Kakak Ipar Korban Cerita Kondisi Adik hingga Perdamaian dengan Habib Bahar

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Selasa, 04 Mei 2021 12:36 WIB
Sidang kasus penganiayaan Habib Bahar
Foto: Sidang kasus penganiayaan Habib Bahar (Dony Indra Ramadhan/detikcom).
Bandung -

Kakak ipar korban penganiayaan Habib Bahar bin Smith hadir dalam persidangan. Dia bercerita kondisi Andriansyah hingga upaya perdamaian.

Kakak ipar korban bernama Hendri Nafis itu dihadirkan kuasa hukum Bahar sebagai saksi meringankan dalam lanjutan sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Selasa (4/5/2021). Pria yang mengenakan kaos hitam itu dihadirkan dihadapan hakim dan penuntut umum.

Dalam kesaksiannya itu, Hendri bercerita awal mula mengetahui adiknya menjadi korban. Saat itu, dia di telepon langsung oleh Andriansyah untuk menjemput di Polsek.

"Pukul setengah dua belas (malam) sudah di Polsek. Telepon saya minta jemput pulang. Sekitar 20 menit (dari rumah). Ketemu dia, di telepon keadaan sadar, baik, cuma luka saja," ujar Hendri.

Hendri menuturkan secara fisik adik iparnya itu luka ringan di bagian kaki. Dia pun lantas membawa adik iparnya itu ke rumah sakit PMI di Bogor untuk mendapatkan pengobatan.

"Ya luka dikit, kayak jatuh. (Penyebabnya) saat itu nggak tahu. Sekarang tahu karena ada insiden malam itu. Kalau kronologi nggak tahu. Cerita aja dipukul, tapi nggak tahu siapa yang mukul," tutur dia.

Usai mendapatkan pengobatan, kata Hendri, dia pun lantas membawa Andriansyah pulang. Selang seepkan kemudian, kata dia, ada yang datang ke rumah perwakilan dari Habib Bahar bernama Eka.

Saat itu, kata Hendri, perwakilan habib Bahar tersebut berbicara mengenai perdamaian. Pihak keluarga pun menerima ajakan perdamaian itu.

"Ya namanya juga kita juga merasa kenapa tidak bisa damai kalau ada niat itu. Kalau ada niat baik. Akhirnya tahu dia (Bahar) ulama. Kenapa tidak? Sesama muslim kok. Itu prinsip kita. Ada kesepakatan karena habib mau bantu kompensasi keluarga berobat. Andri sejak sakit nggak narik dulu. Dikasih kompensasi," kata Hendri.

"Berapa lama nggak narik?," tanya hakim Surachmat.

"Hampir 10 hari," jawab Hendri.

Perdamaian tertulis itupun kemudian disepakati setahun setelahnya atau pada Oktober 2020. Perdamaian tertulis itu ditandatangani habib Bahar dan pengacaranya serta pihak keluarga korban.

Hakim pun menanyakan alasan perdamaian itu terjadi setahun. Menurut Hendri, saat itu atau sepekan setelah kejadian, perwakilan Bahar hanya berbicara sekaligus silaturahmi saja.

"Ya itu pertama datang seminggu pak Eka. Belum ada kesepakatan," kata Hendri.

"Kenapa nggak langsung dibuat perdamaian?," tanya hakim.

"Karena enggak tahu," jawab Hendri.

Singkat cerita surat perdamaian itupun dibuat. Hakim menanyakan proses perdamaian itu hingga uang kompensasi yang diberikan.

"Uang kompensasi? Sebesar Rp 25 juta?," tanya hakim.

"Sudah selesai," kata Hendri menjawab.

(dir/mso)