Diintai Sesar Lembang, Warga Bandung Barat Ikut Simulasi Kegempaan

Whisnu Pradana - detikNews
Jumat, 17 Sep 2021 15:27 WIB
Warga antusias ikut simulasi gempa Sesar Lembang
Warga antusias ikut simulasi gempa Sesar Lembang (Foto: Whisnu Pradana)
Bandung Barat -

Masyarakat di Bandung Raya terutama yang tinggal di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kota Bandung, dan Kota Cimahi diwanti-wanti soal potensi kegempaan Sesar Lembang yang terus mengintai setiap waktu.

Sesar Lembang menjadi salah satu sesar aktif di Jawa Barat yang harus diwaspadai potensi bencananya. Berdasarkan kajian paleoseismologi (studi tentang kejadian gempa di masa lalu) sesar sepanjang 29 kilometer ini berpotensi akan melepaskan energinya dalam periodik 500 tahun sekali.

Dari kajian yang sama garis sesar yang membentang dari Gunung Batu Lembang hingga Padalarang ini pernah melepaskan energi yang besar pada tahun 1600 artinya potensi terjadinya gempa besar pada awal abad ke-22.

Menindaklanjuti hal tersebut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mengedukasi masyarakat yang diasumsikan bakal terdampak aktivitas Sesar Lembang, salah satunya dengan melakukan simulasi kegempaan.

Kali ini giliran warga Desa Cigugur Girang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang berlakon seolah-olah tengah merasakan getaran gempa Sesar Lembang. Mereka berhamburan menyelamatkan diri sesuai instruksi yang sebelumnya disampaikan petugas BNPB.

Warga diarahkan untuk menuju titik kumpul yang sudah disiapkan sebelumnya dalam mitigasi bencana yang meliputi rambu evakuasi hingga titik kumpul. Hingga ikut membantu evakuasi dan memberikan pertolongan pada korban gempa.

"Kita melakukan simulasi ini untuk meningkatkan kesiapsiagaan pemerintah daerah terhadap ancaman sesar lembang di wilayah KBB, Kota Bandung, Cimahi dan wilayah sekitarnya," ungkap Kepala Bidang Penyelenggaraan Pusdiklat BNPB,
Theodora Eva M kepada wartawan, Jumat (17/9/2021).

Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bandung Barat termasuk ke dalam daerah dengan indeks risiko bencana yang cukup tinggi lantaran diintai sejumlah potensi bencana mulai dari gempa bumi hingga gunung meletus.

"Pemilihan lokasi simulasi ini sesuai arahan dari Bappenas terkait daerah yang mempunyai indeks risiko bencana yang cukup tinggi. Kita lihat dulu indeks risiko bencananya untuk kemudian mencanangkan program prioritas," terang Theodora.

Theodora mengatakan BNPB berfokus pada upaya mempersiapkan pemerintah daerah setempat yang berperan sebagai penindak dan pihak yang paling awal menghadapi bencana tersebut.

"Kesiapan BNPB menghadapi potensi Sesar Lembang lebih kepada menyiapkan pemerintah daerah setempat sebagai penindak awal saat bencana terjadi. Jadi kami memberikan sosialisasi, peningkatan kapasitas pemerintah dan masyarakat serta akademisi," kata Theodora.

Dampak Sesar Lembang Belum Bisa Diprediksi

Namun hingga saat ini tak ada satupun pihak yang bisa memprediksi kapan Sesar Lembang bakal melepaskan energi hingga mengguncang wilayah yang dilaluinya sepanjang 29 kilometer dari Lembang sampai ke Padalarang.

"Hasil penelitian ahli ITB yakni tim geologi bahwa Sesar Lembang itu membentang dari Padalarang sampai Lembang. Tapi kita tidak bisa memprediksi kapan dan berapa kekuatan dari gempa patahan ini," ungkap Kepala Bidang Penyelenggaraan Pusdiklat BNPB, Theodora Eva M kepada wartawan, Jumat (17/9/2021).

Dampak dari Sesar Lembang diprediksi bakal sangat masif. Apalagi di garis sesar kini berdiri deretan bangunan rumah milik warga, sekolah, kantor pemerintahan, hingga bangunan komersil lainnya.

Theodora mengatakan ia tak bisa memprediksi berapa besar kerugian yang bisa ditimbulkan dari kerusakan akibat gempa Sesar Lembang tersebut.

"Kita tidak bisa prediksi berapa kerugiannya karena kita tidak tahu seberapa besar dan dahsyatnya gempa tersebut di daerah yang kita asumsikan akan berdampak," tutur Theodora.

Pihaknya justru menggarisbawahi soal kewaspadaan masyarakat yang berada di zona bahaya Sesar Lembang untuk lebih waspada dan mampu memitigasi dirinya sendiri serta keluarganya.

"Tapi kita belajar pengalaman daerah lain, kesiapsiagaan masyarakat menjadi andalan mengurangi dampak korban jiwa dan kerugian di lokasi kejadian bencana. Dan itu yang kita utamakan termasuk dengan melakukan simulasi ini," kata Theodora.

(mud/mud)