Petani Milenial ala Ridwan Kamil Ternyata Tak Langsung Pakai Teknologi 4.0

Yudha Maulana - detikNews
Minggu, 30 Mei 2021 20:08 WIB
Postingan Ridwan Kamil soal petani milenial
Hasil panen PT Agro Jabar (Foto: Instagram Ridwan Kamil)
Bandung -

Program Petani Milenial yang diluncurkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pada Maret lalu, ternyata tak langsung menerapkan teknologi 4.0 karena biaya yang tinggi.

Hal itu dikatakan Dirut Agro Jabar Kurnia Fajar saat berbincang dengan detikcom, Minggu (30/5/2021). Kurnia mengatakan, walau demikian pihaknya dan stake holder lain yang bertugas sebagai pembina dan off taker akan mengupayakan pembentukan kemitraan untuk mengejar pengelolaan ideal berbasis teknologi 4.0 (smart farming).

"Petani Milenial itu hanya KUR. Nah KUR ini hanya untuk modal kerja saja. Jadi untuk investasi memang, investasi itu harus mengupayakan cara-cara yang lain, misal pemerintah ada program hibah untuk program smart green house. Karena tanpa dukungan teknologi itu hasilnya kurang maksimal, tetapi kalau pakai teknologi smart farming hasilnya akan lebih presisi, dan kinerjanya juga lebih efisien dan efektif," katanya.

Sebelumnya, Ridwan Kamil kerap kali memaparkan jika Petani Milenial itu menggunakan teknologi mutakhir dalam pengelolaan lahannya. Salah satu yang ditunjukkan adalah Smart Green House yang menerapkan teknologi infus yang berada di lahan Agro Jabar.

"Upaya kita apa (untuk teknologi itu) ? Kita bisa membuat plasma kemitraan, karena asal petani milenial tidak hanya di Bandung, tapi di 27 kota/kabupaten. Mereka punya komunitas kelompok kita upayakan dengan semacam pinjaman atau hibah, kita sedang cari skemanya," tutur Kurnia melanjutkan.

Untuk KUR akan diberikan dengan nominal yang berbeda-beda kepada tiap Petani Milenial, tergantung dari bidang garapannya. Kurnia memperkirakan, misal untuk perikanan Petani Milenial akan diberi modal sebesar Rp 30 juta - Rp 35 juta.

"Itu untuk dibelikan pakan ikan, sebagian dipakai benih ikan, sebagian untuk sewa tempat, sebagian untuk living cost. Untuk pengembaliannya, nanti mereka panen. Setelah itu akan dibeli Agro Jabar. Agro Jabar bermitra dengan perusahaan nasional dan lokal yang bekerja di sektor perikanan, kita bekerjasama dengan bandar ikan besar. nanti hasilnya dipotong untuK KUR dan bunga, misal dia panen dapat Rp 50 juta, dipotong Rp 35 juta, nah untuk Rp 15 juta sisanya mereka terima," katanya.

"Makanya mereka harus berhasil dengan pendampingan dari dinas teknis. Kalau ada kendala di lapangan seperti risiko ikannya mati itu ada, tetapi dari dinas ada upaya supaya tingkat kegagalan dan resikonya bisa diminalisasi. Perikanan itu yang sudah jalan di Cianjur," katanya.

Ke depannya, pihaknya akan mencarikan solusi bagi calon peserta yang tak lolos di BI Checking. Salah satu skema yang akan dilakukan dengan konsep corporate farming.

"Semacam konsep kredit dari Bank ke Agro Jabar yang akan disalurkan ke petani. Proses ini belum berjalan karena kita masih sinkronisasi dengan perbankan, mudah-mudahan dalam waktu dekat," tuturnya.

Pendaftaran gelombang pertama Petani Milenial di Jawa Barat telah berakhir. Berdasarkan data Biro Perekonomian Setda Jabar, dari 8.998 pendaftar, telah terpilih 2.240 petani muda yang lolos dalam proses seleksi.

Kabiro Perekonomian Setda Jabar Benny Bachtiar mengatakan, petani yang telah memenuhi kualifikasi juga telah lulus pemeriksaan perbankan atau BI Checking. Peserta yang tidak lolos BI Checking rata-rata masih memiliki utang ke perbankan.

"BI Checking dilakukan sebagai upaya tidak terjadinya kesalahan dalam pemberian kredit. Karena ternyata banyak yang bermasalah dengan perbankan," ucap Benny saat dihubungi detikcom, Kamis (27/5/2021).

Benny mengatakan, pelaksanaan program Petani Milenial ini tidak bisa serentak dilaksanakan oleh setiap peserta yang lolos. Sebab, masih terganjal dengan kesiapan lahan garapan.

"Sekarang sudah masuk proses eksekusi, secara bertahap dimulai aktivitas di lapangan, yang disesuaikan dengan kesiapan tanah," ucap Benny.

Ia tak merinci berapa banyak peserta Petani Milenial yang belum menggarap lahan, tetapi ia memastikan bahwa kesiapan tanah memerlukan land clearance dan proses itu membutuhkan biaya.

"Kesiapan tanah ini adalah land clearance dan ini perlu biaya. Makanya secara bertahap kita siapkan," katanya.

(yum/mud)