Dinsos Bandung Barat Selidiki Sembako Ayam-Telur Busuk

Whisnu Pradana - detikNews
Senin, 20 Sep 2021 17:15 WIB
Warga Bandung Barat mengeluh terima paket sembako tak layak konsumsi
Warga Bandung Barat mengeluh terima paket sembako tak layak konsumsi (Foto: Istimewa)
Bandung Barat -

Dinas Sosial Kabupaten Bandung Barat (KBB) sudah mengecek soal paket sembako tak layak konsumsi dari program Bantuan Pangan non Tunai (BPNT) yang dikeluhkan sejumlah warga. Paket sembako tersebut diterima sejumlah warga Kampung Cinangka, RT 2 RW 6, Desa Rajamandala Kulon, Kecamatan Cipatat, KBB, beberapa hari lalu.

Warga menerima paket sembako yang berisi enam item dengan total harga mencapai Rp 200 ribu. Jenisnya yakni satu kilogram ayam potong, satu kilogram telur, 10 kilogram beras, tahu, kentang, dan buah pir.

Kepala Dinas Sosial KBB Sri Dustirawati mengatakan berdasarkan hasil penyelidikan sementara ke sejumlah warga, ada delapan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang menerima sembako tidak layak untuk dikonsumsi karena daging ayamnya sudah berbau busuk.

"Data sementara ada 8 KPM yang menerima sembako tidak layak konsumsi. Tapi kita juga tanya ke agennya soal penyaluran ini," kata Sri kepada wartawan, Senin (20/9/2021).

Pihaknya sudah menyampaikan usulan penggantian sembako BPNT dengan uang tunai ke pemerintah pusat melalui Dinas Sosial (Dinsos) Jawa Barat. "Kebetulan waktu itu juga ada polisi dan Kadinsos Jabar. Nah, terus para kadis mengusulkan supaya BPNT itu diganti uang tunai karena terlalu banyak masalah," ujar Sri.

Menurutnya, usulan tersebut diajukan karena masalah sembako busuk dalam program BPNT ini bukan hanya terjadi di Bandung Barat saja, tetapi terjadi juga di beberapa kabupaten-kota yang lain. "Jadi kan kalau kaya gini enggak akan beres-beres. Jadi, kita para kadis se-Jabar sepakat bahwa BPNT itu dialihkan dalam bentuk tunai. Misalnya, bisa juga digabungkan dengan Bantuan Sosial Tunai (BST)," tutur Sri.

Ia mengatakan alasan pengajuan agar sembako BPNT diganti dengan bentuk tunai itu supaya ekonomi lokal di kalangan masyarakatnya bisa berjalan, karena mereka bisa membeli sembako ke warung ataupun ke pasar sesuai kebutuhannya. "Apalagi kalau sekarang kan mereka tak hanya butuh sembako saja, mereka juga perlu obat, vitamin, dan masker. Jadi, itu alasan kita," ucap Sri.

(bbn/bbn)