Sepenggal Kisah Nakes di Bandung Barat Hadapi Pasang Surut Pandemi Corona

Whisnu Pradana - detikNews
Jumat, 27 Agu 2021 09:58 WIB
Nakes COVID-19 Bandung Barat
Foto: Nakes COVID-19 Bandung Barat (dok. pribadi nakes).
Bandung Barat -

Hantaman pandemi COVID-19 sejak awal 2020 hingga pertengahan tahun 2021 ini belum juga menunjukkan tanda-tanda bakal segera berakhir. Bahkan beberapa pekan lalu, gelombang kedua COVID-19 membuat semua pihak kalangkabut.

Bagaimana tidak, lonjakan pasien sampai membuat Bed Occupancy Rate (BOR) di rumah sakit rujukan COVID-19 termasuk di Kabupaten Bandung Barat (KBB), menyentuh 95 persen. Belum lagi krisis ketersedian pasokan oksigen sampai bertumbangannya tenaga kesehatan.

Kondisi itu dialami sendiri oleh Natalia Haryani, tenaga kesehatan di Rumah Sakit Cahya Kawaluyan (RSCK) Padalarang, yang terjun langsung menangani COVID-19 sejak awal pandemi hingga setahun setengah lebih ini.

Perempuan 25 tahun itu menceritakan bagaimana kalutnya rumah sakit kala itu kebanjiran pasien terpapar COVID-19 yang membutuhkan penanganan sesegera mungkin. Sementara di satu sisi tenaga kesehatan yang bertugas pun jumlahnya amat terbatas.

"Kalau kemarin pasien itu banyak, tapi perawat sedikit. Walaupun akhirnya banyak perawat dari ruangan lain yang membantu," ungkap Natalia kepada detikcom, Jumat (27/8/2021).

Ia berusaha memberikan pelayanan sebaik mungkin. Atas dasar kode etik profesi dan tentunya rasa kemanusiaan yang melekat pada dirinya. Kesedihan ia alami tatkala sebagai insan tak mampu menolong sesama padahal mampu meskipun tersandung segala keterbatasan.

"Sempat sedih juga kalau ada pasien datang tapi tertolak karena kondisinya (rumah sakit) penuh. Kita kan enggak mau nerima pasien kalau ruangan dan fasilitas enggak ada. Kondisinya waktu itu memang buruk banget," tutur Natalia.

"Sangking penuhnya, dulu itu yang harusnya masuk ICU tapi ICU-nya penuh akhirnya masuk ruangan biasa. Jadi banyak pasien observasi yang keadaannya enggak memungkinkan di ruangan, tapi karena keadaan jadi terpaksa masuk ruangan biasa," kata Natalia menambahkan.

Pagebluk COVID-19 yang menggila membuat kondisi fisik dan mentalnya luar biasa terkuras. Beruntung segala kebutuhannya sebagai tenaga kesehatan yang menangani COVID-19 tak ada yang kurang. Minimal hal itu mengurangi beban pikirannya lantaran tetap perlu terhindar dari paparan virus.

"Untuk fisik dan mental terforsir banget. Kita dinas berlima misalnya, pegang pasien bisa di atas 35 orang. Belum lagi waktu kerja. Misalnya dinas siang biasanya jam 10 malam sudah pulang. Tapi kalau lagi hectic jadi memakai jam di luar jam kerja, misalnya jam 11 atau setengah 12 baru pulang. Kalau sekarang sih sudah normal lagi," ucap Natalia.

"Dan Puji Tuhan di sini aman, vitamin dan kebutuhan lainnya. APD juga enggak kekurangan" imbuhnya.

Waktu rehat benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin. Namun adakalanya, aktivitas berulang membuatnya merasa jenuh. Mengingat setia hari dirinya dihadapkan pada keadaan yang sama, lagi dan lagi.

"Kalau mental, lebih ke jenuh karena kegiatannya. Misal pulang setelah dinas siang terus besoknya dinas pagi, kan jumping jadi pulang hanya untuk tidur, bangun pagi harus kerja lagi. Tapi ya harus dibawa happy karena memang itu rutinitas dan kewajiban," paparnya.

Ia bersyukur lonjakan kasus COVID-19 yang sebelumnya terjadi mulai berangsur menurun secara signifikan. Namun begitu, ia berpesan agar tak terlena dengan kondisi tersebut.

"Untuk sekarang kondisinya sudah beda banget, kita bisa lebih santai. Tapi tetap harus memberikan pelayanan lebih ke pasien yang tersisa. Sekarang ada 8 pasien COVID-19 yang masih dirawat. Pesan saya sebagai nakes, masyarakat jangan terlena dengan penurunan kasus ini. Manfaatkan momen vaksinasi, tetap jaga kesehatan dan prokes juga," pungkas Natalia.

Simak juga 'DPR Ingin Pejabat Publik Dapat Vaksin Booster Setelah Nakes':

[Gambas:Video 20detik]



(mso/mso)