Ibu-ibu Kreatif Majalengka, Ubah Sampah Plastik Jadi Tas dan Tikar

Bima Bagaskara - detikNews
Rabu, 22 Sep 2021 15:51 WIB
Majalengka -

Kreatif, itulah sebutan yang layak disematkan kepada ibu-ibu di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Bagaimana tidak, di tangan ibu-ibu asal Blok Jatiserang, Desa Jatiserang, Kecamatan Panyingkiran, sampah plastik yang tampak tak berguna bisa dimanfaatkan menjadi kerajinan yang bernilai.

Ibu-ibu di daerah tersebut menyulap sampah plastik seperti kemasan kopi sachet, deterjen cair dan shampo menjadi aneka kerajinan cantik berupa tas dompet, keranjang belanja hingga tikar.

"Bikin kerajinan dari sampah plastik dibikin tas kecil, dompet, tikar ada yang dari bekas kemasan kopi, bungkus sabun cair itu yang kami lakukan di sini," ucap Yanti (48) salah satu ibu-ibu yang ikut membuat kerajinan saat ditemui detikcom, Rabu (22/9/2021).

Setidaknya ada 30 ibu-ibu di Desa Jatiserang yang ikut membuat kerajinan. Ibu-ibu tersebut tampak antusias saat membuat berbagai kerajinan hasil buatannya. Dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, sesekali mereka berkumpul di salah satu rumah untuk bersama-sama membuat aneka kerajinan.

Ibu-ibu asal Majalengka ini berhasil berkreasi dengan memanfaatkan sampah plastik.Ibu-ibu asal Majalengka ini berhasil berkreasi dengan memanfaatkan sampah plastik. Foto: Bima Bagaskara

Bahkan tidak sedikit dari ibu-ibu ini yang juga mengajak buah hatinya sembari mengerjakan kerajinan berbahan sampah plastik tersebut. Selain untuk mengisi waktu luang, membuat kerajinan dari sampah plastik juga bisa membuat ibu-ibu ini mendapat penghasilan tambahan.

"Kita buat ngisi waktu luang sebenarnya, kan sekarang istilahnya lagi di rumah saja jadi kita buat ngisi waktu jadi bikin kerajinan," kata Yanti.

Yanti menjelaskan proses pembuatan kerajinan itu diawali dari mencuci sampah plastik bekas sabun cair dan shampo. Setelah dicuci bersih, plastik-plastik itu digunting dengan ukuran yang sudah ditentukan untuk kemudian dirangkai.

Untuk membuat sebuah dompet kecil, Yanti mengungkapkan perlu waktu kurang lebih satu hari. Sementara untuk membuat sebuah tikar, diperlukan waktu setidaknya 3-4 hari.

Yanti menjelaskan bahan baku kerajinan berupa sampah plastik bekas kemasan tersebut didapat dari warung-warung dan juga limbah rumah tangga warga sekitar.

"Bikin ini gampang-gampang susah, susahnya nyari plastiknya ini karena kan harus sama. Kita minta ke warung-warung kalau ada plastik gini minta tolong dikumpulin. Terus juga ke semua warga minta untuk dipilih dulu sampahnya, kalau ada plastik seperti ini mohon dipisahkan," ungkapnya.

Untuk harganya, kerajinan buatan ibu-ibu Jatiserang ini memiliki nilai jual yang beragam. Dompet berukuran kecil misalnya, dijual seharga Rp 25 ribu, sementara untuk tas berukuran besar dan juga tiker, dijual seharga Rp 150 ribu.

Meski telah lihai membuat aneka kerajinan dari sampah plastik, namun ibu-ibu ini mengalami kendala di masalah pemasaran dan juga permodalan. Yanti mengaku kebingungan harus menjual kemana saat stok barang menumpuk.

"Kendalanya itu ketika sudah ada barangnya, sudah jadi, sudah banyak, kami gabisa memasarkan keluar, bingung pemasarannya, itu kendalanya. Untuk sementara ini paling jualnya ke warga sekitar aja," keluh Yanti.

"Pengennya sih ada bantuan dari pemerintah buat bantu memasarkan hasil kreasi kami ini. Kalau bisa juga dikasih bantuan modal juga," sambungnya.

Ibu-ibu di Jatiserang ini diketahui sudah sejak lama membuat kerajinan dari sampah plastik. Namun, di masa pandemi ini, semangat ibu-ibu ini naik berkali-kali lipat karena adanya aturan di rumah saja yang ditetapkan pemerintah.

"Sebelum pandemi sudah dimulai buat kerajinan ini, nah pas pandemi lebih giat lagi mereka karena kan banyak yang di rumah," ujar Yudi Adibrata, Pamong Desa Jatiserang.

Ibu-ibu asal Majalengka ini berhasil berkreasi dengan memanfaatkan sampah plastik.Ibu-ibu asal Majalengka ini berhasil berkreasi dengan memanfaatkan sampah plastik. Foto: Bima Bagaskara

Yudi mengakui dengan adanya ibu-ibu yang berkreasi membuat kerajinan tersebut sangat berdampak positif selain untuk perekonomian juga untuk lingkungan.

"Mereka berinisiatif membuat karya dari limbah plastik rumah tangga dan secara tidak sadar mereka juga ikut membantu menjaga lingkungan," terangnya.

Ia menegaskan untuk membantu memberdayakan ibu-ibu kreatif tersebut, Pemdes Jatiserang telah menyiapkan rencana pembentukan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) dan koperasi.

Nantinya kata Yudi, barang-barang buatan ibu-ibu akan dibeli oleh koperasi yang kemudian dipasarkan ke luar Majalengka dengan bantuan kerjasama dari dinas terkait.

"Kedepan untuk memberdayakan ibu-ibu ini kami menyiapkan rencana akan membuat BUMDes dan membuat wadah seperti koperasi. Jadi nanti produk mereka dibeli dulu oleh koperasi dan baru kita pasarkan hingga ke luar daerah," tutup Yudi.

(mso/mso)