Cerita Pelukis Kampung Seni-Budaya Jelekong Bertahan di Tengah Pandemi

Muhammad Iqbal - detikNews
Jumat, 27 Agu 2021 10:39 WIB
Kampung Lukis Jelekong Bandung
Foto: Kampung Lukis Jelekong Bandung (Wisma Putra/detikTravel)
Kabupaten Bandung -

Pandemi COVID-19 menimpa ekonomi masyarakat, termasuk mereka yang hidup dari karya seni. Contohnya saja seperti yang dialami para pelukis di Kampung Seni dan Budaya Jelekong, Kabupaten Bandung.

Lukisan hasil karya pelukis di kampung tersebut menumpuk tidak terjual akibat sepinya pembeli. Kondisi itu diperparah dengan tidak menentunya pandemi COVID-19 ini berakhir.

Sepanjang jalan masuk Kampung Jelekong terdapat puluhan galeri lukisan milik para seniman di sana. Galeri mereka penuh dengan lukisan yang menumpuk namun sepi pembeli.

Seperti galeri milik Heru. Puluhan lukisan tergantung rapi di dinding, dari lukisan ikan koi, pemandangan senja, pemandangan alam dan sejumlah kaligrafi.

Heru menuturkan sejak pandemi melanda, peminat lukisan terus mengalami penurunan. Biasanya, lukisan buatannya selalu dibeli oleh bandar dan akan dijual kembali di tempat wisata seperti Bali, ataupun Malaysia.

"Ya seperti inilah. Sekarang bandar juga sudah enggak ke sini, mereka jualan di tempat wisata, tapi kan ditutup. Jadi ke sini juga ngaruh," ujar Heru sembari menyelsaikan lukisannya, Jumat (27/8/2021).

Ia bercerita, sebelum pandemi, lukisannya selalu laku terjual. Dalam satu pekan saja, lukisannya terjual 40 buah dari satu bandar, dengan keuntungan sekitar Rp 3 juta.

Terkadang, apabila ada festival atau pemeran lukisannya pun sering kali ikut serta dan mendapatkan keuntungan yang cukup. Namun, saat ini kondisinya jauh berbeda. Ia mengalami penurunan pendapatan lebih dari 50 persen.

"Sekarang paling yang keluar dua dalam seminggu. Seringnya mah sepi," keluh Heru.

Dirinya pun harus memutar otak agar lukisannya tidak menumpuk. Ia dibantu kerabatnya untuk menjual lukisannya di aplikasi jual beli online.

Heru mengaku tidak begitu paham dengan jual beli di aplikasi online. Hal tersebut diserahkan kepada kerabatnya.

"Saya kalau lihat handphone gak kuat, jadi dibantu sama kerabat aja yang di online," ucapnya.

Permintaan di aplikasi online begitu beragam. Ia pun terkadang menjual lukisan yang sudah tanpa permintaan, tapi terkadang juga sesuai permintaan.

"Kalau di online itu banyaknya minta lukisan abstrak. Kalau bikinan saya kaya gini, kebanyakan realis," katanya.

Penghasilan dari jual online belum begitu menjanjikan. Namun, setidaknya dapat menutup kebutuhannya sehari-hari saat ini.

"Ya sekarang saya mah fokus aja ngelukis sambil nunggu normal, jadi barang ada gitu pas nanti normal," tuturnya.

Namun, tidak semua seniman beralih menjual lukisannya di aplikasi jual beli online. Odang (71), di usianya yang sudah senja, kecakapannya terhadap teknologi tidak begitu dikuasai.

"Saya sudah sepuh, sekarang anak-anak muda lagi pada rame ke online. Cuman kalau bapa mah gak sanggup," tuturnya.

Ia pun terpaksa mengandalkan penjualan secara tradisional, dengan menunggu pembeli datang ke galeri.

"Paling kalau ada yang beli saja bapa mah, soalnya kan bandar udah lama gak ke sini pas corona gini mah," ucapnya.

(mso/mso)