ADVERTISEMENT

Waspada Gempa Sesar Lembang, Begini Langkah BNPB

Yudha Maulana - detikNews
Selasa, 14 Sep 2021 13:18 WIB
Cerita Warga Soal Sesar Lembang
Sesar Lembang (Foto: Whisnu Pradana)
Bandung Barat -

Sesar Lembang menjadi salah satu sesar aktif di Jawa Barat yang aktivitasnya harus diwaspadai. Berdasarkan kajian paleoseismologi (studi tentang kejadian gempa di masa lalu) sesar sepanjang 29 kilometer ini berpotensi akan melepaskan energinya dalam periodik 500 tahun sekali.

Dari kajian yang sama garis sesar yang membentang dari Gunung Batu Lembang hingga Padalarang ini pernah melepaskan energi yang besar pada tahun 1600, artinya potensi terjadinya gempa besar pada awal abad ke-22.

Menindaklanjuti potensi bencana tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan simulasi penanggulangan bencana di provinsi Jawa Barat. Simulasi tersebut melibatkan empat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan pemangku kepentingan lainnya.

Kepala Pusdiklat BNPB Berton Panjaitan mengatakan, di Jawa Barat sendiri sedianya ada enam sesar yang mengancam. Selain sesar Lembang, ada juga Sesar Cimandiri, Sesar Baribis, Sesar Citarik, Sesar Garut Selatan (Garsela) dan Sesar Cipamingkis.

"Daerah senantiasa berusaha keras melakukan beberapa mitigasi untuk daerah rawan bencana, untuk pergerakan tanah mereka bekerjasama dengan PVMBG, Badan Geologi yang ada di sini. Saya kira Jabar merupakan daerah yang sangat peduli terhadap bencana, tapi masih banyak yang harus kita lakukan," ujar Berton di Hotel Papandayan, Bandung, Selasa (14/9/2021).

Berton mengatakan, keberadaan sesar-sesar tersebut sangat dekat dengan masyarakat bahkan jaraknya hanya berkisar 50-100 meter dari pusat sesar. Sejumlah properti dari pemerintah atau swasta pun tercatat berada dalam alur sesar tersebut.

"Ini yang harus kita waspadai, kita perlu simulasi seperti ini khususnya di masyarakat. Memang idealnya itu dilaksanakan bersama masyarakat, tapi karena COVID-19 kami belum berani melakukan di tingkat masyarakat khususnya di daerah Lembang sana," katanya.

Ia pun menitipkan agar warga tetap membekali diri dengan masker dan hand sanitizer di dalam kantung atau tas darurat selain perlengkapan bertahan hidup lainnya, khususnya bagi masyarakat yang berada di jalur gempa. "Begitu ada kedaruratan bisa langsung berkumpul di titik kumpul," kata Berton.

Sekretaris BPBD Jabar Budi Juanda mengatakan, saat ini Jabar tengah menyiapkan perencanaan jangka panjang untuk membentuk masyarakat Jabar yang tangguh bencana. Salah satunya dengan konsep West Java Resilience Province (WJRP) .

"Jadi WJRP itu adalah perencanaan jangka panjang dengan melibatkan kearifan lokal, kita berharap selain kita menurunkan risiko bencana. Daya lenting ini didapatkan dengan enam komponen yang lengkap yakni tangguh masyarakatnya, finansialnya, ekologinya, infrastrukturnya, teknologi dan institusinya," ujar Budi.

"Tangguh bencana harus menjadi budaya, minimal masyarakat tahu bahwa kita hidup di tengah-tengah potensi bencana. Kalau masyarakat tahu bahwa kita di Jabar hidup di tengah-tengah potensi bencana, mereka bisa melakukan aktivitas untuk penyelamatan diri atau mengurangi risiko. Itu dari sisi masyarakat yang tangguh bencana, itu harus berulang-ulang kita lakukan," ujarnya.

Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung mengungkap ada potensi pelepasan energi periodik Sesar Lembang yang terjadi selama 500 tahun sekali. Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Bandung Rasmid mengatakan, dari kajian paleoseismologi (studi tentang kejadian gempa di masa lalu) ditemukan Sesar Lembang pernah melepaskan energi besar pada tahun 1600-an.

"Tahun 1600 itu belum ada seismograf di kita ya, makanya dengan melakukan paleoseismologi membuat paritan di sekitar (area) yang diduga sebagai sear, baru dipelajari batuan di bawahnya, nah dari situ dapat disimpulkan bahwa telah terjadi pelepasan energi yang besar pada tahun 1600," ujar Rasmid saat dihubungi detikcom, Selasa (26/1/2021).

"Nah berdasarkan perumusan periode ulang sesar Lembang, akan muncul gempa yang sama itu sekitar 500 tahun sekali. Jadi kalau dihitung dari tahun 1600 ditambah 500 tahun, ya jadi tahun 2100 itu hitungan kasarnya. Potensinya bisa terjadi tahun 2075, bisa jadi tahun 2125. Jadi 2100 itu masih kasar," ucap Rasmid.

(yum/mud)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT