Tuntut Ganti Rugi Layak, Warga Karawang Terdampak Tol Japek 2 Berunjuk Rasa

Yuda Febrian Silitonga - detikNews
Rabu, 15 Sep 2021 11:51 WIB
Warga terdampak proyek Tol Japek 2 tuntut ganti rugi layak
Warga terdampak proyek Tol Japek 2 tuntut ganti rugi layak (Foto: Yuda Febrian)
Karawang -

Ratusan massa warga terdampak pembangunan Tol Jakarta Cikampek (Japek) 2 berunjuk rasa di depan kantor Pemkab Karawang. Mereka menuntut ganti rugi yang sesuai atas lahan mereka.

Dalam aksinya, massa yang tergabung dalam Paguyuban Citaman Bersatu ini mendirikan tenda dan memajangkan poster berisi tuntan.

Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Sidik Somantri menuturkan unjuk rasa ini merupakan bentuk kekecawaan atas harga yang tidak sesuai ditawarkan oleh pihak Tol Japek 2.

"Kami dari 61 Kepala Keluarga (KK), dengan 80 bidang tanah yang masih bertahan, tidak menginginkan harga tanah kami ditawar murah dengan nilai dari 150 ribu, hingga 600 ribu per meter, karena harga pasaran saat ini itu bisa sekitar Rp 500 ribu per meter sampai 1,5 juta per meter itu dekat dengan jalan," kata Sidik saat diwawancarai di lokasi unjuk rasa, depan kantor Pemkab Karawang, Rabu (15/9/2021).

Adapun jumlah massa aksi yang datang, berjumlah 160 orang, yang mayoritas ibu-ibu, dan juga anak-anaknya.

"Ada sekitar 160 orang dari massa aksi yang berunjuk rasa, dari 61 KK di Dusun Citaman, Desa Tamansari, Kecamatan Pangkalan, yang masih tidak mau menerima tawaran harga dari pihak Tol Japek 2 sisi selatan ini," ungkapnya.

Sementara itu, salah satu warga yang ikut aksi, Atuh (46) mengakui sudah sejak tahun 2019 mengetahui rencana pembangunan Tol Japek 2, dan hingga saat bidang tanahnya ditawar, ia masih tetap bertahan karena diakui tidak sesuai dengan harga dipasaran.

"Mana bisa bangun rumah lagi, kalau tanah saya hanya dihargai 200 ribu per meter, padahal harga pasaran itu sudah sampai 500 ribu per meter," kata Atih seorang Ibu Rumah Tangga (RT).

Dikatakannya, ada sekitar 3 bidang yang ditawar oleh pihak Tol Japek 2, dengan masing bidang dihargai murah.

"Jadi saya ada 3 bidang, rumah, warung, sama kandang sapi, itu semua hanya ditawar 200 ribu," terangnya.

Lanjutnya, selama 2019 hingga saat ini, ia sudah diundang oleh pihak kelurahan, dan Badan Pertanahan Nasional (BPN).

"Sudah 3 kali diundang, tapi saya belum mau bersepakat, dan banyak juga warga lain sama tidak mau dihargai murah," tandasnya.

Sementara itu, dari pantauan detikcom di lapangan, warga masih bertahan menunggu kehadiran dari Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana untuk menemui massa aksi. Di atas mobil komando, ibu-ibu terus berorasi meminta keadilan, dan perhatian dari Bupati, sesekali juga mengumandangkan alunan salawat. Hingga berita ini dibuat, massa aksi masih bertahan di bawah terik matahari yang menyengat.

(mud/mud)