Pandemi COVID-19 Dinilai Ganggu Mental Masyarakat

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Sabtu, 04 Sep 2021 20:12 WIB
Poster
Ilustrasi (Foto: Edi Wahyono)
Bandung -

Pandemi COVID-19 yang tak kunjung berakhir hingga hampir dua tahun dinilai menggangu kesehatan mental masyarakat di Indonesia. Dari laporan, diketahui banyak masyarakat yang terganggu mentalnya imbas pandemi COVID-19.

Hal itu dikemukakan kelompok aktivis yang tergabung dalam Prosemicolon. Kelompok ini fokus membantu menangani kesehatan mental masyarakat selama pandemi COVID-19.

Zahra Najwa, penggagas Prosemicolon menuturkan di masa pandemi ini banyak masyarakat yang kesehatan jiwanya terganggu. Hal itu terungkap berdasarkan banyaknya pendaftar yang membutuhkan layanan konseling untuk mengobati penyakit mental.

"Hanya dalam dua hari setelah kami membuka pendaftaran, ada 1.000 pendaftar. Medsos kami yang baru berusia dua minggu juga langsung diikuti 50 ribu (followers)," ucap Zahra dalam keterangan tertulis, Sabtu (4/9/2021).

Zahra mengatakan banyaknya warga yang terganggu mentalnya merupakan imbas dari kondisi COVID-19 yang tak kunjung berakhir. Terlebih persoalan ekonomi yang merupakan dampak jelas dari kondisi pandemi.

Apalagi, kata Zahra, gangguan mental disebabkan kurangnya interaksi di antara masyarakat. Sehingga tekanan hidup yang dialami masyarakat terpaksa dipendam sendiri sehingga mengakibatkan menderita beban psikis.

"Dengan dipendam sendiri, selain penderita sulit menemukan solusi, beban psikisnya semakin berat," kata dia.

Kekhawatiran terbesar dari dampak psikis ini beragam. Bahkan bisa sampai perbuatan paling nekat sekalipun yang dapat dilakukan oleh masyarakat.

"Bisa ke mana-mana. Pikiran bunuh diri, narkoba, alkohol, termasuk berontak mengancam keselamatan orang lain," ujarnya.

Menurut dia, perlu penanganan serius bagi masyarakat yang terganggu mentalnya imbas pandemi COVID-19. Pihaknya pun akan siap membantu memberikan layanan konseling gratis bagi masyarakat yang terganggu mentalnya.

"Kami akan membantu semampunya. Saat ini ada enam psikolog, serta puluhan volunteer," ujarnya.

Selain menyediakan konseling gratis bagi penderita, kata dia, gerakan yang berkolaborasi dengan DPW Partai NasDem Jawa Barat ini pun bertujuan mengedukasi masyarakat agar lebih peduli terhadap kondisi kejiwaan orang sekitar.

Sehingga, dengan semakin banyak warga yang tersadarkan, semakin mudah penderita gangguan mental mencurahkan keluh kesahnya.

"Selama ini, penderita gangguan mental merasa tabu untuk bercerita, bahkan ke keluarganya sendiri pun," ucapnya.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil ikut menanggapi soal warga yang terganggu mentalnya akibat pandemi COVID-19. Menurut Emil sapaannya, kondisi ini juga masuk ke semua segmen usia.

"Gangguan kesehatan mental tak memiliki segmen tertentu, dari anak-anak sampai pemimpin. Selama 1,5 tahun agenda saya covid. Tiap hari, tiap minggu, tiap bulan, sampai saya mimpi pun covid," ujarnya.

Berdasarkan data, kata Emil, jumlah warga Jabar yang mengalami gangguan mental bertambah 60 persen. Bahkan, kata dia, 80 persen di antaranya sudah masuk fase depresi.

"Dari konsultasi, 80% sudah menyatakan level depresi. Orang tua enggak bisa ajari anak (belajar dari). Orangtua kena PHK. Bansos enggak sesuai harapan. Makanya perceraian naik di Jawa Barat," katanya.

Ia pun memotivasi masyarakat untuk tetap optimis dalam menjalani hidup. Salah satunya, kata dia, dengan memiliki tujuan hidup.

"Hidup harus punya tujuan. Hidup yang bahagia adalah hidup yang punya tujuan. Kebahagiaan enggak bisa ditunggu, tapi diciptakan. Kejar kebahagiaan," ujarnya.

Ketua DPW NasDem Jabar Saan Mustopa mengaku pihaknya mendukung gerakan sosial tersebut. Sebab, hal itu menyadari minimnya layanan yang diberikan oleh pemerintah.

"Kami berharap pemerintah memperbanyak layanan konseling gratis. Karena masyarakat tidak mampu sangat sulit untuk mengakses psikolog," katanya.

Dia pun menyebut berdasarkan laporan yang diterima, banyak masyarakat yang kejiwaannya tertekan imbas pandemi COVID-19.

"Seperti di Purwakarta, ada tiga anak yang kehilangan kedua orang tuanya karena virus corona. Selain membantu dari sisi ekonomi, layanan konseling sangat diperlukan," ujarnya.

Dalam kolaborasi dengan Prosemicolon Ini, menurut Saan pihaknya memfasilitasi tempat untuk konseling, termasuk yang dilakukan secara dalam jaringan (online) yang menjangkau 1.000 warga yang membutuhkan pendampingan tersebut.

(dir/mud)