Menyusuri Jalan Hutan yang Dilintasi Ibu Hamil Ditandu di Pandeglang

Rifat Alhamidi - detikNews
Selasa, 04 Mei 2021 03:36 WIB
Kondisi jalan hutan ibu yang ditandu menuju puskesmas di Pandeglang
Foto: Kondisi jalan hutan ibu yang ditandu menuju puskesmas di Pandeglang (Rifat Alhamidi/detikcom).
Pandeglang -

Enah (39) harus kehilangan bayi kembarnya sewaktu melahirkan. Sebelumnya, Enah berjibaku melewati perjalanan sejauh 3 kilometer menembus hutan di Pandeglang, Banten dengan ditandu menggunakan sarung karena minimnya akses menuju puskesmas. Lantas bagaimana sebetulnya akses jalan di sana?

detikcom mencoba menembus masuk hingga ke rumah Enah di Kampung Lebakgedong, Pandeglang, Banten, Senin (3/5/2021). Saat warga menandunya menuju ke puskesmas, Enah dibawa melalui jalur memotong supaya lebih dekat. Hanya saja, jalur ini merupakan kawasanan hutan yang dipenuhi oleh pohon karet dan sawit.

"Jadi, memang kalau mau lebih dekat jaraknya ya harus dibawa lewat situ. Kalau lewat jalan lain itu lebih jauh ditambah jalannya juga sama aja enggak ada yang bagus," kata Udin warga setempat saat ditemui wartawan di rumahnya, Pandeglang, Banten.

Untuk menempuh jalur hutan itu, dibutuhkan waktu setidaknya satu jam hingga tiba di rumah Enah. Selain harus berhati-hati saat berjalan, fisik yang prima juga dibutuhkan lantaran medan di jalur ini merupakan jalan setapak yang ditutupi hutan karet dan sawit yang didominasi jalur menanjak serta menurun.

Untungnya, saat melakukan perjalanan cuaca sedang tidak turun hujan. Hanya saja, masih terlihat tanah berlumpur bekas guyuran air hujan beberapa hari yang lalu. Karena kondisi tersebut, jalur di sana terkadang menjadi licin jika tidak berhati-hati saat melangkah.

Kondisi jalan hutan ibu yang ditandu menuju puskesmas di PandeglangKondisi jalan hutan ibu yang ditandu menuju puskesmas di Pandeglang Foto: Rifat Alhamidi

Sembari diantar oleh Udin, wartawan akhirnya tiba di rumah Enah. Udin diketahui merupakan salah satu tetangga Enah yang ikut menandunya menuju puskesmas melalui jalan setapak melewati hutan tersebut. Meski fisiknya sudah tidak muda lagi, Udin ternyata selalu menjadi andalan warga di lingkungannya jika ada hal darurat seperti ini.

"Biasanya saya yang nandu sampe ke bawah kalau ada warga yang mau melahirkan atau yang sakit parah, nanti dibantu sama temen satu lagi. Meskipun udah biasa, tapi kemarin sempet waswas. Si ibunya itu jatuh pas sarungnya robek, kang. Akhirnya Bismillah aja semoga ga ada apa-apa," ungkapnya.

Untuk menuju rumah Enah, sebetulnya ada 2 jalan alternatif yang bisa ditempuh warga menggunakan kendaraan. Namun, kedua jalur itu harus memutar dulu dan melewati desa tetangga sebelum bisa sampai ke puskesmas.

Jalur pertama bisa ditempuh dari arah barat. Kondisinya sudah lumayan dan bisa dilalui kendaraan roda empat. Namun karena masih berupa tanah berbatu, jalur ini akan menjadi lumpuh apalagi jika hujan deras mengguyur wilayah Kecamatan Sindangresmi pada hari itu.

"Kalau lewat sini, ini yang paling jauh muternya. Soalnya ngelewatin beberapa kampung, jarak tempuhnya juga jauh banget lewat sini mah," terang Udin.

Ada jalur lain yang lebih dekat yaitu melalui arah utara. Namun, kondisi jalannya lebih parah dari jalur yang lewat arah barat. Di jalan ini, bebatuannya lebih besar ditambah melewati daerah pesawahan yang airnya kerap meluap jika semalaman wilayah tersebut dilanda hujan deras.

Makanya, warga memilih untuk memotong jalur ke arah selatan yang bisa ditempuh lebih cepat. Meskipun jalurnya masuk ke kawasan hutan, namun untuk urusan darurat, warga memilih melewati jalur ini ketimbang harus memutar ke jalan yang lain.

"Akhirnya kan mending lewat sini kang. Karena lewat sini yang lebih dekat. Jalan yang lain juga enggak bagus-bagus amat, masih susah kalau dilalui sama mobil itu kang," pungkasnya.

(mso/mso)