Pembangunan Pasar Pelita Mangkrak, Walkot Sukabumi Dijuluki 'Raja Janji'

Syahdan Alamsyah - detikNews
Rabu, 04 Agu 2021 17:34 WIB
Mahasiswa beri Wali Kota Sukabumi gelar Raja Janji Pasar Pelita
Foto: Mahasiswa beri Wali Kota Sukabumi gelar 'Raja Janji Pasar Pelita' (Istimewa).
Sukabumi -

Himpunan Mahasiswa Asal Sukabumi (Himasi) memberi gelar 'Raja Janji Pasar Pelita' kepada Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi. Gelar itu diberikan sebagai kritik kepada orang nomor satu di Sukabumi karena pembangunan Pasar Pelita yang tak kunjung selesai.

Sejumlah baliho kritikan disebar PB Himasi sejak Selasa (3/8/2021) malam. Namun, Rabu (4/8) pagi tadi, baliho tersebut satu persatu raib entah kemana.

"Kami pasang di perempatan Degung, Pertigaan Bunut, pertigaan dekat Diskoperindag, Dago dan bunderan Lapang Merdeka. Namun sudah pada hilang, cuma bertahan sampe jam 08.00 WIB," ungkap Danial Fadhilah, Ketua Umum PB HIMASI kepada wartawan, Rabu (4/8/2021).

Danial menjelaskan dasar dari kritikan itu terkait dengan mangkraknya pembangunan Pasar Pelita yang menurutnya bukan hal yang baru didengar oleh seluruh lapisan masyarakat. PB Himasi menjadi salah satu organisasi kemahasiswaan yang konsen mengawal pembangunan tersebut.

"Kami, dari PB Himasi menilai bahwa mangkraknya pembangunan Pasar Pelita ini karena banyak faktor, namun hal terpenting yang kami soroti adalah penguasa tidak tegas dalam mengambil sikap. Sejak addendum kedua antara Pemkot Sukabumi dengan pihak ketiga PT Fortunindo, kami sudah melakukan upaya-upaya untuk mengingatkan Pak Wali Kota dan mencoba membantu mencari jalan keluar dari persoalan yang ada. Namun, sangat disayangkan respons dari Wali Kota selalu berbeda antara ucapan dan tindakan yang dilakukan," kata Danial.

Berbagai langkah preventif dikatakan Danial, dilakukan oleh organisasinya mulai dari audensi hinggal dialog publik. Namun semua upaya itu tidak menemukan titik temu untuk mencari solusi.

"Karena pemerintah daerah melalui Wali Kota selalu menjanjikan bahwa mereka siap berkomitmen menyelesaikan pembangunan Pasar Pelita sesuai dengan perjanjian kerja sama. Perlu diketahui dalam perjanjian kerja sama yang dibuat para pihak, bahwa selesainya pembangunan Pasar Pelita dikatakan selesai apabila bangunan fisik selesai secara utuh 100 persen dan pedagang di 12 ruas jalan sekitar Pasar Pelita dimasukkan ke dalam bangunan Pasar Pelita yang baru," ucapnya.

Himasi menemukan adanya komitmen lain yang dibuat antara para pihak yang terkait dalam proses pembangunan pasar tersebut.

"Dalam temuan kami, bahwa ada komitmen lain yang dibuat antara para pihak sebagaimana yang dikonfirmasi oleh Kadiskoperindag Kota Sukabumi bahwa pihak ketiga yaitu PT Fortunindo fokus membangun pasar dan pemerintah daerah berkewajiban untuk memfasilitasi pedagang di 12 ruas jalan agar bisa masuk ke dalamnya," kata Danial.

"Namun sangat disayangkan, dari addendum ketiga yang dijanjikan batas akhir pembangunan hingga addendum 4 sampai ke surat peringatan yang ketiga. Kewajiban Pemerintah Kota seolah tidak dilakukan," sambung dia.

Soal gelar 'Raja Janji' yang disematkan kepada Walikota Fahmi, ia menilai bahwa selama ini walikota selalu berjanji namun tidak pernah menepati.

"Maka dari itu, kami menilai bahwa apa yang dilakukan Pemerintah Daerah khususnya Wali Kota Sukabumi tidak bisa melaksanakan sesuai dengan komitmen yang dibuat dan janji nya kepada masyarakat Kota Sukabumi. Raja Janji adalah julukan yang sangat pas kami sandangkan kepada Bapak Achmad Fahmi yang menjabat Wali Kota Sukabumi karena selalu berjanji tapi tak pernah menepati," pungkas Danial.

detikcom mencoba menghubungi Walikota Sukabumi Achmad Fahmi untuk memberikan tanggapan soal kritikan tersebut. Namun hingga saat ini belum ada respons yang diberikan.

Dihubungi melalui aplikasi perpesanan, Sekda Kota Sukabumi Dida Sembada menanggapi singkat soal kritikan mahasiswa tersebut.

"Slebaran ini dari Himasi ya. Himasi kan sudah melayangkan gugatan terkait Pasar Pelita ke pengadilan jadi sudah aja penjelasan dan penyelesaiannya di pengadilan dan nanti bisa terliat hitam putih nya," ujar Dida.

(sya/mso)