Rencana PTM di Banten Terancam Disetop Gegara Lonjakan COVID-19

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Kamis, 24 Jun 2021 15:27 WIB
Gubernur Banten Wahidin Halim
Foto: Gubernur Banten Wahidin Halim (dok. Pemprov Banten).
Serang -

Rencana pembelajaran tatap muka (PTM) di Provinsi Banten terancam disetop gegara lonjakan COVID-19. Apalagi, catatan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ada 2.972 anak di Banten sudah terpapar COVID-19 dan 12 di antaranya meninggal dunia.

"Gimana menurut kamu kalau COVID lagi begini (darurat), ya setop," kata Gubernur Banten Wahidin Halim kepada wartawan di Serang, Kamis (24/6/2021).

Seperti diketahui, pembelajaran tatap muka (PTM) rencananya akan digelar Juli 2021 mendatang. Hanya, proses pembelajarannya disesuaikan dengan PPKM mikro di masing-masing daerah.

IDAI sendiri sudah memberi wanti-wanti tidak memberikan rekomendasi pembelajaran tatap muka bagi anak sekolah. Ada berbagai syarat yang perlu disiapkan jika kebijakan ini dilakukan.

"PP IDAI sudah mengeluarkan rekomendasi mengenai pembukaan sekolah, banyak sekali syarat yang harus dipenuhi," ujar Ketua IDAI Banten Didik Wijayanto kepada detikcom.

Syarat itu tertuang dalam panduan PTM baik itu bagi penyelenggara, orang tua dan evaluator. Srayat itu tertuang pada beberapa hal antara lain:

1. Semua guru dan pengurus sekolah yang berhubungan dengan anak dan orang tua atau pengasuh harus sudah divaksin.
2. Buat kelompok belajar kecil. Kelompok ini yang berinteraksi secara terbatas di sekolah. Tujuannya jika ada kasus konfirmasi positif, contact tracing dapat dilakukan secara efisien.
3. Jam masuk dan pulang sekolah harus bertahap untuk menghindari penumpukan siswa.
4. Penjagaan gerbang dan pengawasan diperlukan untuk mencegah kerumunan di gerbang sekolah.
5. Jika menggunakan kendaraan antar jemput, pastikan semua memakai masker dan menjaga jarak serta membuka jendela mobil.
6. Buka semua jendela kelas. Gunakan area outdoor jika memungkinkan. Jika berada di ruang kelas tertutup pastikan memakai High Efficiency Particulate Air (HEPA) filter.
7. Membuat pemetaan risiko siswa dengan komorbid, orangtua siswa dengan komorbid, atau tinggal bersama lansia atau guru dengan komorbid. Anak dengan komorbiditas atau penyakit kronik sebaiknya tetap belajar secara daring.
8. Idealnya sebelum membuka sekolah, semua anak maupun guru dan petugas sekolah harus melakukan tes swab dan secara berkala dilakukan pemeriksaan swab ulang.
9. Ada fasilitas cuci tangan di lokasi-lokasi strategis di sekolah (sebelah kelas, sebelah toilet, dll).
10.Jika ada anak atau guru atau petugas sekolah masuk kriteria suspek, maka harus bersedia melakukan tes swab.
11.Sekolah dan tim UKS menyiapkan alur mitigasi jika ada warga sekolah yang sakit dan sesuai kriteria diagnosis suspek atau probable atau kasus terkonfirmasi COVID-19.
12.Melatih siswa untuk menggunakan masker secara benar dan menyediakan tempat pembuangan masker, serta menyediakan masker cadangan.
13.Melatih anak untuk tidak memegang mata, hidung, dan mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Kemudian mengajari etika batuk dan bersin yang benar
14.Melatih anak untuk mengenali tanda COVID-19 secara mandiri dan melaporkan jika ada orang serumah yang sakit. Kemudian tidak melakukan stigmatisasi terhadap teman yang terinfeksi COVID-19.
15.Jika anak sakit atau perlu isolasi, sekolah menekankan pentingnya tetap ada di rumah, tanpa takut soal pengurangan nilai.

(bri/mso)