustofa salah seorang pegawai perusahaan daerah di Indramayu mengaku langganan membeli batik Paoman setiap tahunnya. Ia mengatakan sebagai putra daerah memiliki kewajiban dalam melestarikan batik khas Indramayu.

"Saya beli untuk memperingati Hari Batik. Hari ini beli motif yang beli saya punya. Kita harus dukung perajin dan pelestarian batik," kata Mustofa.

(ern/ern)