Harapan Pelajar dan Upaya Cegah Lonjakan COVID-19 di Tengah PTM

Muhammad Iqbal - detikNews
Senin, 06 Sep 2021 17:10 WIB
Pembelajaran tatap muka terbatas di Kabupaten Bandung
Foto: Suasana PTM di Kabupaten Bandung (Muhammad Iqbal/detikcom).
Kabupaten Bandung -

Meski wajah tertutup masker, siswa di SMPN 1 Soreang nampak antusias. Mereka tertib masuk ke dalam sekolah dengan menggunakan masker setelah diukur suhu oleh para guru.

Sebanyak 1.106 sekolah mulai menggelar pembelajaran tatap muka terbatas(PTM) terbatas. Pelaksanaan PTM terbatas harus dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat demi menghindari penularan COVID-19.

Jemari Maulida (12), tidak berhenti menulis ketika guru memberi pelajaran di depan kelas. Dirinya mengaku senang dapat masuk sekolah setelah hampir dua tahun belajar melalui daring.

"Alhamdulilah senang sekarang bisa masuk sekolah, soalnya dari kelas lima SD udah online," ujar Maulida kepada detikcom, Senin (6/9/2021).

Sebelum pelaksanaan PTM, sekolah harus meminta izin kepada orang tua murid. Termasuk orang tua Maulida. Ia menceritakan bahwa orang tuanya sudah mengizinkan untuk bisa masuk sekolah.

"Ada izin ke mamah dulu, boleh enggak masuk sekolah, Alhamdulilah mamah izinin," tuturnya.

Pelaksanaan PTM, kata Maulida, memudahkan siswa dalam menyerap pembelajaran. Terkadang, pembelajaran daring menyulitkan siswa menyerap pembelajaran.

Ia pun berharap agar PTM tetap terus digelar. "Kalau daring susah pahamnya, kalau ini bisa cepat paham. Bisa bertemu teman baru juga," ucapnya.

"Saya mah berharap biar terus bisa tatap muka aja," harapnya.

Di pihak lain, Bupati Bandung Dadang Supriatna tidak menjamin PTM tetap digelar. Pasalnya, apabila terjadi lonjakan kasus atau terjadi penularan COVID-19 di sekolah akan berisiko kepada siswa dan pengajar.

Maka dari itu untuk menjamin keberlanjutan PTM, ia meminta agar siswa patuh terhadap protokol kesehatan. "Saya dengan keyakinan, dengan kebersamaan, kita bisa melaksanakan PTM ini lebih bagus lagi kalau semua disiplin. Tergantung anak anak kita yang sekolah sekarang, yang mulai hari ini, kalau dia mau PTM, ya terus lakukan disiplin protokol kesehatan, 5 M minimal," ucap Dadang.

Selain itu untuk mengantisipasi lonjakan kasus, sejumlah sekolah menyediakan alat cuci tangan dan pamflet imbauan agar siswa dan guru menerapkan protokol kesehatan.

Di dalam kelas, meja belajar siswa dibuat berjarak sekitar 50-150 centimeter. Kemudian, siswa pun diwajibkan menggunakan masker dan face shield. Tidak lupa juga membawa hand sanitizer.

Selain siswa, guru pun diwajibkan menjadi teladan bagi siswa dalam hal penerapan protokol kesehatan. Diharapkan, dengan guru mencontohkan terlebih dahulu dapat membuat anak lebih sadar dengan kondisi Pandemi COVID-19.

Selesai belajar, siswa diminta untuk langsung pergi ke rumah dan tidak keluyuran ke tempat yang berisiko terpapar COVID-19.

Saat ini, pemerintah daerah pun tengah meramu kebijakan terkait layanan transfortasi. Pasalnya, beberapa orang tua murid mengaku kesulitan mengantar anak karena tidak memiliki kendaraan.

Sementara menggunakan kendaraan umum dinilai berisiko. Hal inilah yang sedang diramu pemerintah daerah.

(mso/mso)