Kronologi Pekerja Migran Asal Majalengka Terancam Hukuman Mati di Dubai

Bima Bagaskara - detikNews
Senin, 24 Mei 2021 16:59 WIB
Pekerja Migran asal Majalengka terancam hukuman mati di Dubai
Ayah Nenah saat menunjukkan foto anaknya (Foto: Bima Bagaskara)
Majalengka -

Nenah Arsinah (38) seorang pekerja migran asal Desa Ranjiwetan, Kecamatan Kasokandel, Kabupaten Majalengka terancam hukuman mati. Nenah dituduh telah melakukan pembunuhan di tempatnya bekerja di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).

Kasus tersebut berawal pada tahun 2014 lalu di mana saat itu Nenah yang telah bekerja menjadi asisten rumah tangga di rumah majikannya bernama Ahmed Mohamed Abdelrahman sejak tahun 2011, dituduh telah membunuh sopir berkebangsaan India.

Nung Arminah (41), kakak kandung Nenah, mengungkapkan peristiwa tuduhan pembunuhan itu terjadi setelah adiknya kembali ke Dubai usai cuti dan pulang kampung selama 10 hari. Saat itu, Nenah pulang kampung karena ibu kandungnya meninggal dunia

Namun tidak lama setelah kembali ke Dubai, Nenah memergoki anak dari majikannya bertengkar dengan sopir warga India tersebut. Baru pada besok harinya, Nenah dan temannya asal Filipina menemukan sopir itu dalam keadaan meninggal dunia.

"Sampai di sana adik saya dengar anak dari majikannya itu bertengkar dengan sopir. Kemudian besoknya pas ditengok sopir itu sudah meninggal, lehernya ada jeratan. Adik saya malah yang dituduh membunuh katanya ngasih racun ke makanan sopir, padahal dilihat nasinya masih utuh," kata Arminah saat ditemui detikcom di rumahnya, Senin (24/5/2021).

Masih kata Arminah, setelah dituduh Nenah diminta untuk menandatangani surat yang bertuliskan bahasa Arab dan diimingi akan diberi uang serta dijodohkan dengan tetangga majikannya itu.

Lantaran tidak bisa membaca tulisan Arab, Nenah dan temannya warga Filipina kemudian menandatangani surat tersebut. Namun setelah itu keduanya langsung ditangkap polisi.

"Kemudian adik saya disuruh tanda tangan surat yang isinya tulisan arab, katanya kalau tanda tangan mau dikasih uang banyak, mau dinikahkan sama tetangga disana," ucap Arminah.

"Ternyata bohong, dia (majikan) malah panggil polisi dan adik saya dibawa langsung dan disuruh ngaku. Padahal kata adik saya dia tidak melakukan itu," sambungnya.

Pengakuan tersebut Arminah dapat langsung dari Nenah yang sering menghubunginya melalui sambungan telepon. Kata Arminah, adiknya selalu menceritakan setiap kejadian di Dubai, termasuk kasus hukum yang menjeratnya kini.

Bahkan saat menelpon, Nenah mengaku sering mendapat perlakuan kasar oleh petugas di tempatnya ditahan. Nenah diketahui telah dipenjara sejak ditangkap tahun 2014 lalu.

"Dia sering telepon, katanya minta pulang sudah gakuat. Tiap hari Jumat dia dijemur, dicambuk 100 kali, tangan kakinya diborgol. Dia terakhir kali telepon itu setelah lebaran kemarin, alhamdulillahnya masih bisa komunikasi ke sini," ungkapnya.

Saat ini Arminah hanya bisa berdoa mengharapkan adiknya bisa pulang ke Majalengka dengan selamat. Ia pun yakin adiknya itu bukanlah pelaku dari pembunuhan tersebut.

"Adik saya disuruh ngaku terus tapi dia tidak mau ngaku karena tidak bersalah. Saya yakin adik saya memang tidak bersalah. Sekarang saya cuma bisa berharap pemerintah bisa membantu adik saya bisa pulang," pungkasnya.

Lihat juga Video: Covid-19 di 5 Provinsi Melonjak, Airlangga Singgung Pekerja Migran

[Gambas:Video 20detik]



(mud/mud)