Jual Rumah Warisan di Bandung Ibu Digugat Anak Kandung

Wisma Putra - detikNews
Selasa, 25 Mei 2021 14:27 WIB
PN Bandung
Foto: PN Bandung (Wisma Putra/detikcom).
Bandung -

Johar dan Bahri menggugat ibunya Ai Maswati dan pembeli rumah warisan milik ayahnya. Gugatan dilakukan karena Ai Maswati dan Reni Purba selaku pembeli diduga telah melakukan perbuatan melawan hukum atau perbuatan curang terkait jual beli rumah pada tahun 2010 lalu.

"Jadi Johar dan Bahri ini dengan sangat terpaksa menggugat mamanya dan pembeli rumah mereka yang dilakukan jual belinya secara ilegal, kolaborasi antara mamanya dan si pembeli Reni Purba," kata Kuasa Hukum Johar dan Bahri, Musa Darwin Pane usai sidang di PN Bandung, Selasa (25/5/2021).

Rumah warisan yang berada di kawasan Derwati, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung itu dijual Rp 450 juta oleh Ai Maswati kepada Reni Purba.

"Tahun 2010 rumah di Jalan Derwati Kota Bandung disepakati Rp 450 juta, di akta jual beli dinyatakan Rp 300 juta, kemudian dikatakan nanti akan dilakukan KPR di DP dulu Rp 75 juta. Di dalam perjalanan, KPR tidak benar, tidak pernah ada KPR itu, pembayaran lunas tidak ada, akhirnya tiba-tiba sertifikat ini sudah balik nama atas nama si pembeli dan anak dua ini diusir, Johar dan Bahri mau dilaporkan ke polisi sama si pembeli," ucap Musa.

Musa menyebut, usai menjual rumah itu Ai Maswati kabur dan menikah lagi. Johar dan Bahri diusir pada tahun 2017, lalu di laporkan ke polisi oleh Reni Purba Tahun 2021.

"Ibunya kabur, cari suami baru, di Subang. Anak ditinggalkan, diusir, yang satu bertahan, ternyata sudah dilaporkan ke polisi ke Polrestabes dengan menggunakan Pasal 167 memasuki pekarangan yang bukan miliknya, padahal dia seumur hidupnya tinggal disitu, rumah itu peninggalan bapaknya kemudian dibalik nama atas nama ibu dan kedua anaknya, nah tiba-tiba sekarang muncul diduga atas nama Reni Purba, padahal pembayaran lunas belum," ucapnya.

Musa menyebut, setelah DP Rp 75 juta, Ai Maswati kembali mendapatkan uang Rp 195 juta dari Reni Purba. Pembayaran itu tidak diketahui Johar dan Bahri dan dilakukan diam-diam oleh si penjual dan pembeli.

"Setelah DP Rp 75 juta, ibunya menerima Rp 195 juta lagi, totalnya Rp 270 juta, padahal saat ini harga rumah Rp 1 miliaran lebih," sebutnya.

Sempat dilakukan mediasi dengan seluruh pihak terlibat, namun tidak menemukan titik temu. Bahkan, mediasi pernah dilakukan di Pengadilan.

"Sempat mediasi datang, ribut keras, dead lock, ibunya sih kelihatannya masa bodoh. Cuman dari pihak si pembeli ingin tetap di harga yang sama, kalau kita bayar sesuai harga sekarang, karenakan DP-nya dulu enggak jelas, kalau mau ya jual bersama," tuturnya

"Yang digugat si pembeli dan ibunya, karena mereka diduga berkolaborasi meninggalkan hak-hak anak ini," tegasnya.

(wip/mso)