RSUD Cibabat Cimahi Kesulitan Pasokan Oksigen untuk Pasien COVID-19

Whisnu Pradana - detikNews
Kamis, 01 Jul 2021 14:22 WIB
RSUD Cibabat Cimahi
RSUD Cibabat Cimahi (Foto: Sudirman Wamad)
Cimahi -

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibabat, Kota Cimahi kian kewalahan dalam menangani kasus COVID-19 lantaran saat ini sedang mengalami kesulitan pasokan oksigen medis.

Tak cuma itu permasalahan lainnya yakni sekitar 200 tenaga kesehatan dan pegawai rumah sakit dinyatakan positif COVID-19. Lalu daftar waiting list pasien positif COVID-19 yang cukup banyak di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Alhasil kondisi tersebut membuat pihak rumah sakit terpaksa menerapkan penutupan sementara layanan IGD sejak Selasa (29/6/2021) pukul 17.00 WIB. Serta harus berjuang menghemat penggunaan oksigen medis yang suplainya agak tersendat.

Direktur Utama RSUD Cibabat Sukwanto Gamalyono mengatakan kesulitan mendapatkan stok oksigen medis terasa sejak dua hari lalu. Bahkan pada Selasa kemarin pihaknya sudah mencari ke berbagai tempat untuk mengatasi kekurangan stok oksigen.

"Memang kemarin malam bahkan dari dua hari lalu kita krisis oksigen. Bahkan, kemarin jam 10 malam sudah kehabisan langsung kita pinjam dari Rumah Sakit Sariningsih dan dapat lima tabung. Kondisi sekarang juga masih sama," ungkap Gamal kepada wartawan, Kamis (1/7/2021).

Gamal mengaku pihaknya sudah berupaya mencari stok oksigen medis bahkan hingga ke daerah Banten. Namun kondisinya sama yakni stok oksigen yang sama-sama sangat terbatas.

"Ada uang berapa miliar pun kita sudah ambil dari Banten dan dari mana-mana. Tadi saya tanya rumah sakit lain juga sudah mulai keteteran. Jadi sekarang bukan uang yang bicara, ada enggak barangnya begitu," katanya.

Saat ini upaya penghematan menjadi langkah yang paling memungkinkan agar pasien masih bisa menghirup oksigen medis.

"Untuk 86 pasien ini kita upayakan bisa bertahan selama mungkin. Sekarang yang high flow sudah enggak kita pakai, kita turunkan sedikit-sedikit. Pasien-pasien sendiri sudah merasa kekurangan sebetulnya," tuturnya.

Gamal mengaku pihaknya akan membuka kembali layanan IGD jika ketersediaan oksigen medis sudah kembali normal. Dia mengungkapkan para pemangku kebijakan sudah mengupayakan agar ketersediaan oksigen bisa kembali didapatkan.

"Kalau hari ini bisa dapat jaminan tujuh hari ketersediaan oksigen aman kita buka lagi. Meski 200-annakes kita terpapar tapi sebetulnya masih sanggup karena yangisoman sebagian sudah bisa bekerja lagi dan kita juga sudah ada relawan. Cuma kan yang utamanya oksigen. Banyak orang datang ke sinikondisinya megap-megap, hanya butuh oksigen bukan obat-obatan yang lain,"pungkasnya.

Disiplin Prokes Warga Cimahi Disorot

Kota Cimahi kembali terjerembab ke zona merah atau daerah dengan risiko tinggi penyebaran COVID-19. Padahal sebelumnya Kota Cimahi bertahan cukup lama di zona oranye.

Jika melihat angka kasus COVID-19, saat ini kasusnya menyentuh 8000 kasus. Rinciannya 6711 orang masih positif aktif, 1129 sudah dinyatakan sembuh, dan 160 orang meninggal dunia.

Plt Wali Kota Cimahi Ngatiyana mengatakan jika masyarakat yang mengabaikan penerapan protokol kesehatan membuat penularan COVID-19 kian masif hingga penyebarannya sulit dikendalikan

"Mengkhawatirkan apabila masyarakat tidak bisa jaga kesehatan. Makam di blok D TPU Lebaksaat sudah penuh dan kita sudah buka lahan blok C, kalau tidak diantisipasi kematian terus bertambah. Tolong hindari kerumunan, wajib gunakan masker karena kalau sudah terpapar bakal berat," ungkap Ngatiyana kepada wartawan, Kamis (1/7/2021).

Imbas dari meledaknya kasus COVID-19 di Cimahi, selain kembali masuk zona merah yakni penutupan layanan IGD RSUD Cibabat serta pelayanan di sejumlah puskesmas.

"Pasien penuh sedangkan petugas sebagian terpapar COVID-19. Kalau terus ditampung khawatir tidak tertangani sehingga pasien disalurkan ke RS atau klinik lain, bisa isolasi mandiri bagi yang gejala ringan. Sempat juga oksigen kekurangan," tuturnya.

"Kebijakan layanan puskesmas juga ditutup sementara karena tenaga kesehatannya terpapar COVID-19. Layanan terbatas untuk vaksinasi, test COVID-19, dan kondisi darurat," kata Ngatiyana menambahkan.

Saat ini pihaknya bakal turut menerapkan pengetatan PPKM mikro atau PPKM darurat sebagai upaya menekan kasus positif COVID-19. Beberapa langkah yang sudah dilakukan yakni penutupan akses di tempat orang banyak berkerumun.

Kemudian melakukan propaganda razia masker, penutupan pasar tumpah atau pasar kaget, hanya boleh melangsungkan akad nikah dengan jumlah orang yang dibatasi, tempat usaha hanya buka sampai pukul 20.00 WIB, patroli dan jaga wilayah, serta pantau warga isolasi mandiri

"Untuk PPKM darurat kita masih menunggu instruksi pemerintah pusat. Namun, sesuai kondisi Cimahi zona merah saat ini maka aturan diperketat kembali baik tingkat Kota hingga RT/RW. Masyarakat harus berhati-hati sehingga tidak ikut serta menyumbang penyebaran COVID-19," tandasnya.

(mud/mud)