Pakar Kejiwaan Sebut Ada Pesan di Balik Percobaan Bunuh Diri Pimpinan AKAR

Yudha Maulana - detikNews
Rabu, 04 Agu 2021 21:22 WIB
Seorang pria diduga mencoba bunuh diri di depan Balai Kota Bandung
Foto: Pimpinan AKAR Jabar lakukan aksi percobaan bunuh diri di depan Balkot Bandung (Wisma Putra/detikcom).
Bandung -

Percobaan bunuh diri yang dilakukan pimpinan Asosiasi Kafe dan Restoran (AKAR) Jawa Barat berinisial GB menyita perhatian publik di tengah masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 di Kota Bandung. Pasalnya, aksi itu dilakukan di tempat terbuka, tepatnya di dekat gerbang pintu masuk utama Kantor Pemkot Bandung, Rabu (4/8/2021).

Dokter Spesialis Kejiwaan RS Melinda 2 Bandung dr Teddy Hidayat menyatakan kemungkinan ada pesan-pesan yang ingin disampaikan GB lewat aksi percobaan bunuh diri yang dilakukannya di tempat umum.

"Kalau pasien ini mengalami kesulitan keuangan, restorannya tidak laku, terancam bangkrut, ada utang, depresi, murung, putus asa dia mengakhiri hidup tidak di tempat umum tapi di tempat tertutup yang tidak diketahui orang lain," ujar Teddy lewat sambungan telepon, Rabu (4/8/2021).

"(Dengan melakukan aksi di depan umum), ada sesuatu pesan yang ingin disampaikan, bentuk ketidaksetujuan, agresivitas, melawan karena caranya tidak berani ke luar, kemudian diarahkan kepada diri sendiri," tutur Teddy melanjutkan.

Merunut pada beberapa hari sebelum kejadian, pihak AKAR Jabar hendak mengibarkan bendera putih sebagai bentuk protes aturan selama PPKM. Kendati begitu, aksi tersebut dibatalkan setelah pengurus melakukan audiensi dengan Polrestabes Bandung dan Wakil Walikota Bandung Yana Mulyana.

Teddy tak menampik jika pandemi ini memberikan efek kedaruratan bak kartu domino. Usai kedaruratan masyarakat, disebutnya akan muncul kedaruratan ekonomi dan selanjutnya kedaruratan gangguan mental.

"Yang paling terdampak adalah masyarakat yang disampaikan para pedagang, resto dan segala macem itu tidak boleh makan di tempat sehingga mereka sangat menderita, ini menimbulkan perasaan cemas, sedih, campur aduk juga putus asa," katanya.

Korban GB, dikatakan Teddy, sebagai seorang penanggung jawab tentunya memikul beban mental tersebut lebih berat sehingga sampai kepada titik puncak stress.

"Pasien ini penanggung jawab resto-resto di Bandung di satu sisi harus membela restoran-restoran, sedangkan di satu sisi permintaannya ditolak terus itu meningkatkan kemarahan dan agresivitas, mau melawan tapi tidak berani, demo sudah dilakukan tapi tidak ada pengaruhnya, maka kemarahan itu diarahkan kepada dirinya. Turn against himself, melukai dirinya," katanya.

"Saya melihatnya dia ingin bicara tapi tidak pakai verbal, dia mau bicara tapi ada sesuatu ada kemarahan lewat tindakan percobaan bunuh diri tadi, kalau karena depresi dia tidak melakukannya di muka umum, seperti di balai kota. (Saya mengira ini) untuk menunjukkan kemarahan dan ketidak setujuannya terhadap kebijakan," ujar Teddy.

Simak juga 'Pasar Baru Bandung Kembali Dibuka, Tapi Masih Sepi Pengunjung':

[Gambas:Video 20detik]



(yum/mso)