Begini Strategi Mendes PDTT Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem

Bima Bagaskara - detikNews
Jumat, 01 Okt 2021 19:15 WIB
Menteri PDTT Abdul Halim Iskandar
Menteri PDTT Abdul Halim Iskandar (Bima Bagaskara/detikcom)
Kuningan -

Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) Abdul Halim Iskandar memiliki strategi untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem yang terjadi di Indonesia. Pria yang akrab disapa Gus Menteri ini menegaskan perlu penanganan serius di level desa yang diperkuat dengan data mikro.

"Jadi kemiskinan ekstrem itu ada di desa, jadi harus dilakukan penanganan level desa. Kalau level desa maka datanya harus data mikro, sehingga di situ jelas siapa, dimana, kondisi kemiskinannya kaya apa, treatment yang dibutuhkan untuk pengentasannya gimana," ucap Gus Menteri seusai meresmikan Graha Ahmad Bagdja di Desa Pajawan Kidul, Kuningan, Jawa Barat, Jumat (1/10/2021).

Selain itu, kata Gus Menteri, ada dua strategi penting dalam pengentasan kemiskinan ekstrem. "Yang pertama, pengurangan belanja, jadi penurunan kewajiban belanja. Ini satu-satunya cara adalah dengan program pemerintah, misal subsidi listrik, BPJS, Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, itu semua warga miskin ekstrem harus dapat itu," katanya.

"Dengan demikian mereka tidak harus keluar duit lagi untuk berobat, untuk menyekolahkan anak, untuk membayar BPJS karena sudah di-cover pemerintah, bayar listrik juga sudah disubsidi," ucap Gus Menteri menambahkan.

Sementara untuk strategi yang kedua, dia mengungkapkan penduduk miskin ekstrem harus bisa meningkat pendapatannya. Program peningkatan pendapatan seperti BLT, PKH dan BPNT harus berjalan tetap sasaran.

"Yang kedua meningkatkan pendapatan, BLT, bansos dana desa, PKH, bantuan pangan nontunai, berbagai program padat karya, itu digelontorkan untuk mereka agar mendapat peningkatan pendapat," ujarnya.

Melalui cara tersebut, Gus Menteri mengungkapkan, secara otomatis penghasilan penduduk miskin ekstrem akan bisa meningkat. "Kalau pengeluaran menurun dan pendapatan meningkat maka income-nya pasti akan tinggi," ucap Gus Menteri.

Strategi pengurangan belanja dan peningkatan pendapatan ini, Gus Menteri menjelaskan, dapat menangani masalah kemiskinan ekstrem. "Kalau dengan menurunkan pengeluaran karena semua gratis, kemudian dapat BLT misal satu bulan Rp 300 ribu, kemudian dapat PKH, sudah tertutup (kebutuhan) mereka. Itu bisa diselesaikan di tingkat desa," katanya.

Kuningan masuk dalam 5 kabupaten di Jawa Barat dengan tingkat kemiskinan ekstrem tertinggi, Gus Menteri menjelaskan saat ini tengah dilakukan pendataan dimana saja penduduk miskin ekstrem tersebut tinggal.

Menurutnya, dalam 10 hari ke depan, proses pendataan itu akan segera rampung. "Sudah jalan (pendataan), di Kuningan 80 persen selesai. Tinggal yang 20 persen, kata pak bupati 10 hari akan selesai, jadi Kuningan punya data lengkap di tingkat desa. Para kuwu punya data masing-masing," tutur Gus Menteri.

(bbn/bbn)