Pekerja Migran Terancam Hukuman Mati, Keluarga Minta Tolong Jokowi

Bima Bagaskara - detikNews
Senin, 24 Mei 2021 19:50 WIB
Pekerja Migran asal Majalengka terancam hukuman mati di Dubai
Foto: Pekerja migran asal Majalengka terancam hukuman mati (Bima Bagaskara/detikcom).
Majalengka -

Nenah Arsinah (38), pekerja migran asal Kabupaten Majalengka, yang terancam hukuman mati karena dituduh membunuh di Dubai, UEA. Pihak keluarga meminta Presiden Joko Widodo bisa membantu membebaskan Nenah.

"Kami mohon kepada semua, sama Pak Presiden Bapak Jokowi kami mohon pertolongan," ucap Nung Arminah (41) kakak kandung Nenah saat ditemui detikcom di kediamannya, Kecamatan Kasokandel, Senin (24/5/2021).

Arminah sendiri mengaku sudah kebingungan meminta pertolongan agar adiknya itu bisa dibebaskan dari tuduhan pembunuhan. Bahkan menurut Arminah, keluarga sudah mengeluarkan banyak uang dan ditipu oleh oknum yang mengaku bisa menolong Nenah.

"Siapa yang mau menolong adik saya, saya sudah tertipu berkali-kali sama orang yang ngakunya mau menolong tapi tidak ada satupun yang menolong," ucap Arminah sembari mengeluarkan air mata.

"Kami meminjam uang kesana ke sini buat memulangkan adik saya tapi belum ada hasilnya," sambungnya.

Saat ini upaya pemulangan Nenah dari UEA sudah dilakukan sejumlah pihak, salah satunya dari Forum Perlindungan Migran Indonesia (FPMI).

Ketua FPMI Kabupaten Majalengka Muhammad Fauzy menjelaskan pihaknya telah mengirim surat ke pemerintah pusat untuk bisa segera membebaskan Nenah dari jeratan hukum di Dubai.

"Kita melakukan upaya dengan mengajukan pembelaan hukum dimana kita kirim surat ke BP2MI, DPR RI, KBRI Dubai dan Kemenlu, untuk kelakuan pembelaan. Kita yakin dia tidak membunuh. Semoga ini jadi perhatian dari pemerintah untuk bisa membebaskan Nenah," jelas Fauzy.

Dari upaya yang telah dilakukan kata Fauzy FPMI telah mendapat kabar jika akan dilakukan negosiasi untuk menukar jeratan hukum yang menjerat Nenah dengan diyat atau uang tebusan.

"Sudah ada tanggapan untuk dilakukan penggantian diyat untuk mengganti jeratan hukumnya. Insha Allah bisa bebas dari ancaman. Saat ini sedang upaya negoisasi kepada pihak korban dari India, untuk nominalnya belum diketahui," pungkas Fauzy.

(mso/mso)