Cerita Enah, Ibu Hamil Ditandu Melintasi Hutan Pandeglang

Rifat Alhamidi - detikNews
Selasa, 04 Mei 2021 16:24 WIB
Enah, ibu hamil yang ditandu melintasi hutan Pandeglang.
Foto: Enah, ibu hamil yang ditandu melintasi hutan Pandeglang (Rifat Alhamidi/detikcom).
Pandeglang -

Enah (39) masih belum bisa menyembunyikan raut muka sedihnya. Ia harus menerima kenyataan bahwa bayi kembarnya meninggal dunia meski sudah berjibaku melewati perjalanan menembus hutan sejauh 3 kilometer dengan ditandu menggunakan sarung.

Kepada detikcom, Enah mengaku sudah mengikhlaskan kondisi pahit tersebut. Walau sudah menunggu berbulan-bulan untuk kelahiran bayi kembarnya itu, namun takdir berkata lain. Bayi kembarnya dinyatakan sudah meninggal saat Enah tiba di puskesmas untuk menjalani proses persalinan.

"Sekarang saya hanya tabah saja. Kalau memang enggak selamat, yaudah enggak apa-apa, saya juga sudah ikhlas," kata Enah saat ditemui di rumahnya di Kampung Lebakgedong, Kecamatan Sukaresmi, Pandeglang, Banten, Selasa (4/5/2021).

Enah bercerita saat ditandu melewati hutan. Dia merasa was-was dan takut ada insiden yang bisa mengancam jiwanya. Pasalnya, saat itu Enah harus ditandu menggunakan sarung seadanya yang diikat ke sebatang bambu supaya bisa melewati jalur hutan tersebut.

"Ya takut, takut melahirkan di jalan, takut ada apa-apa yang mengancam jiwa saya sama bayi saya. Terus waktu dibawa itu kan sarungnya putus, saya buru-buru turun daripada jatuh ngegelinding," ungkapnya.

Setelah lega bisa melewati hutan, Enah harus dihadapkan dengan kenyataan lain. Bayi kembarnya yang berjenis kelamin laki-laki itu, tidak bisa diselamatkan saat melewati proses persalinan di puskesmas karena lahir dalam kondisi meninggal dunia dengan berat masing-masing 500 gram.

"Saya enggak dikasih tahu kalau bayinya kembar, soalnya hasil USG itu tunggal aja. Waktu itu dikasih tahu kelebihan air ketuban katanya harus segera dirujuk ke rumah sakit. Kalau kontrol, sebulan sekali sama bidan ke posyandu," ucapnya.

"Ini kelahiran yang ketiga, tapi baru pertama kali ditandu. Sebelumnya mah sama paraji lahirannya, bidan juga masih bisa ke sini lahiran di rumah juga enggak apa-apa waktu dulu," tambahnya.

Sebelumnya, Enah (39) kehilangan bayi lelaki kembar di Puskesmas Sindangresmi, Kabupaten Pandegkang, Banten. Perjuangan Enah tiba di puskesmas itu sangat menyedihkan.

Awalnya dia merasakan kontraksi hebat pada Jumat (30/4). Keluarga waswas, lalu melaporkan kondisi tersebut ke bidan desa, meski usai kehamilan Enah baru menginjak enam bulan.

Sejumlah warga yang tak tega melihat kondisi Enah, berinisiatif menginap sambil memonitor kondisi sang ibu. Saat itu Enah sudah mendapat pemeriksaan dari bidan dan sudah diarahkan agar penanganannya dirujuk ke rumah sakit.

Kekhawatiran warga ternyata tak meleset. Pada esok harinya, Sabtu (1/5), Enah kembali mengalami kontraksi. Sejumlah warga berkumpul dan langsung membawa Enah dengan cara ditandu melewati hutan menuju puskesmas.

(mso/mso)