Soal Petani Milenial, RK: Dinas Belum Imbangi Kecepatan Pemikiran Saya

Yudha Maulana - detikNews
Kamis, 03 Jun 2021 12:37 WIB
Walikota Bandung Ridwan Kamil mengunjungi markas Detikcom, Jakarta, Senin (11/8/2014). Kunjungannya ini dilakukan guna berdiskusi tentang kota Bandung.
Gubernur Jabar Ridwan Kamil (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)
Bandung -

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengaku sampai turun tangan untuk menyelesaikan hal teknis saat membidani program Petani Milenial. Ia pun optimistis hasil dari program yang diluncurkan pada Maret lalu ini akan berhasil tahun depan.

"Kemarin menjadi pro kontra karena banyak yang salah kaprah, menganggap bahwa ribuan orang itu sudah mendapatkan income-nya, kan semua harus berkeringat dulu. Namanya juga mengolah lahan, dipupukin dulu dan sebagainya," ujar Ridwan Kamil dalam podcast 'Indonesia Rakyat Club' di Seru Channel yang ditayangkan di YouTube Transvision Official, Rabu (2/6).

"Pemikiran saya ini agak melompat. Dinas-dinas di Jabar belum bisa mengimbangi kecepatan pemikiran yang saya lakukan, hingga saya turun teknis. Jadi tidak hanya jual gagasan, saya membedah kenapa lahannya macet, kenapa modalnya macet, seret dan sebagainya," kata sosok yang akrab disapa RK atau Kang Emil itu melanjutkan.

Ia mengklaim program Petani Milenial ini telah diadopsi oleh provinsi-provinsi lainnya di Indonesia. Menurut Emil, program ini bisa menjadi jawaban untuk mengatasi terjadinya potensi disrupsi pangan di masa depan.

"Sekarang sudah mulai di-copy-copy di provinsi-provinsi lain, sudah mulai mengikuti. Makanya kalau mau fair kita evaluasi tahun depan, saya janjikan dengan optimisme ilmiah saya, bahwa solusi masa depan itu adalah pangan yang antidisrupsi. Daerah desa hidup lagi yang biasanya (pemudanya) di kota, pendapatan mereka di atas UMR, dengan skill digital bisa menembus pasar dunia, ini adalah tawaran masa depan," tuturnya.

Sebelum program ini lahir, Ridwan Kamil melihat banyak lahan dan tanah di berbagai penjuru Jawa Barat yang tidak digunakan. Padahal, menurut Emil, banyak anak muda yang ingin kembali desa tetapi terkendala lahan garapan. Pihaknya pun telah menjalin kerja sama dengan universitas untuk pengembangan teknologi pertanian ke depannya.

"Lahan provinsi itu terbatas, tapi saat saya jalan keliling-keliling provinsi banyak yang menjadi rumput ilalang, lahan tanah PTPN, Perhutani, HGU konglomerat yang dikasih, tapi tidak dikerjakan. Bulan ini saya memperjuangkan tanah kosong agar dikembalikan kepada kami, agar kami bagi receh-receh (lahan kecil) kepada anak muda untuk mengurangi pengangguran," tutur Emil menegaskan.

Lihat juga video 'Dede Koswara, Petani Yang Menepis Stigma 'Millenial"':

[Gambas:Video 20detik]



(yum/bbn)