Ragam Pemicu dan 'Jadwal' Tawuran Pelajar di Sukabumi

Syahdan Alamsyah - detikNews
Rabu, 22 Sep 2021 20:24 WIB
Sukabumi -

Tawuran pelajar di Kabupaten Sukabumi tidak mengenal waktu. Peristiwa tawuran bukan hanya saat jam pulang sekolah, beberapa kasus terjadi malam dan dini hari. Insiden dua pelajar tewas akibat tawuran maut di lokasi berbeda terjadi pada waktu yang disebutkan terakhir.

Polisi sebenarnya tidak tinggal diam. Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah tawuran pelajar. Namun, seolah kucing-kucingan, para pelajar itu bisa mengakali petugas dengan cara 'janjian' melalui aplikasi perpesanan dan media sosial. Mereka menentukan serta menyepakati 'jadwal' atau waktu dan tempat tawuran.

"Langkah kepolisian sudah komprehensif sekali. Jajaran Binmas sudah masuk ke sekolah-sekolah untuk memberikan imbauan agar tidak terjadi tawuran atau melarang membawa senjata tajam. Sampai pengamanan polres-polsek jajaran. Ketika pelajar bubar sekolah, biasanya ada titik-titik tertentu yang rawan terjadi gesekan, hal itu pun sudah kita lakukan pengamanan," kata Kasat Reskrim Polres Sukabumi AKP Rizka Fadhila Rabu (22/9/2021).

Sejumlah kasus tawuran pelajar berujung maut terjadi di Kabupaten Sukabumi. Pelajar inisial AF ditemukan tidak bernyawa bersimbah darah dengan luka bacokan di sebuah gang di Kecamatan Cibadak, Sabtu (10/4) sekitar pukul 02.00 WIB. Warga setempat menyebut remaja 17 tahun itu terlibat tawuran.

Kejadian lainnya, seorang pelajar SMK di Kabupaten Sukabumi tewas setelah terlibat tawuran di Gang Sawo, ruas Jalan Sukabumi-Bogor, Kamis (5/8) malam, sekitar pukul 21.00 WIB. Soal 'jadwal' tawuran ini, Rizka menyebut ada kesepakatan antara para pelaku.

"Itu berawal dari saling sindir. Ada kesepakatan, lalu duel. Jadi mereka menentukan sendiri, baik lokasi maupun waktunya," ucapnya.

"Rata-rata hampir dari seluruh yang ditangani, perkelahian atau bentrokan itu biasanya diawali saling sindir di medsos. Saling lempar ejekan di medos yang berujung tantangan duel di suatu tempat. Dan ada pula historis sebelumnya atau turun temurun, entah ada kelompok satu dengan lain, ataupun institusi (sekolah) satu dengan yang lain. Apa pun alasannya, mereka bertemu dengan lawannya, di situlah menjadi sasaran," tutur Rizka menambahkan.

Polisi bisa melakukan tindakan represif ketika memang ada pelanggaran hukum yang terjadi. Namun, upaya itu tetap mengedepankan sistem peradilan anak, mengingat mayoritas pelakunya anak di bawah umur.

"Meskipun para pelakunya itu anak-anak, tetap tidak bisa lepas dari tanggung jawab. Kami tentunya akan mengedepankan sistem peradilan anak," ucap Rizka

(sya/bbn)